SS TODAY

Pembatik Muda: Ingin Lebih Banyak Generasi Muda yang Lestarikan Batik

Laporan Agung Hari Baskoro | Selasa, 02 Oktober 2018 | 20:23 WIB
Eka Sumarlin, anak Muda berumur 22 tahun yang memilih menekuni batik. Foto: Istimewa
suarasurabaya.net - Lulus dari Jurusan Tekstil di salah satu SMK Negeri di Surabaya, anak muda ini memilih untuk menggeluti dunia batik yang sering dianggap jauh dari dunia anak muda.

Dia adalah Eka Sumarlin, anak Muda berumur 22 tahun yang memilih menekuni batik sebagai jalan hidupnya. Sejak 2015, dia mengembangkan batik yang menggunakan teknis pewarnaan menggunakan kuas lukis untuk menghasilkan gradasi.

"Canting (digunakan, red) untuk pola, pewarnaan menggunakan kuas lukis," kata Sumarlin.

Saat ini, dia telah memiliki usaha kecil di bidang batik dengan merek Batik Trubus di daerah Tambaksari, Surabaya. Dengan tiga temannya yang juga seumuran dengannya, dia sedang dalam proses untuk mengajukan paten.

Selain mengajukan paten, mereka juga menyebut batik printing sebagai tantangan tersendiri. Dia menyebut, batik printing bukanlah batik.

"Itu kain tekstil bermotif batik. Itu tantangan kita untuk gimana caranya tetap fight di batik tulis atau cetak," katanya.

Produk Batik karya anak muda Surabaya ini telah dikirim ke beberapa daerah di Indonesia, seperti Kalimantan, Jakarta, dan Bali. Dengan produksi sekitar 20 lembar perbulan, dia bisa mendapat omzet rata-rata Rp2 juta hingga Rp5 juta.

Sebagai generasi muda yang menggeluti batik, di Hari Batik Nasional yang dirayakan pada 2 Oktober, dia ingin agar lebih banyak lagi generasi muda yang menekuni batik. Dia menyebut, tujuannya untuk pelestarian.

"Karena generasi muda adalah generasi penerus bangsa. Kalau bukan kita, siapa yang akan meneruskan? kita harus berpikir untuk 50 hingga 70 tahun ke depan, apakah batik akan tetap ada di Indonesia?" katanya. (Bas/dim/ipg)
Editor: Iping Supingah