SS TODAY

Surabaya Harus Bersiap Hadapi Potensi Gempa 6.5 SR

Laporan Agung Hari Baskoro | Sabtu, 27 Oktober 2018 | 14:32 WIB
Amien Widodo Pakar Geologi ITS menjelaskan tentang potensi gempa Surabaya di Lab. Geologi ITS, Sabtu (27/10/2018). Foto: Baskoro suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Pascagempa yang menimpa wilayah Situbondo dan beberapa wilayah di Jawa Timur pada 11 Oktober 2018, Amien Widodo pakar geologi ITS menyebut, Kota Surabaya harus segera bersiap dengan potensi gempa yang sewaktu-waktu bisa terjadi.

Surabaya sendiri sudah pernah mengalami gempa sebanyak dua kali pada 1867 dan 1953. Pada gempa ditahun 1867, Surabaya terguncang dahsyat dan hampir semua wilayah Pulau Jawa juga mengalami hal serupa.

"Kan ada bangunan gereja yang direhab total di Kepanjen, Krembangan (Surabaya, red)," kata Amien menjelaskan salah satu dampak gempa di tahun 1867 pada diskusi yang digelar di ITS pada Sabtu (27/10/2018).

Namun, Amien melihat dengan adanya potensi gempa Surabaya yang mencapai 6,5 SR, kesadaran dan kesiapan warga Surabaya terhadap bencana sangat rendah.

Ia pernah membuat survei pasca gempa di Situbondo yang juga terasa di Surabaya. Hasilnya, 70 persen didominasi orang yang tidak merasa adanya gempa, 20 persen terbangun kemudian lari dan lupa dengan keluarga, serta 10 persen terbangun dan merasa pusing dan tidak melakukan apapun.

Hal ini membuktikan, warga Surabaya tidak terbiasa dengan gempa sehingga kebingungan saat terjadi bencana. Padahal, ia menyebut, pemahaman pada gempa adalah hal pertama yang harus dipahami masyarakat.

"Gempa tidak membunuh, yang membunuh adalah bangunan roboh, faktornya kualitas bangunan, jenis tanah dibawahnya dan kepedulian penggunanya," katanya.

Saat ini, Pemkot Surabaya melalui Bappeko bekerja sama dengan ITS mulai memetakan kawasan rawan Gempa di Surabaya. Rencananya pada November 2018 sudah dirampungkan.

Ia menegaskan kembali, gempa adalah bencana yang tidak bisa diprediksi sehingga bisa datang kapan saja. Seperti pada tragedi gempa Aceh 2004 lalu. Pada tanggal 26 Desember 2004, gempa sudah tercatat 9 SR. Padahal, satu hari sebelumnya masih normal.

Ia berharap, masyarakat bisa paham harus melakukan apa ketika gempa sehingga bisa menyelamatkan diri dan lingkungannya. Ia juga berharap, struktur bangunan di Surabaya mulai disesuaikan untuk menghadapi gempa.

Sekadar diketahui, berdasarkan penelitian kementerian PUPR yang dibuat pada akhir 2017, Surabaya memiliki dua sesar aktif yakni Sesar Waru dan Sesar Surabaya. Sesar Waru membentang mulai dari bukit di kawasan Karang Pilang sampai ke Sidoarjo, Jombang, dan Nganjuk. Sedangkan Sesar Surabaya membentang mulai perbatasan Jalan Mayjen Sungkono-Margomulyo sampai Cerme Gresik. (bas/tin/bid)
Editor: Zumrotul Abidin