SS TODAY

Data dan Fakta Tragedi Lumpur Lapindo di Sidoarjo

Laporan Fatkhurohman Taufik | Selasa, 28 Mei 2013 | 19:00 WIB
suarasurabaya.net - Berikut data dan fakta tragedi semburan lumpur Lapindo yang dihimpun suarasurabaya.net :

-Mulai menyembur tanggal 29 Mei 2006 di Desa Renokenongo, Porong Sidoarjo.

- Sepekan kemudian langsung dibuatkan tanggul dari tumpukan pasir dan batu di seputaran pusat semburan, tanggul ini hingga saat ini terus melebar dan saat ini melingkar seluas 640 hektare.

- Upaya penghentian semburan :
1. Snubbing Unit dimulai awal bulan Juli 2006 (Gagal)
2. Side Tracking (Pengeboran menyamping) dimulai akhir bulan Juli 2006 (Gagal)
3. Relief Well (pengeboran miring) pertengahan Agustus 2006, sebanyak 2 kali relif well masing-masing di Desa Renokenongo dan Siring (gagal)
4. Memasukkan bola beton dimulai Sabtu (24/2/2007). Sebanyak 397 bola dari beton sudah dimasukkan (gagal).

- Pembuatan saluran pelimpah (spill way) untuk membuang lumpur ke Sungai Porong, dimulai sejak awal Desember 2006 di Desa Pejarakan.

- Pipa gas milik PT Pertamina yang membentang di sekitar semburan lumpur meledak pada 22 November 2006, sebanyak 17 orang meninggal.

Akibat semburan :
Sekitar 640 hektare kawasan di 3 kecamatan terendam lumpur. Kawasan yang terendam meliputi :

1. Kecamatan Porong :
Desa Jatirejo, Siring, Renokenongo, dan Mindi.

2. Kecamatan Jabon :
Desa Pejarakan, Kedungcangkring, dan Besuki.

3. Kecamatan Tanggulangin :
Desa Kedungbendo, Ketapang dan Kalitengah.

- Jumlah pengungsi :
1. Pengungsi pertama (sebelum pipa gas meledak) 2.605 keluarga dari 9.936 jiwa.
2. Pengungsi kedua (setelah pipa gas meledak) 2.278 keluarga dari 9.028 jiwa.
3. Pengungsi pengungsian gelombang ke-tiga sebanyak 937 keluarga dari 3.250 jiwa.

Gedung atau bangunan yang terendam dan hancur :
1. Tempat tinggal/rumah : 10.426 unit
2. Sekolah 33 unit
3. Kantor pemerintahan 4 unit
4. Pabrik 30 perusahaan dengan jumlah pekerja mencapai dua ribu orang.
5. Tempat ibadah 65 unit
6. Pondok pesantren 3 buah (fik/ipg)

Teks Foto :
- Poster tuntutan warga terkait ganti rugi yang hingga saat ini belum kunjung lunas.
Foto : Taufik suarasurabaya.net
Editor: Iping Supingah