SS TODAY

Revitalisasi Kota Tua Surabaya Tak Cukup Sebatas Penataan Fisik

Laporan Agung Hari Baskoro | Minggu, 06 Januari 2019 | 12:27 WIB
Pengecatan Pasar Ikan di Jalan Panggung, Minggu (6/1/2018). Foto: Baskoro suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Revitalisasi Kawasan Kota Tua di Surabaya tak bisa hanya dilakukan sebatas penataan fisik saja. Ini dikatakan oleh Nanang Purwono Perwakilan Forum Begandring Surabaya.

Mewakili forum yang menaungi berbagai komunitas pecinta sejarah dan budaya, Nanang mengatakan, revitalisasi harus memikirkan keberlanjutan kegiatan untuk mengisi fisik yang sudah ditata.

"Misal, setiap minggu ada Car Free Day yang berbeda dari Darmo dan tempat lain. Karena ini sifatnya historical atau tempo dulu. Jadi harus ada icon tersendiri agar menjadi keunikan di Kota Tua," ujarnya ketika ditemui di Jalan Karet, Surabaya pada Minggu (6/1/2019).

Selain acara mingguan, ia juga menyarankan, Kota Tua memiliki semacam festival bulanan. Ia mencontohkan, jika di Pecinan, Festival Padhang Bulan yang ikonik dari pecinan bisa menjadi pilihan.

Ia juga mengatakan, Pemerintah Kota Surabaya diharapkan bisa menampung berbagai kreatifitas yang menunjang kesemarakan Kota Tua, seperti permainan-permainan tempo dulu yang bisa dibangkitkan lagi di Kota Tua.

Tak hanya itu, Kota Tua harus mampu menjadi rujukan kuliner di Surabaya sesuai kekhasan masing-masing kampung di Kota Tua.

"Misal karet ini kan pecinan, jadi ada kudapan atau makanan yang khas pecinan. Di tempat inilah, nanti jadi jujukan buat siapapun yang menikmati masakan pecinan ya di tempat ini," katanya.

Selain itu, Pemerintah Kota Surabaya juga harus mampu menarik pengunjung di hari-hari biasa. Membuat cafe atau toko souvenir di Kota Tua bisa menjadi pilihan. Selain itu, masing-masing bangunan bersejarah harus dilengkapi dengan informasi mengenai sejarah bangunan tersebut sebagai media edukasi.

"Ada informasi berupa media pembelajaran agar orang juga tau sejarahnya. Papan cerita yang dkemas seindah mungkin untuk menceritakan latar belakang bangunan," kata Nanang. (bas/rst)
Editor: Restu Indah