Resensi Buku
28 April 2010, 19:45:51| Laporan Iping Supingah
Suara Surabaya Bukan Radio
suarasurabaya.net| Oleh ARIFIN BH (Penulis Buku)
Judul : Suara Surabaya Bukan Radio
Penulis : Arifin BH
Penerbit_Distribusi : PT Radio Fiskaria Jaya Suara Surabaya
Tahun Terbit : 2010
Bulan Terbit : April
Edisi : I
ISBN : 978-979-19879-0-5
Halaman : 448
Kalau kita melihat radio sebagai institusi media massa, saya kira wajahnya jelas. Konsep yang klasik dimana pun berada, dia harus berfungsi sebagai penyampai informasi. Lalu berfungsi mendidik, sekaligus memberi hiburan. Dalam konstelasi semacam ini, jauh lebih menonjol peranan Radio Suara Surabaya (selanjutnya disebut SS) sebagai fungsi informasi.
Keberadaan SS sangat fenomenal. Saya kira dulu, ketika awal mula didirikan tahun 80-an masih dibatasi oleh situasi masa orde baru. Jelas pada waktu itu tidak boleh sama sekali menyinggung hal-hal yang berbau politik, apalagi berbau kekuasaan.
Pilihan SS mengambil fungsi informasi jauh lebih menonjol dari fungsi hiburan, karena terkadang fungsi informasi di dalamnya ada fungsi mendidik yang di kemudian hari kita sadari makin mengedepan.
Dari sini saya meletakkan SS pada titik awal sebuah contoh sukses industri radio di negeri ini. Buku “Suara Surabaya Bukan Radio” menuliskan semangat perjalanan itu.
Ketika banyak orang masih menikmati radio sebagai media hiburan, SS mulai dengan sebuah konsep radio berberita. SS konsisten menyajikan menu berita pada sajian utamanya, tanpa harus meninggalkan sama sekali fungsi hiburannya. Lagu pun tetap diputar, sekalipun kelas musiknya tentu beda dengan selera pada umumnya.
SS lalu “memonopoli” suasana. Ia menjelma menuju sebuah institusi yang dari fungsi awal informasi, menjadi lembaga yang mewadahi interaksi sosial sehari-hari dalam masyarakat. Apa saja tiba-tiba bisa tersiarkan lewat SS. Persoalan tetek bengek, apapun wujudnya meluncur cepat, melangkahi media lainnya. SS menjadi semacam institusi kebudayaan.
SS menampung interaksi itu. Dia menjadi medium yang mengantarai pikiran-pikiran, baik individu, kelompok masyarakat atau kepentingan masyarakat terhadap lembaga-lembaga lain. Kepentingan-kepentingan tersebut diambil oper oleh SS untuk didistribusikan, sekaligus melahirkan umpan balik. SS menjadi tumpuan harapan. SS penjaga ruang publik masyarakat.
SS ternyata dijauhi pemasang iklan, karena disamping harganya mahal, ia tak mudah diatur. Ini tak lazim. Waktu itu radio mudah diatur agensi periklanan, asalkan sanggup memenuhi selera pasar. Sekalipun tawaran iklan sponsor sandiwara radio datang berduyun-duyun, SS bergeming pada posisinya. Sulitnya mendapatkan iklan menyebabkan gaji karyawan sempat tersendat, hingga pada akhirnya biro iklan bertekuk lutut. Mereka harus beriklan karena desakan para klien biro itu sendiri (hal 76). Sekarang pemasang iklan SS harus rela antri.
Perkembangan teknologi juga mengiringi perjalanan SS. Konvergensi radio dengan internet menjadi sebuah keniscayaan. SS tercatat media yang merambah dunia internet, tahun 1999 meluncurkan web portal www.suarasurabaya.net. Dari sini lahir radio online dan radio on demand yang membebaskan radio dari segala keterikatan waktu. Radio ini bisa diakses kapan saja, dimana saja. Terakhir SS juga membuka akun facebook E100 yang memungkinkan pendengarnya berbagi informasi setiap waktu tanpa harus capek antri menelepon ke redaksi.
Cukupkah? Belum! SS terlibat berbagai kegiatan sosial. Mulai ikut terlibat perencanaan taman-taman kota, mendorong terwujudnya peraturan daerah terkait kawasan tanpa rokok dan kawasan terbatas merokok di Surabaya, hingga membuka dompet pengumpulan dana untuk korban tsunami Aceh dan korban bencana alam lainnya (halaman 309 dan 315).
Bagi kalangan pelajar dan mahasisiswa, SS jadi tempat penelitian membuat skripsi. Lucunya, SS diminati mahasiswa berbagai jurusan selain studi komunikasi. Ada penelitian soal efek tata letak lampu (arsitek). Ada pula soal pengaruh stres terhadap lalu lintas telepon di ruang siaran (psikologi).
Dan akhirnya SS juga jadi bahan perbincangan yang enak bagi pendengarnya dari berbagai kalangan sebagaimana ditulis pada Bab IX: Mereka Bicara SS.
Itulah makanya buku Suara Surabaya Bukan Radio layak dibaca!
(arf/ipg)
Buku "Suara Surabaya Bukan Radio" bisa diperoleh di Toko Buku Gramedia, Gunung Agung, dan Togamas.
Artikel terkait Suara Surabaya Bukan Radio:
Berita terkait : 1. Kisah Radio Sukses