SS TODAY

Mencicipi Surabaya Mencecap Aneka Kuliner Khas

Laporan J. Totok Sumarno | Jumat, 10 Mei 2013 | 20:21 WIB
suarasurabaya.net - Kalau biasanya sajian khas atau kuliner tradisional tampil seadanya dan hadir di sudut-sudut kota, menyambut peringatan 720 tahun hari ulang tahun Kota Surabaya, sejumlah kuliner khas kota ini dikemas sedemikian rupa dan digelar ditempat-tempat representatif.

Tidak hanya tampil dengan kemasan berbeda, Lontong Kikil, Bakso, Semanggi, Nasi Pecel, Ayam Penyet, Nasi Goreng, hingga aneka minuman seperti Es Campur, Es Puter , Wedang Jahe, Wedang Ronde disajikan dalam suasana berbeda.

“Kami menjawab keinginan dan kebutuhan masyarakat terkait aneka menu tradisional, termasuk beberapa menu khas Surabaya. Oleh karena itu, kami berusaha menjawab itu dengan penampilan berbeda,” terang Prima Soemarso Marketing Communications Manager Hotel Bumi Surabaya.

Lontong Kikil yang tampil dengan irisan kecil, di Siti Inggil Hotel Bumi Surabaya, berbeda. “Bukan sekadar irisannya yang lebih besar. Yang pasti jauh lebih empuk,” promo Prima.

Surabaya memiliki lebih dari 50 macam sajian khas tradisional, tetapi tidak seluruhnya dihadirkan pada kesempatan kali ini, mengingat tidak semua kuliner itu dapat dinikmati langsung atau siap saji.

“Tapi untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat pecinta kuliner tradisional dan khas Surabaya, kami menghadirkan lebih dari 30 menu khas Surabaya dan dapat langsung dinikmati,” papar Prima saat ditemui suarasurabaya.net.

Romansa etnik dengan aneka asesoris tradisional Indonesia, mulai dari interior ruangan hingga di pilihan bagian outdoor, sangat diperhatikan. Tatakan piring diatas meja makan misalnya, dipilih rajutan rotan khas Kalimantan.

Ditambah disetiap meja dengan hadirnya replika wayang golek yang unik, menjadikan acara mencecap sajian khas Surabaya lebih semarak ditingkahi obrolan bisnis atau sekadar menghabiskan waktu dengan relasi dan kawan.

“Di Siti Inggil sendiri, secara khusus kami menampilkan asesoris-asesoris etnik, mulai dari anglo, hingga panci-panci khas, atau blek kerupuk warna-warni, agar makin memperkuat esensi budaya Indonesia,” tutup Prima Soemarso.

Ditemui di tempat berbeda Kusumo Ardi Wahyono pengusaha asal Semarang mengatakan bahwa di Surabaya memang masih belum banyak sentra makanan tradisional atau sajian khas yang dikemas eksklusif. “Harapan kita seperti itu. Kalau pas datang ke Surabaya, kita tidak kesulitan mencari tempat untuk menemukan sajian kuliner khas Surabaya,” ujar Kusumo saat berbincang dengan suarasurabaya.net, Jumat (10/5/2013).(tok/ipg)

Teks foto:
-Sudut Siti Inggil dengan berbagai kuliner khas Indonesia, termasuk menu khas Surabaya.
Foto: Totok suarasurabaya.net
Editor: Iping Supingah



LAINNYA