SS TODAY

Polisi Tetapkan Tri Susanti Jadi Tersangka Kasus Dugaan Rasisme di Asrama Mahasiswa Papua

Laporan Anggi Widya Permani | Kamis, 29 Agustus 2019 | 09:47 WIB
Polisi menetapkan Tri Susanti sebagai tersangka kasus dugaan rasisme di Asrama Mahasiswa Papua. Foto: merdeka.com
suarasurabaya.net - Polisi menetapkan Tri Susanti sebagai tersangka kasus dugaan rasisme di Asrama Mahasiswa Papua. Ini dibenarkan Sahid kuasa hukum Susi, bahwa surat penetapan tersangka itu sudah diterima pada Rabu (28/8/2019).

"Suratnya baru diterima pukul 20.30 WIB. Intinya, bunyi suratnya dari saksi dinaikkan menjadi tersangka," kata Sahid.

Selain surat penetapan tersangka, kata dia, Susi juga menerima surat pemanggilan sebagai tersangka. Surat itu diterbitkan Polda Jatim agar Susi memenuhi panggilan polisi pada Jumat (30/8/2019).

Sahid memastikan, kliennya tersebut akan kooperatif mengikuti aturan hukum yang berlaku. Dia juga mengungkapkan, bahwa Susi menanggapi dengan santai terkait statusnya yang kini menjadi tersangka.

"Responnya biasa saja. Karena dia tidak merasa menyebarkan seperti itu. Ini mbak Susi jadi korban lah istilahnya. Jadi korban karena dia semata-mata membela merah putih dan akhirnya seperti ini. Dan dia nggak masalah jadi tersangka. Tetap biasa dan dia patuh terhadap hukum yang berlaku dan dia kooperatif juga. Intinya dia kooperatif Dalam pasal inikan tidak harus ada penahan," jelasnya.

Sekedar diketahui, Tri Susanti menjadi koordinator aksi organisasi masyarakat yang saat itu mendatangi Asrama Mahasiswa Papua. Susi mengungkapkan, bahwa kedatangannya hanya untuk membela bendera Merah Putih.

Karena sebelumnya, kata dia, mereka menerima foto tiang bendera yang dirusak dan dibuang di selokan depan asrama. Dia juga membantah kalau ada pengusiran yang dilakukan ormas kepada mahasiswa Papua.

Dia juga sempat menyampaikan permintaan maaf terkait adanya oknum yang melontarkan kata-kata tidak etis kepada mahasiswa Papua. Di mana kejadian itu telah memicu terjadinya kerusuhan di Manokwari.

"Kami atas nama masyarakat Surabaya dan dari rekan-rekan ormas menyampaikan permohonan maaf. Apabila ada masyarakat atau pihak lain yang sempat meneriakkan itu," kata Susi, Selasa (20/8/2019) di Mapolda Jatim.

"Kalau dibilang bahwa masyarakat Surabaya terjadi bentrok atau ada teriakan rasis, itu sama sekali tidak ada. Kami mohon juga pada rekan-rekan bahwa, ormas dan masyarakat Surabaya tujuannya ke sana hanya untuk merah putih," pungkasnya. (ang/dwi)
Editor: Dwi Yuli Handayani



LAINNYA