SS TODAY

Simpang Gedangan Sangat Kritis, Flyover Satu-satunya Solusi

Laporan Denza Perdana | Rabu, 06 Maret 2019 | 07:51 WIB
Polisi sedang mengatur arus lalu lintas di kawasan simpang empat Gedangan, Sidoarjo. Foto: Istimewa
suarasurabaya.net - Bahkan pada pukul 19.30 WIB, Selasa (5/3/2019) malam, butuh dua kali traffic light menyala merah untuk lolos dari padatnya kendaraan di kawasan simpang empat Gedangan di Jalur Surabaya menuju Sidoarjo.

Untung saja saat itu hujan. Tensi darah dan suhu tubuh, yang biasanya meningkat ketika terjebak kemacetan, otomatis teredam oleh dinginnya malam.

Apes bagi mereka, para bikers yang setiap hari menempuh perjalanan antar kota, dari rumah ke kantor, pergi-pulang Surabaya-Sidoarjo atau sebaliknya, bila malam itu tidak memakai jas hujan dan sedang berkendara sendirian.

Masalahnya selalu sama, terjadi hampir setiap jam setiap harinya, antrean di simpang empat Gedangan jalur Surabaya-Sidoarjo terjadi karena kendaraan dari arah Surabaya (utara) menuju Sukodono (barat) harus berhenti menunggu giliran.

Para pengendara yang menempuh jalur ini sejatinya memang tak pernah mendapat ruang di jalan itu. Dianaktirikan oleh rekayasa lalu lintas yang diterapkan di simpang itu. Dan mereka harus siap menjadi sasaran klakson dan umpatan.

Saat menyala hijau, lampu pengatur lalu lintas (traffic light) di jalur utara ke selatan memang hanya memfasilitasi ruang gerak bagi kendaraan untuk jalur itu saja. Traffic light tidak memfasilitasi kendaraan yang hendak ke barat.

Maka kendaraan yang mau ke barat terpaksa menunggu giliran traffic light untuk kendaraan dari timur menyala hijau. Apes bagi kendaraan lain yang terjebak di belakang kendaraan itu, mereka terpaksa ikut-ikutan menunggu, lalu kena lampu merah lagi.

Demikianlah kira-kira suasana yang terjadi Selasa malam. Kalau Anda belum pernah lewat simpang empat Gedangan, cobalah lewat simpang ini pada hari kerja, antara pukul 06.00 WIB-pukul 09.00 WIB atau pukul 16.00 WIB-pukul 19.00 WIB.

Barangkali Anda seorang musisi, mungkin Anda bisa menyusun bunyi klakson dari berbagai arah menjadi sebuah simfoni nada ketika kendaraan-kendaraan itu saling bertemu. Dari kendaraan yang terjebak di belakang kendaraan yang mau ke barat, atau dari kendaraan yang mau ke utara.

Peluit Pak Polisi mungkin akan menjadi refrain atau bagian pendek yang perlu anda ulang-ulang untuk menambah harmonisasi komposisi klakson yang sedang Anda susun dari simpang empat Gedangan.

Simpang empat Gedangan sudah sangat kritis. Itulah yang disampaikan Dadang Supriyatno Akademisi Teknik Sipil Universitas Negeri Surabaya (Unesa) berdasarkan hasil kajian rekayasa lalu lintas yang dia lakukan dua atau tiga tahun silam.

Saat itu, dia menghitung level of service (LOS) atau tingkat pelayanan jalan sebagai indikator kemacetan di Simpang Gedangan. Nilai LOS yang dia dapatkan dari hasil perbandingan volume kendaraan per jam dengan kapasitas jalan di simpang itu adalah 0,9.

Sebagai perbandingan, nilai LOS 0,6 untuk sebuah jalan atau simpang jalan, sebagaimana buku panduan manual kapasitas jalan (MKJI) tahun 1991, dapat dikategorikan sebagai jalan level A: arus bebas, volume kendaraan rendah, sehingga pengemudi bisa memilih kecepatan yang diinginkan.

Nilai 0,9 terkategori di level E, yang mana arus jalan itu tidak stabil, kecepatan kendaraan rendah dan berbeda-beda akibat volume kendaraan yang mendekati kapasitas maksimal sebuah jalan. Perlu diingat, hasil kajian itu dua atau tiga tahun lalu.

"Simpang Gedangan sudah sangat kritis. Sebuah jalan dikatakan memiliki level of service bagus kalau nilainya di bawah 0,8. Harus segera ada solusi," kata Dadang ketika dihubungi suarasurabaya.net melalui sambungan telepon.

Salah satu solusi yang dia dapatkan dari kajian yang telah lalu itu, dan sudah dia presentasikan kepada Pemerintah dalam beberapa kesempatan, yakni mengubah rekayasa traffic light di simpang Gedangan.

Kenyataan yang harus diterima pengendara dari utara mau ke barat, bahwa mereka tidak mendapat tempat dan tidak jarang menjadi sasaran klakson atau umpatan, karena rekayasa yang diterapkan di simpang itu hanya dua fase.

Solusinya, kata Dadang, penerapan empat fase. Dengan demikian traffic light akan memberi kesempatan bagi kendaraan dari utara ke barat (Surabaya-Sukodono) melaju tanpa harus berhadapan dengan kendaraan dari selatan ke utara (Sidoarjo-Surabaya).

Masalahnya, lebar jalan di simpang empat Gedangan itu harus cukup lebar untuk memberikan ruang bagi kendaraan di jalur utara-barat. Sehingga ketika mereka menunggu traffic light menyala hijau, kendaraan yang mau ke Sidoarjo tidak terganggu.

Bahu jalan di jalur Surabaya-Sidoarjo itu sudah mentok. Pelebaran sudah tidak mungkin dilakukan karena ada bangunan toko dan ruko di sepanjang jalan itu. Keberadaan toko dan ruko-ruko ini ternyata berkontribusi mengakibatkan kepadatan kendaraan.

Pagi atau siang, kendaraan pengangkut barang terpaksa menepi di bahu jalan ketika membongkar muatan. Ya, kendaraan-kendaraan itu menepi di depan toko atau ruko karena harus menurunkan barang seperti peralatan rumah tangga maupun produk elektronik.

"Padahal itu Jalan Nasional. Land use (pemanfaatan lahan/bangunan) di situ banyak menyebabkan hambatan samping. Jalan nasional sebenarnya tidak boleh ada (kendaraan) yang on street (menepi di bahu jalan,red)," katanya.

Pada akhirnya, pemerintah pusat yang mewenangi jalan nasional tidak memilih opsi rekayasa empat fase, seperti yang ditawarkan Dadang. Solusi yang muncul, rekayasa infrastruktur berupa flyover (jalan layang).

Kabarnya, studi kelayakan pembangunan flyover ini sudah dilakukan. Tinggal menunggu koordinasi pemerintah pusat sebagai pemilik anggaran dan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) VIII sebagai pelaksana pembangunan flyover itu.

"Ya, kalau pada akhirnya rekayasa simpang tidak bisa dilakukan dan pelebaran jalan sudah mentok, tidak bisa diperlebar lagi, satu-satunya cara mengurai kemacetan di Simpang Gedangan ini memang hanya flyover," katanya.

Saat Dadang terlibat dalam tim kajian rekayasa lalu lintas Simpang Gedangan dua atau tiga tahun silam, wacana pembangunan flyover ini sudah muncul. Sekarang dia tidak termasuk tim, karenanya dia mengaku tidak tahu bagaimana perkembangannya.

Hanya saja, dia menjelaskan, dengan adanya flyover, banyak masalah di simpang empat Gedangan yang akan teratasi. Salah satunya, tentu saja para pengendara dari Surabaya yang mau ke Sukodono tidak perlu lagi menjadi anak tiri.

Selain itu, pemerintah juga tidak perlu lagi pusing dengan pelebaran jalan atau rekayasa lalu lintas. Karena dengan kondisi existing (yang ada sekarang), bila flyover itu sudah beroperasi, nilai level of service secara otomatis menurun.

"Pembangunan flyover itu saya kira harus disegerakan. Masih ada Simpang Seruni yang perlu solusi. Sidoarjo sekarang sudah mulai dikenal kota dengan lalu lintas yang ruwet. Jangan sampai investor meninggalkan Sidoarjo karena alasan ini," kata Dadang yang juga Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Kabupaten Sidoarjo.(den/edy)
Editor: Eddy Prastyo