SS TODAY

Flyover Gedangan Mampu Hemat Biaya Operasional Kendaraan Lebih dari Rp2 Miliar

Laporan Denza Perdana | Senin, 18 Maret 2019 | 17:52 WIB
Kondisi lalu lintas di simpang empat Gedangan, Sidoarjo pada Rabu (13/3/2019) pagi. Foto: Eddy/Dok. suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Berdasarkan hasil studi kelayakan Simpang Gedangan oleh akademisi Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada 2015 lalu, keberadaan Flyover Gedangan mampu menghemat biaya operasional kendaraan mencapai Rp2.383.487.394.

Penelitian berjudul "Studi Kelayakan Pembangunan Flyover di Simpang Gedangan Sidoarjo Ditinjau dari Segi Lalu Lintas Dan Ekonomi Jalan Raya" itu dimuat di Jurnal Teknik ITS Volume 5 Nomor 2 pada 2016 silam. Biaya operasional kendaraan dari tahun ke tahun diperkirakan terus meningkat.

Saat itu, Nanang Firmansyah dan Istiar dua akademisi ITS yang melakukan penelitian Simpang Gedangan menghitung biaya operasional kendaraan berdasarkan komponen kendaraan, bahan bakar, minyak pelumas, ban, harga mobil, dan upah montir pada tahun survei dilakukan.

Perhitungan ini dilakukan dengan membandingkan kebutuhan operasional kendaraan dengan jumlah volume kendaraan yang melintasi Simpang Gedangan saat itu, dengan rata-rata 2.131 kendaraan per jam, serta dibandingkan dengan jumlah penduduk Sidoarjo yang saat itu terdata 2.176.204 jiwa.

Perlu diakui, biaya operasional kendaraan seiring pergantian tahun akan berubah. Demikian halnya jumlah penduduk dan jumlah kendaraan yang melintas di Simpang Gedangan. Bila yang terjadi peningkatan jumlah penduduk dan jumlah kendaraan, semakin banyak biaya operasional yang bisa dihemat dengan adanya Flyover Gedangan.

Bahrul Amig Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Sidoarjo membenarkan, biaya operasional kendaraan yang dihabiskan penduduk Sidoarjo dengan terjadi kepadatan di Simpang Gedangan saat ini cukup besar. Sayangnya, dia tidak memiliki data termutakhir berapa biaya operasional kendaraan yang dihabiskan masyarakat Sidoarjo.

"Kami juga mengacu pada hasil studi 2015 itu. Menurut kami itu masih relevan. Tapi dalam waktu dekat ini kami akan mengadakan kamera khusus untuk menghitung volume kendaraan di Simpang Gedangan," katanya ketika dihubungi suarasurabaya.net, Senin (18/3/2019).

Penghitungan volume kendaraan, kata dia, penting dilakukan untuk mengetahui kondisi terkini Simpang Gedangan untuk menentukan rekayasa waktu traffic light di simpang dengan derajat kejenuhan yang dinilai sudah sangat kritis oleh para akademisi.

Dia mengakui, seiring pergantian tahun, juga pertambahan volume kendaraan, biaya operasional kendaraan semakin besar. Belum lagi adanya perubahan tata guna lahan di sekitar Simpang Gedangan untuk berbagai kepentingan.

"Baik perumahan, industri, kawasan. Jadi cepat atau lambat memang harus dilakukan tindak lanjut di Simpang Gedangan ini (dengan membangun flyover). Kami di Dishub hanya bisa melakukan rekayasa waktu siklus (traffic light)," katanya.

Bahrul mengklaim selama ini Dishub telah melakukan tugas pokok dan fungsinya secara optimal dalam melakukan manajemen rekayasa lalu lintas di Simpang Gedangan. Termasuk mendorong optimalisasi simpang oleh dinas lainnya.

"Dalam hal radius tikung di semua sisi simpang itu, baik di barat (arah Sukodono) dan timur (arah Sedati) kami mendorong pemasangan box culvert. Lalu kami tindak lanjuti kembali dengan rekayasa waktu siklus traffic light," katanya.

Bisa dikatakan, upaya Dishub Sidoarjo mentok pada rekayasa tersebut. Dishub juga melakukan pengaturan jam masuk kendaraan berat. Pada jam-jam tertentu tidak boleh lewat. Juga larangan kendaraan dari Surabaya ke Sukodono dengan pemasangan rambu.

"Ya, tapi kondisinya seperti itu. Memang banyak yang pada akhirnya melanggar rambu larangan itu," ujarnya.(den/iss/ipg)
Editor: Eddy Prastyo