INFO HAJI

ISPA Jadi Penyakit Utama Calon Jamaah Haji di Mekkah

Laporan Agustina Suminar | Minggu, 21 Juli 2019 | 21:40 WIB
M. Imran Kasie Kesehatan Daker Mekkah mengatakan infeksi saluran pernapasan jadi penyakit utama calhaj di Mekkah. Foto: Antara
suarasurabaya.net - Penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi penyakit dan keluhan utama calon haji yang berobat di Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Daerah Kerja (Daker) Mekkah.

Muhammad Imran Kepala Seksi Kesehatan Daerah Kerja Mekkah Panitia Penyelenggara Haji Indonesia (PPHI) 2019 di KKHI Mekkah, Minggu (21/7/2019), mengatakan penyakit yang mendominasi calon haji di Mekkah adalah ISPA.

"Penyakitnya di kloter didominasi ISPA. Kemudian hipertensi, paru menahun yang banyak dirawat di KKHI Mekkah, sedangkan yang dirujuk di RSAS di dominasi phneumonia dan jantung," kata Imran dilansir Antara.

Sampai saat ini KKHI sedang merawat sebanyak 15 pasien. Total KKHI telah menangani 76 calon haji beberapa di antaranya telah diperbolehkan kembali ke pondokannya dan beberapa yang lain dirujuk ke Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS).

Untuk pasien ISPA, Imran mengatakan tim KKHI melakukan rehidrasi komposisi cairan tubuh.

"Untuk ISPA dilakukan rehidrasi komposisi cairan tubuh. Kemudian layanan gangguan paru diterapi oksigen," katanya.

Beberapa calon haji juga menderita penyakit diabetes yang kemudian diberikan obat dan observasi, jika membaik bisa rawat jalan di kloter atau dirawat di KKHI.

Imran menyarankan agar calon haji lansia mengambil keringanan dalam beribadah.

"Misalnya pakai skuter atau kursi roda. Bagi yang umrah pilih waktu teduh mulai Maghrib sampai setelah Subuh. Kondisi cuaca tidak sepanas Madinah. Suhu pagi hari di Mekkah 36-37 derajat dan siang hari 38-40 derajat," katanya.

Beberapa calon haji yang saat ini dirujuk ke RSAS sebagian menderita phneumonia atau infeksi paru dan jantung.

"Ada tim LO yang bisa Bahasa Arab dan mampu berkomunikasi dengan dokter di RSAS. Di RSAS yang sudah pulang ada. Di RSAS total 38 sekarang 21. Dan dipulangkan ke KKHI dahulu. Untuk observasi lanjutan 8-12 jam. Kemudian bisa dipulangkan," katanya.(ant/tin/iss)
Editor: Ika Suryani Syarief



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.