SS TODAY

Batik Adalah Simbol Eksistensi Bangsa Indonesia

Laporan Agung Hari Baskoro | Rabu, 02 Oktober 2019 | 14:07 WIB
Ilustrasi. Delegasi Dewan Keamanan PBB mengenakan batik koleksi pribadi saat menghadiri pertemuan yang dipimpin Menlu Retno Marsudi di New York, AS, bulan Mei lalu. Foto: Kemenlu
suarasurabaya.net - Purnawan Basundoro Pengamat Budaya Unair mengatakan, batik adalah simbol dari eksistensi bangsa Indonesia.

"Jadi kalau secara budaya, batik itu jadi simbol dari eksistensi bangsa Indonesia. Indonesia kan dianggap menjadi pelopor batik. Secara histois, batik sudah sangat lama di Indonesia. Kemudian kedua, jadi identitas. Batik identik dengan bangsa Indonesia. Kalau ada orang pakai batik di luar negeri, orang langsung mikir, oh ini budaya Indonesia. Ya batik itu menjadi sesuatu yang erat dengan corak bangsa Indonesia," ujar Purnawan di Hari Batik Nasional pada Rabu (2/10/2019).

Dalam perjalanannya, batik akhirnya resmi diakui Unesco sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan non-bendawi pada 2 Oktober 2009. Purnawan mengatakan, pengakuan ini menjadi bukti bahawa batik adalah kreasi asli orang Indonesia berkelas dunia.

"Dengan adanya pengakuan itu, ada kewajiban rakyat Indonesia untuk melestarikan itu (batik, red). karena dunia sudah mengakui," katanya.

Batik pun diyakini Purnawan tidak hanya berkembang di Pulau Jawa saja. Ia mengatakan, batik juga berkembang di beberapa wilayah lain di Indonesia dengan ciri khas tersendiri.

"Batik dengan motif yang rumit awalnya di Jawa. Di luar jawa pun, muncul baju-baju yang coraknya mendekati batik. Walaupun dengan teknik yang beda-beda. Misal di Kalimantan, ada Sasirangan. itu juga sebenarnya sama, artinya baju dengan corak yang berwarna-warni. Kain polos yang diberi motif. itu muncul di berbagai tempat. Di Sulawesi misalnya, ada kain songket, di Sumatra juga. mirip sebenarnya," jelasnya.

Ia berharap, masyarakat dan perajin batik di Indonesia bisa bersama-sama mendorong produksi batik sehingga jumlahnya lebih banyak dari kain bermotif lain.

"Mendorong, kurangi lah produksi kain lain. Supaya kita pakai batik, karena ini menjadi kebanggaan semua elemen. Kita ingin melestarikan budaya yang sangat adi luhung ini," pungkasnya. (bas/iss/ipg)
Editor: Iping Supingah