Kamis, 12 Maret 2026

Kemenperin: Industri Agro Masih Jadi Penopang Ekonomi, Investasi Capai Rp191 Triliun

Laporan oleh Muchlis Fadjarudin
Bagikan
Merrijantij Punguan Pintaria Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar di Kementerian Perindustrian dalam diskusi Dialektika Demokrasi bertema “Strategi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen” di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (12/3/2026). Foto: Faiz Fadjarudin suarasurabaya.net

Sektor industri agro dinilai masih menjadi salah satu pilar penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, termasuk untuk mencapai target pertumbuhan hingga 8 persen.

Pemerintah menilai sektor ini memiliki kontribusi besar terhadap perdagangan, investasi, serta penyerapan tenaga kerja.

Hal tersebut disampaikan Merrijantij Punguan Pintaria Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar di Kementerian Perindustrian dalam diskusi Dialektika Demokrasi bertema “Strategi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen” di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (12/3/2026).

Menurut Merrijantij, kinerja industri agro masih relatif kuat meskipun menghadapi tekanan dari kondisi ekonomi global. Pada 2025, sektor ini mencatat pertumbuhan sebesar 4,95 persen, sedikit lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 5,20 persen.

“Kondisi ekonomi global turut memengaruhi permintaan dan rantai pasok industri sehingga pertumbuhannya sedikit melambat,” kata Merrijantij.

Meski demikian, kontribusi sektor agro terhadap perekonomian nasional tetap signifikan. Sepanjang 2025, neraca perdagangan industri agro mencatat surplus sebesar 57,54 miliar dolar AS, bahkan melampaui surplus industri pengolahan nonmigas secara keseluruhan yang mencapai 37,86 miliar dolar AS.

“Industri agro memberikan kontribusi sebesar 52,09 persen terhadap total industri pengolahan nonmigas,” ujarnya.

Dari sisi investasi, sektor ini juga menunjukkan daya tarik yang tinggi bagi investor. Sepanjang tahun lalu, nilai investasi industri agro tercatat mencapai Rp191,73 triliun atau sekitar 35,84 persen dari total investasi sektor industri pengolahan.

Rinciannya terdiri dari penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp91 triliun dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) sekitar Rp100 triliun.

Selain kontribusi terhadap devisa dan investasi, sektor industri agro juga memiliki peran besar dalam penyerapan tenaga kerja. Saat ini industri agro diperkirakan menyerap sekitar 10 juta tenaga kerja secara langsung di berbagai subsektor.

Namun demikian, pemerintah menilai potensi pengembangan sektor ini masih sangat besar. Tingkat utilisasi atau kapasitas produksi industri agro baru mencapai sekitar 57,28 persen.

“Artinya masih terdapat ruang yang cukup besar untuk meningkatkan produksi guna memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun ekspor,” jelas Merrijantij.

Ia juga menyebut indikator optimisme industri masih terlihat dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) atau PMI manufaktur yang dirilis Kemenperin. Pada Februari 2026, indeks tersebut masih berada di atas angka 50 yang menandakan sektor industri berada dalam fase ekspansi.

Indonesia sendiri dinilai memiliki sejumlah keunggulan struktural untuk memperkuat industri agro, seperti ketersediaan sumber daya alam yang melimpah serta pasar domestik yang besar.

Komoditas seperti kelapa sawit, kelapa, rumput laut, kopi, rempah-rempah hingga produk perikanan memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk bernilai tambah di dalam negeri.

“Dengan populasi lebih dari 260 juta jiwa, pasar domestik Indonesia sangat besar dan menjadi peluang penting bagi pengembangan industri berbasis bahan baku lokal,” katanya.

Pemerintah juga mendorong sejumlah kebijakan strategis untuk memperkuat sektor ini, termasuk program biodiesel B50 yang bertujuan meningkatkan pemanfaatan komoditas domestik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasar ekspor.

Selain itu, meningkatnya kesadaran konsumen terhadap kualitas produk dan sertifikasi halal dinilai menjadi peluang tambahan bagi produk agro Indonesia untuk memperluas pasar.

Di sisi lain, Merrijantij mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi industri agro nasional. Salah satunya adalah ketergantungan terhadap impor bahan baku tertentu seperti kakao, kopi, dan kedelai.

Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena pertumbuhan sektor industri tidak selalu diimbangi oleh peningkatan produksi di sektor pertanian.

Tantangan lain adalah keterbatasan teknologi, inovasi, serta tingginya biaya produksi seperti energi, air, logistik, dan bahan baku impor yang membuat harga produk domestik kurang kompetitif.

“Akibatnya daya saing produk dalam negeri di pasar global masih menghadapi tekanan,” ujarnya.

Selain itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia juga menjadi perhatian penting, terutama dalam menghadapi transformasi teknologi di sektor industri.

Karena itu, Merrijantij menekankan perlunya kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, serta masyarakat untuk memperkuat sektor industri agro ke depan.

“Dengan penguatan produksi bahan baku domestik, inovasi teknologi, efisiensi biaya produksi, dan peningkatan kualitas SDM, industri agro diharapkan tetap menjadi penggerak utama perekonomian nasional sekaligus mendukung target pertumbuhan ekonomi 8 persen,” pungkasnya.(faz/ham)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Kamis, 12 Maret 2026
28o
Kurs