SS TODAY

Peduli Air Sejak Dini, Pelajar Ini Bikin LRB di Halaman Sekolah

Laporan J. Totok Sumarno | Selasa, 20 Maret 2018 | 18:18 WIB
Acara membuat lubang resapan biopori di SMPN 5 Surabaya dalam rangka hari air sedunia. Foto: Totok suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Pelajar harus peduli air sejak dini. Dalam rangka menyambut Hari Air Sedunia, Selasa (20/3/2018), pelajar SMPN 5 Surabaya membuat lubang resapan biopori (LRB) di halaman sekolah.

Kegiatan yang dilakukan para siswa ini seluruhnya dilaksanakan di dalam lingkungan sekolah yang berada di kawasan Jl. Rajawali, Surabaya. Para siswa diajak menggali kemudian membuat resapan biopori yang memang sederhana.

Mereka menggali tanah sampai ke kedalaman tertentu, kemudian mengisinya dengan dedaunan dengan ketebalan tertentu. Nantinya, dedaunan itu akan berubah menjadi kompos yang bisa dimanfaatkan kembali.

Wawan Some aktivis Nol Sampah yang menjadi tutor pada kegiatan pembuatan LRB di SMPN 5 Surabaya menjelaskan, kepedulian terhadap air sejak dini memang harus dilakukan.

"Pembelajaran akan pentingnya air harus disadarkan kepada pelajar sejak mereka dibangku pendidikan dasar. Ini penting. Persoalan air bersih kini menjadi persoalan kita semua diseluruh dunia. Karena itu penting mengajak pelajar peduli air," kata Wawan Some.

Permasalahan air bersih saat ini, lanjut Some, mendorong dan menyadarkan masyarakat dunia tentang perlunya upaya-upaya kepedulian terhadap air yang perlu dilakukan secara sinergis.

"Seluruh masyarakat dunia saat ini, dalam kaitannya dengan kepedulian terhadap persoalan air bersih melakukan upaya-upaya pelastarian sumber-sumber daya air, dan berusaha melestarikannya dengan berkelanjutan," tambah Some.

Dia berharap, dengan mengajak pelajar membuat LRB, kepedulian terhadap keberadaan sumber daya air sudah mereka sadari sejak dini. "Justru ini kami harapkan jadi pemicu agar sejak dini para pelajar paham konservasi dan peduli sumber daya air yang memang penting dilakukan," pungkas Some.

Sementara itu, kegiatan pembuatan LRB di SMPN 5 Surabaya selain diikuti seluruh siswa bersama para pengajar dengan masing-masing siswa mengenakan caping atau topi yang biasa dikenakan petani.(tok/den)
Editor: Denza Perdana