SS TODAY

Asrama Kalasan Kembali Mencekam, 40 Mahasiswa Papua Dibawa Polisi

Laporan Agung Hari Baskoro | Sabtu, 17 Agustus 2019 | 17:41 WIB
Polisi berjaga di Asrama Papua di Jalan Kalasan, Surabaya pada Sabtu (17/8/2019). Foto: Baskoro suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Suasana Asrama Papua di Jalan Kalasan, Surabaya kembali mencekam pada Sabtu (17/8/2019). Puluhan massa dari sejumlah ormas, petugas linmas, polisi, dan warga terlihat memadati jalan di depan asrama papua di Jl Kalasan tersebut. Polisi juga menembakkan gas air mata untuk menjemput puluhan penghuni asrama.

Puluhan mahasiawa diangkut ke dalam tiga truk polisi. Mereka keluar sambil mengangkat kedua tangannya. Berdasar keterangan dari Piter Frans Rumaseb Ketua Ikatan Keluarga Besar Papua Surabaya, sebanyak 40 mahasiswa diangkut untuk dimintai keterangan di Mapolrestabes Surabaya.

Ketegangan ini lanjutan dari aksi sejumlah ormas di Surabaya, Jumat (16/8/2019). Aksi ini dipicu beredarnya foto tiang bendera merah putih yang berada di depan Asrama Papua dipatahkan dan dibuang di selokan. Akibat aksi pengepungan ini, puluhan mahasiswa Papua yang berada di asrama, tak bisa keluar. Pengepungan ini terus berlanjut hingga Sabtu (17/8/2019) sore. Sebelumnya, beberapa kali suasana sempat menegang.

Piter Frans Rumaseb mendukung tindakan polisi, tindakan menurutnya adalah bentuk penegakan hukum. Ia mengakui ada oknum yang melakukan pengerusakan terhadap bendera Indonesia.

"Tindakan yang dilakukan adalah tindakan penegakan hukum, terkait dengan oknum yang melakukan pengerusakan pada bendera Indonesia. Tidak ada kegiatan pengusiran warga Papua. Semata-mata hanya tindakan penindakan pada pelanggar, atau oknum yang merusak lambang negara," ujar Piter Frans pada Sabtu (17/8/2019).

Ia menegaskan, peristiwa ini terlepas dari unsur diskriminasi. Sehingga, ia mengaku Ikatan Keluarga Besar Papua akan menyerahkan dulu persolaan ini pada Polisi hingga pemeriksaan selesai.

"Nanti setelah itu baru kita lakukan pendampingan pada mereka. Kita sementara akan memantau terus di asrama ini," katanya.

Selanjutnya, Piter mengatakan akan melakukan komunikasi dengan mahasiswa Papua Surabaya lain yang tersebar di Surabaya. Ia menyebut, korwil-korwil mahasiswa Papua tersebut tersebar dari Keputih hingga Benowo.

"Kita akan berikan pengertian. Bahwa ini bukan pengusiran tapi semata penegakan hukum kepada pelanggar yang melakukan pengerusakan terhadap lambang negara," lanjutnya.

Hingga saat ini, kondisi jalan Kalasan berangsur-angsur normal. Massa dari sejumlah ormas terpantau secara berangsur meninggalkan lokasi. Meski begitu, polisi masih melakukan sterilisasi di jalan Kalasan, Surabaya.

Sementara itu, Kombes Pol Sandi Nugroho Kapolrestabes Surabaya mengudara di Radio Suara Surabaya mengaku masih mencari kebenaran masalah yang dipicu dari media sosial ini.

"Hari ini kami bersama Ketua RT, RW, Camat, dan perwakilan warga Papua di Surabaya masih mengkonfirmasi benar atau tidaknya. Alat bukti yang ada juga akan kami kumpulkan," ujar Kombes Pol Sandi Nugroho Kapolrestabes Surabaya.

Sandi menjelaskan, pada Jumat (16/8/2019) sekitar pukul 14.00 WIB ada masyarakat yang menemukan bendera Merah Putih dalam kondisi rusak di depan Asrama Papua, Jalan Kalasan, Surabaya.

Penemuan pengrusakan bendera yang dipasang oleh warga sekitar ini viral di media sosial dan memancing reaksi sejumlah organisasi masyarakat di Surabaya.

Sekira 500 orang dari Ormas FKPPI, PP, dan Hipakad berkumpul di depan Asrama Papua sehingga terjadi lempar-lemparan batu. Aparat memediasi kedua pihak dengan meminta ormas yang tergabung dalam kegiatan tersebut untuk menempuh jalur hukum.

"Karena kita negara hukum, kita akan menegakkan hukum sesuai aturan yang berlaku. Informasi itu kan masih simpang siur, maka dari itu kami minta dari kelompok-kelompok yang melakukan kegiatan itu membuat laporan itu ke Polrestabes," kata Sandi.

Pada Jumat pukul 21.00 WIB, massa yang terkumpul di Kalasan sudah membubarkan diri dan perwakilannya membuat laporan ke Polrestabes.

Pagi ini, Sabtu (17/8/2019), sekitar 100 anggota kepolisian, Koramil, dan Satpol PP disiagakan di Asrama Papua untuk memastikan tidak ada gangguan bagi warga Papua.

"Kami mengantisipasi massa kembali dan main hakim sendiri," katanya. (bas/iss/bid)
Editor: Zumrotul Abidin



LAINNYA