SS TODAY

Boros Air, Warga Surabaya Harus Belajar Melestarikan Air dari Nenek Moyang

Laporan Pratino Aditya Tama | Selasa, 13 Maret 2018 | 11:19 WIB
Foto llustrasi : mediatataruang.com
suarasurabaya.net - Prof. Dr. Suparto Wijoyo, S.H., M.Hum Pakar Hukum mengatakan ada basis kultural historis bahwa sejak dahulu nenek moyang kita sudah sangat menghargai air sebagai sumber kehidupan.

Hal itu bisa dilihat pada era prabu Airlangga dimana lambang prabu Airlangga yang memegang kendi yang berisi Tirta Amerta yang artinya adalah air kehidupan. Setelah itu bergerak maju pada era Gajah Mada pada tahun 1364 Masehi, sebelum dia wafat dia melakukan Tirta Siswanta di Madakaripura, salah satu tujuannya adalah menjaga kesucian air dengan melakukan Topo Kumkum.

"Artinya, ada pesan-pesan kesejarahan, yang kemudian oleh hukum lingkungan kemudian ditemakan besar tentang water for life di abad 21 ini, yaitu air untuk kehiidupan. Di zaman Prabu Airlangga dan Gajah Mada tema itu sudah lebih dahulu dikumandangkan dan ini yang harus kita sadari," kata Suparto kepada Radio Suara Surabaya, Selasa (13/3/2018).

Dia mengimbau masyarakat agar tidak melakukan kezaliman terhadap lingkungan khususnya air. Karena mencemarkan air, dan boros air itu bisa dianggap tindakan kriminal oleh hukum lingkungan. Untuk itu, warga harus berhati-hati dalam memanfaatkan air.

Dia menambahkan, warga Surabaya juga harus ingat sumber air mereka sebenarnya berasal darimana. Dia menjelaskan, bahwa sumber air PDAM Surabaya yang diperoleh dari Kali Mas induk airnya berasal dari daerah kota Batu.

"Dari Kali Mas berasal dri Kali Suroboyo di wilayah Gunung Sari, Kali Suroboyo berasal dari Sumber Brantas Mojokerto, Sumber Brantas bermula dari berdasarkan sejarah Mpu Sendok itu berasal dari aliran-aliran sungai dari kota Batu," terang dia.

Sebab itu, orang Surabaya harus menyadari bahwa air mereka tidak mereka dapatkan dari tanahnya sendiri. Mulai dini harus lebih menghargai air dan melestarikannya melalui tindakkan yang ramah lingkungan dan air.

Suparto menyarankan, untuk masing-masing rumah minimal memiliki 5 pohon yang ditanam dalam upaya melestarikan air. Karena pohon adalah merupakan sumber serapan untuk air, dan kota Surabaya terus membangun hutan-hutan kota yang dapat menjadi sumber serapan air dalam kota. (ino/rst)
Editor: Restu Indah