SS TODAY

Batik Teyeng, Batik Eksperimental Hasilkan Motif Alami

Laporan Agung Hari Baskoro | Selasa, 02 Oktober 2018 | 18:18 WIB
Firman pembuat Batik Teyeng Surabaya. Foto: Baskoro suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Berawal dari cerita sesama pembatik yang mengeluh karena batik-batik mereka terkena noda karat besi ketika dijemur, Firman Asyhari akhirnya tercetus ide untuk membuat batik unik bernama Batik Teyeng Surabaya. Firman sengaja menabur serbuk besi di kain mori basah untuk membuat motif teyeng alami. Dari eksperimen itu, Firman akhirnya menemukan keindahan batik yang otentik.

Sebelum menemukan karyanya sendiri, Firman telah belajar membatik pada tahun 2012 dengan desainer batik Surabaya. Kemudian dia mulai mengenalkan merek batiknya pada Oktober 2013 di House of Sampoerna, Surabaya.

Kain mori yang telah diberi motif-motif teyeng, kemudian baru dilukis menggunakan canting sesuai motif yang dipilih.

"Motif batiknya kita ada yang ngarang sendiri. Kita coba cari filosofinya. Ada motif kembang sapu. Filosofinya itu , teyeng itu kan kotoran, itu mungkin kan dosa kita, salah kita. Tapi bisa jadi indah pada akhirnya," kata Firman.


Batik Teyeng karya Firman. Foto: Baskoro suarasurabaya.net

Batik Teyeng karya Firman saat ini telah melanglang hingga ke mancanegara. Untuk keluar negeri, dia menggandeng beberapa desainer untuk membuat karyanya populer di luar negeri, yaitu Dibya Hodi dam Embran Nawawi.

Dibya membawa karyanya hingga ke Myanmar dan Embran ke Vietnam. Batik Teyengnya juga pernah mendarat di Swiss lewat Sampoerna sebagai suvenir syal.

Untuk satu lembar Batik Teyeng, Firman menjualnya dengan rata-rata harga Rp150.000. Namun, ia menyebut, pernah dia menjual paling mahal seharga Rp2 Juta untuk satu lembarnya.

Dalam sebulan, dia bisa mendapat omzet sekitar Rp5 Juta hingga Rp6 Juta. Ketika ramai, dia bisa menghasilkan Rp12 Juta. Firman mengaku, saat membuka usaha di tahun 2013, dia hanya mengeluarkan modal awal Rp. 1 juta.

Ditanya terkait harapannya di Hari Batik Nasional yang jatuh pada 2 Oktober, dia menginginkan pemerintah lebih berkomitmen untuk menghidupkan batik.

"Kita tidak cukup hanya didukung secara teknis, tapi juga pembelian. Instansi pemerintah bisa membeli batik dari produk lokal," katanya.

Firman juga memberi pesan, bahwa batik adalah warisan nenek moyang.

"Kalau mau dipertahankan, (kita,red) sebagai pewaris, minimal membeli batik. Batik yang tulis ya. Minimal yang cap. Jangan yang printing karena itu bukan batik," katanya. (bas/dim/ipg)
Editor: Iping Supingah