SS TODAY

Pemprov Jatim Siapkan Alat Pemantau Kualitas Air Sungai Terintegrasi Online

Laporan Denza Perdana | Kamis, 22 Maret 2018 | 07:23 WIB
Sungai Bengawan Solo. Foto: nesia.id
suarasurabaya.net - Berangkat dari penurunan indeks kualitas air (IKA) tujuh sungai di Jawa Timur, Pemprov Jatim meningkatkan pemantauan dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi.

Data Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur menunjukkan, IKA di tujuh sungai di Jawa Timur mengalami penurunan. 50,75 pada 2016. Indeks ini mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yang ada di angka 52,51 yang termasuk dalam kategori "sangat kurang."

Perlu diketahui, tujuh sungai yang melintasi Jawa Timur antara lain Wilayah Sungai Brantas, Bengawan Solo, Bendoyudo, Sampeyan, Bajulmati, Madura, dan Welang Rejoso. Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas memiliki area tangkapan paling luas, yakni seluas 13.880 kilometer persegi, mengalir di 17 kabupaten/kota di Jawa Timur.

Dari data yang tercatat, kualitas air terburuk berada di kawasan DAS Brantas. IKA DAS Brantas hanya 47,68 pada 2016. Jumlah ini menurun dari tahun 2015 yang IKA-nya 49,17. Padahal di kawasan sungai ini, jumlah penduduk yang menghuni sebanyak 50 persen dari total jumlah penduduk di Jawa Timur.

Dyah Susilowati Kepala DLH Provinsi Jawa Timur mengatakan, berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan IKA sungai di Jawa Timur, terutama di kawasan DAS Brantas. Salah satunya dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi. Dengan membangun sistem pemantauan kualitas air yang terintegrasi dan bisa diakses secara online.

DLH Jatim akan segera mengintegrasikan sistem pemantauan yang telah dimiliki oleh Perum Jasa Tirta (PJT) sebagai pengelola DAS Brantas. "Jasa Tirta saat ini sudah memiliki 20 stasiun pemantau kualitas air untuk DAS Brantas, kami akan mengintegrasikan hasil monitoring ini secara online sehingga bisa diakses oleh masyarakat," katanya.

Selain itu, DLH Jatim berencana membangun dua stasiun pemantauan kualitas air di wilayah DAS Bengawan Solo. Dyah mengatakan, target pada 2018 ini akan mulai dibangun stasiun pemantauan kualitas air online di hulu maupun di hilir DAS Bengawan Solo yang dibiayai dengan APBN dan APBD.

Untuk dua stasiun pemantauan kualitas air DAS Bengawan Solo ini, Dyah mengatakan, biaya pembangunannya sebagian besar berasal dari APBN. Yakni sebesar Rp550 juta yang digunakan untuk pengadaan alat. Sedangkan Pemprov Jawa Timur akan menganggarkan setidaknya Rp200 juta untuk pembuatan sistem dan aplikasi.

Tidak hanya dengan inovasi pemantauan kualitas air memanfaatkan kecanggihan teknologi, DLH Jatim berupaya melakukan berbagai kegiatan untuk meningkatkan kualitas air melalui kesadaran masyarakat yang hidup di sekitarnya.

Di DAS Brantas, kata Dyah, ada 25 desa yang wilayahnya termasuk DAS Brantas. Pemprov Jatim sudah melakukan berbagai upaya peningkatan kesadaran masyarakat berdasarkan kearifan lokal masing-masing daerah. Misalnya melalui Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan, pemberian penghargaan Adiwiyata, serta program perlindungan mata air (Permata).

Pemberian bantuan bibit tanaman juga dilakukan DLH untuk masyarakat yang membutuhkan bibit-bibit pohon untuk melakukan reboisasi, terutama di kawasan bantaran sungai. Pemprov Jatim menargetkan setidaknya di kawasan bantaran sungai yang ada di Jawa Timur, radius 200 meter sudah ditanami tanaman yang produktif.(den/iss)
Editor: Ika Suryani Syarief