SS TODAY

IDI Jatim Tolak Jadi Eksekutor Kebiri Kimia

Laporan Anggi Widya Permani | Senin, 26 Agustus 2019 | 11:46 WIB
Ilustrasi.
suarasurabaya.net - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jatim menolak menjadi eksekutor untuk hukuman kebiri kimia kepada pelaku kekerasan seksual. Ini menanggapi putusan Pengadilan Negeri Mojokerto yang memvonis M. Aris terdakwa pemerkosaan sembilan anak, dengan hukuman kebiri kimia.

dr Poernomo Budi Setiawan Ketua IDI Jatim mengatakan, eksekusi kebiri kimia tersebut bertentangan dengan kode etik dan sumpah dokter. Dalam hal ini, profesi dokter untuk menyembuhkan dan merehabilitasi, bukan menyakiti.

"Dari sisi kompetensi, sebetulnya kebiri itu apa. Kompetensi adalah sesuatu yang diperoleh dokter dari ilmu pengetahuan dan latihan praktis. Tapi ilmu pengetahuan kita tidak ada mengenai pengebirian. Juga tidak pernah dipraktekkan. Sehingga dari sisi kompetensi kami menolak dan merasa tidak memiliki kompetensi itu. Apalagi dari sisi etik jelas menolak," kata dr Poernomo kepada Radio Suara Surabaya, Senin (26/8/2019).

dr Poernomo mengaku, pihaknya belum tahu pasti siapa yang akan mengeksekusi hukuman tersebut. Namun dalam hal ini, IDI tetap menolak untuk menjadi eksekutornya, meskipun pemerintah menunjuknya. Suara IDI bulat, dari pusat hingga daerah menolak jika diminta sebagai eksekutor.

"Pertimbangan lain dari sisi kompeten, apakah memasukkan kebiri kimia itu tidak membawa dampak pada organ lain. Nah, kalau pemerintah menunjuk dokter, IDI tidak bisa," kata dia.

Sebelumnya, Kejaksaan Negeri Kabupaten Mojokerto masih berkoordinasi untuk mencari rumah sakit yang bisa melaksanakan hukuman kebiri kimia. Hukuman kebiri kimia ini dijatuhkan pada Muhammad Aris (20) warga Dusun Mengelo pelaku pencabulan 9 anak.

Rudi Hartono Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Mojokerto mengatakan, pihaknya sudah meminta untuk segera dieksekusi dengan mencari dokternya terlebih dahulu. Sejauh ini, pihaknya sudah sempat berkoordinasi dengan dua rumah sakit di Mojokerto.

"Kami masih mencari rumah sakit yang bisa melaksanakan hukuman kebiri kimia. Karena RSUD Soekandar dan RA Basuni di Mojokerto belum pernah melakukan itu. Jadi saat ini kami masih koordinasi terus untuk melaksanakan eksekusi hukuman kebiri kimia ini," kata Rudi pada Fuad reporter Radio Maja Mojokerto.

Seperti diketahui, sebelumnya Muhammad Aris divonis hukuman penjara 12 tahun ditambah sanksi kebiri kimia karena menjadi pelaku pencabulan 9 anak di Mojokerto. Kebiri kimia ini dilakukan dengan memberi suntikan kimia sehingga membuatnya tak lagi mampu ereksi seumur hidup. (ang/rst)
Editor: Restu Indah