SS TODAY

Penyandang CP Surabaya Buktikan Kemampuan Lewat Membatik

Laporan Agung Hari Baskoro | Minggu, 07 Oktober 2018 | 10:36 WIB
Para peserta sedang menggambar motif batik di atas payung, Minggu (7/10/2018). Foto Baskoro suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Ratusan Penyandang Cerebral Palsy (CP) membatik bersama di Taman Flora Manyar, Surabaya, Minggu (7/10/2018). Acara ini gelar sebagai perayaan bulan Cerebral Palsy Sedunia sekaligus Hari Batik Nasional yang diadakan Yayasan Peduli Cerebral Palsy dan Beberapa Komunitas lain di Surabaya.

Diah Koordinator Cerebral Palsy Day menyebut, tema batik sengaja diangkat karena bertepatan dengan bulan batik nasional.

"Budaya batik adalah budaya mereka. Mereka mengenal, mereka belajar, dan kita kasih kesempatan pada mereka bahwa mereka mampu," kata Diah.

Dalam acara ini, sebanyak 750 siswa penyandang CP dari 52 sekolah inklusi se-Surabaya dan beberapa komunitas peduli ABK dan pusat pemberdayaan ABK turut hadir.

Diah berharap, dengan para penyandang CP membatik, biarpun mereka memiliki keterbatasan, tetapi mereka akhirnya bisa mengenal budaya mereka.

Ada 4 kategori lomba dalam acara ini, yaitu menggambar motif batik di atas payung yang diikuti per dua anak, membuat damar kurung yang diikuti per empat anak, mewarnai kipas, dan membatik menggunakan canting per tiga anak.


Seorang peserta bersama peralatan menggambar batik menggunakan canting. Foto: Baskoro suarasurabaya.net

Acara secara resmi dibuka secara simbolis oleh Anne Avantie Desainer Batik Kenamaan. Dalam lomba ini juga ada empat piala yang bisa dimenangkan oleh para siswa di masing-masing kategori lomba.

Erni salah seorang guru dari SDN Tanah Kali Kedinding 1 Surabaya yang ikut dalam acara menyebut, ia sengaja mengajak 15 muridnya untuk berpartisipasi dan merasa senang bisa bermain dengan teman-teman lain.

"Harapannya anak-anak lebih kreatif lagi," kata Erni.

Sebagai informasi, Cerebral Palsy (CP) adalah suatu kondisi seseorang mengalami gangguan motorik akibat gangguan di otaknya. Jenis gangguan motorik ini ditentukan oleh kerusakan yang dialami pada bagian otak manusia.(bas/tin/rst)
Editor: Restu Indah