SS TODAY

Maraknya Batik Printing, Edukasi Tentang Batik Tetap Harus Dilakukan

Laporan J. Totok Sumarno | Selasa, 02 Oktober 2018 | 15:23 WIB
Sebuah acara diskusi membeda batik di galeri house of Sampoerna beberapa waktu lalu. Foto: Totok/Dok. suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Semakin murah dan maraknya batik printing atau kain dengan printing motof batik beredar ditengah masyarakat, mengharuskan masyarakat lebih teliti sekaligus memahami bagaimana batik yang sesungguhnya.

Lintu Tulistyantoro pemerhati batik sekaligus anggota Komunitas Batik Surabaya (Kibass) dan Jawa Timur, Selasa (2/10/2018) mengingatkan bahwa edukasi tentang bagaimana batik yang sebenarnya tetap harus dilakukan pada masyarakat.

"Agar masyarakat tahu bahwa batik berbeda dengan batik printing, perlu terus menerus dilakukan edukasi dengan berbagai cara. Karena batik sejatinya bukan sekedar kain tetapi juga meliputi proses pembuatannya. Hal lain yang lebih penting adalah memberikan peahaman tentang perbedaan batik printing dengan batik asli," terang Lintu Tulistyantoro.

Batik lanjut Lintu meliputi proses pembuatan batik yang di dalamnya butuh waktu serta pengalaman dan pengetahuan tentang pewarnaan dan pelorotan malam, serta pernik lainnya dalam rangka menghasilkan selembar kain yang disebut batik.

Sedangkan batik printing, kata Lintu merupakan hasil sebuah industri kain yang memilih menggunakan motif batik untuk melengkapi selembar kain sesuai dengan kebutuhan yang dimaksud.

"Kami tidak anti batik printing. Justru kami memahami bahwa batik printing memberikan banyak kemudahan bagi masyarakat yang ingin ikut melestarikan keberadaan batik. Sayangnya di pasar tidak demikian adanya. Industri justru membuat masyarakat terperdaya oleh batik itu sendiri," ujar Lintu.

Batik printing jelas lebih murah dibandingkan dengan batik tulis. Tetapi yang banyak beredar di masyarakat adalah batik printing.

"Kalau perhitungannya harga, batik cap masih lebih murah dibandingkan yang asli. Tapi masyarakat kebih memilih batik printing. Ini masalahnya. Dilematis dan membuat sedih kami," ujar Lintu.

Bagi Lintu peran pemerintah pada persoalan ini memang wajib dilibatkan. Agar pengusaha kain, industri batik benar-benar mendapatkan kejelasan dari masing-masing produk yang dihasilkan.

"Edukasi masih perlu untuk masyarakat dalam rangka memberikan pemahaman tentang batik. Generasi muda juga wajib memahami bagaimana sejatinya batik dibuat. Ini adalah peninggalan budaya yang perlu dihargai dan dilestarikan bangsa ini sendiri," pungkas Lintu Tulistyantoro yang juga Dosen Desain Iterior di Universitas Kristen Petra Surabaya.(tok/ipg)
Editor: Iping Supingah