SURABAYA: 25-35 °C (Cerah, Berawan)
Jumat, 03/09/2010
Kurs USD 02/09/2010 17:06:38
jual: Rp 9.053,00 | Beli: Rp 8.963,00
Google suarasurabaya.net
userlogin:
Daftar Lupa Password?
Soerabaja Tempoe Doeloe

 

Viaduk Pahlawan
    Topik terbaru :
  • Pdam Oh Pdam... [detil]
  • Beking Resmi... [detil]
  • Reply terbaru :
  • Paling Tidak Perilaku Masyarakat Di Jalanan Yg Tidak Tertib Mengindikasikan Bahwa Di Kehidupan
    Sehari² Pun Mereka Juga Tidak Tertib, Maka Pabila Dulu Ada Seorang Perwira Polisi Di Kota Ini Yg
    Mengatak... [detil]
  • Sebaiknya Lain Kali Kalau Lagi Rapat Sekolah..bawa Digital Kamera Aja...ntar Di Publishkan Di
    Internet ..biar Pejabat Kita Pada Melek..inilah Pendidikan Indonesia Sesungguhnya... [detil]
  • Didik Untung Susadi, S.h., Sidoarjo By Pass Krian Rawan Maling, Ketika Saya Makan Di Pecel Madiun Di Ruko Lapangan Sidomulyo 100 Meter U... [detil]
  • Farah Rzi, Sby Menginformasikan Pada Pembaca Suarasurabaya.net, Insyaallah Di Sisa Ramadhan Ini Rumah Zakat Akan Me... [detil]

Kampoeng Media
Jelang Lebaran
SCG Bagi 50 Ribu Panduan Mudik Gratis Dalam rangka Lebaran tahun ini Surabaya City Guide (SCG) kembali bagi-bagikan paduan mudik gratis, tak kurang 50 ribu eksemplar dibagikan.
Sajian Kuliner
Ceker Ayam Mak Klenyerr... Kulit cekernya terasa lembut, bumbunya pun merasuk hingga ke tulang.
Resensi Buku
Suara Surabaya Bukan Radio Keberadaan SS sangat fenomenal. SS pada titik awal contoh sukses industri radio. Buku Suara Surabaya Bukan Radio menuliskan semangat perjalanan itu.

  Search
Google
 
 

Oase Ramadhan

02 September 2010, 13:16:40

Uswah - YDSF

Bagikan Semuanya Untuk Warga!

suarasurabaya.net| Pada suatu malam seorang utusan dari Azerbaijan (negeri antara Iran & Rusia, Red.) datang ke kota Madinah untuk menjumpai amirul mukminin Umar bin Khathhab r.a. Namun karena hari telah larut malam, ia putuskan untuk tidur di Masjid Nabawi agar keesokan harinya bisa segera menghadap Umar r.a. Ketika hendak tidur, ia di kejutkan oleh suara orang tengah menangis di keheningan malam, memohon kepada Allah.

“Ya Tuhanku, aku sedang bersimpuh di depan pintu-Mu. Apakah Engkau menerima tobatku supaya aku bisa mengucap selamat kepada diriku atau Engkau menolaknya supaya aku menyampaikan ungkapan duka cita kepada diriku?” Utusan dari Azerbaijan tersebut amat tertarik dengan kalimat-kalimat yang ia dengar. Perlahan ia mendekat dan bertanya, “Wahai saudaraku, jika aku boleh tahu siapakah dirimu?”

Di tengah keheningan dan gelapnya malam, orang tersebut menjawab, ”Aku Umar bin Khathab.” Utusan Azerbaijan terkejut bukan kepalang. Ia tidak menyangka bahwa yang dijumpainya malam hari itu adalah sang khalifah. Segera ia memperkenalkan diri kepada Umar.

“Semoga Allah merahmatimu,” kata Umar. “Aku takut bila tidur semalam suntuk akan menghilangkan diriku di hadapan Allah dan jika aku tidur sepanjang siang hari berarti menghilangkan diriku di hadapan rakyat,” tutur Umar.

Menolak Hadiah

Seusai shalat Subuh, Umar mengajak tamunya singgah ke rumah. Ia berkata kepada istrinya, “Wahai Ummu Kultsum, suguhkan makanan yang ada. Kita kedatangan tamu jauh dari Azerbaijan.”

“Kita tidak mempunyai makanan, kecuali roti dan garam,” jawab istri Umar.
“Tidak mengapa,” kata Umar. Akhirnya keduanya hanya makan roti dan garam.

Seusai makan, Umar bertanya apa maksud kedatangan utusan itu. “Gubernur Azerbaijan menyuruhku menyampaikan hadiah ini untuk Amirul mukminin,” kata utusan Azerbaijan sembari menunjukkan sebuah bungkusan. “Bukalah bungkusan itu, lihat apa isinya!” perintah Umar.

Setelah dibuka, ternyata berisi gula-gula. “Ini adalah gula-gula asli buatan Azerbaijan,” utusan itu menjelaskan.
“Apakah semua kaum muslimin mendapatkan kiriman gula-gula ini?” tanya Umar.

Utusan itu tertegun atas pertanyaan Umar, kemudian menjawab, “Oh tidak, Baginda… Gula-gula ini khusus untuk amirul mukminin.”

Mendengar jawaban itu, Umar tampak amat marah. Segera ia memerintahkan kepada utusan Azerbaijan untuk membawa gula-gula tersebut ke masjid dan membagi-bagikannya kepada fakir miskin.

“Barang ini haram masuk ke dalam perutku kecuali jika kaum muslimin memakannya juga,” kata Umar dengan marah, “Dan engkau cepatlah kembali ke Azerbaijan. Beritahukan kepada yang mengutusmu jika ia mengulangi peristiwa ini kembali, aku akan memecat dari jabatannya!” ancam Umar (dalam Tegar di Jalan Dakwah, subbab Tegar di Puncak Kekuasaan, Era Adicitra 2009, hlm 228-232).

Di kesempatan lain, Umar tengah meninjau unta-unta sedekah. Di antara kerumunan unta, ia melihat ada seekor unta gemuk yang berbeda dari unta-unta lainnya. “Milik siapakah ini?” tanyanya. “Ini milik putramu, Abdullah,” jawab seseorang.

Umar segera memanggil Abdullah ke tempat itu. “Berapa kau beli unta ini?” tanya Umar. Abdullah pun menyebutkan sejumlah harga tertentu. “Jika engkau menjual unta-untamu, kau hanya boleh menerima uang modalmu dan kelebihannya harus diberikan kepada Baitul Maal (kas negara, Red.),” ucap Umar.

Menjaga Perasaan Umat

“Mengapa demikian Ayah?” protes Abdullah. Umar menjawab, “Orang-orang mengatakan, ’Ini unta putra amirul mukminin, maka biarkanlah ia makan dan minum sepuas-puasnya. Jangan ada yang mengganggu.’ Jadi, engkau hanya berhak menerima harga pembeliannya saja, sedangkan kelebihannya diserahkan untuk Baitul Maal,” jawab Umar r.a. Mendengar penjelasan ini, Abdullah hanya bisa pasrah.

Umar berusaha menjaga perasaan dan sensitivitas rakyat terhadap keluarganya. Ia melihat di antara kerumunan unta yang biasa-biasa saja, terdapat seekor yang lebih gemuk dari lainnya. Ternyata itu adalah unta milik Abdullah bin Umar. Segera terbayang di benak Umar bahwa unta Abdullah bisa gemuk karena mendapatkan perlakuan istimewa dari masyarakat.

Apabila unta Abdullah bin Umar tengah makan, tidak akan diganggu oleh kerumunan unta lain milik masyarakat karena demi menghormati keluarga khalifah. Hal seperti inilah yang menyebabkan unta Abdullah lebih gemuk dibandingkan dengan unta milik orang lain. Dengan demikian, berarti unta Abdullah bisa gemuk karena ’fasilitas’ yang diberikan secara khusus oleh masyarakat.(oq/ydsf/ipg)

Share on Facebook


berita-beritalain

- arsip berita -

 
 

Home | Radio Online | Radio On Demand | Video Streaming | Kelana Kota | Politik | Ekonomi Bisnis | Olahraga | Info Teknologi |
Potret Kelana Kota | Peta Surabaya | Titik Nol | 25th Suara Surabaya | Oase Ramadhan | Opini | Konsultasi Kesehatan | SS Media | Faq | Kontak

 

© copyright suarasurabaya.net 2008, All Rights Reserved.