JAZZ TRAFFIC

Java Jazz Festival 2019, Ajang bagi Pemburu Konser

Laporan Isa Anshori | Senin, 04 Maret 2019 | 09:20 WIB
Java Jazz Festival 2019. Foto: Isa Suara Surabaya
suarasurabaya.net - Hiruk pikuk Jakarta sebagai ibukota negara, sejenak melupakan kontestasi politik dan beralih ke ajang kontestasi kreatifitas pelaku seni dan industri musik. Kenapa karena sebagian orang muda Indonesia menonton pertunjukan musik 1-3 kali dalam setahun. Bahkan sebagian dari mereka rela membayar "mahal" demi menyaksikan penampilan musisi dan penyanyi idola mereka.

Java Jazz Festival yang tahun ini merayakan 15 tahun ajang konser terbesar di tanah air, memang tergolong berani nekad. Betapa tidak, dari tahun ke tahun perjalanan konser ini selalu pasang surut, minimal dilihat dari animo pemburu konser itu sendiri. Ada yang berpendapat musik jazz itu sulit dijual, apalagi berharap untung. Disini penyelenggara dituntut sekreatif mungkin, melahirkan konsep atau tema-tema baru, minimal harus tidak sama dengan tahun-tahun sebelumnya.

Sungguhpun tidak mudah untuk menelorkan ide-ide baru tersebut. Tetapi kalau dilihat dari survey diatas, membuktikan bahwa pemburu konser musik (jazz, red) yang datang 1-3 kali dalam setahun, menjadikan para penyelenggara konser/festival tidak pernah "kapok". Karena itu, jangan heran jika ada yang mengatakan, Indonesia itu tercatat sebagai penyelenggara event jazz terbanyak di dunia. Mereka tetap gegap gempita menampilkan musisi-musisi lokal, nasional dan bahkan internasional. Apakah mereka untung? Jawabannya semua tahu, minimal impas saja sudah syukur.

Kehadiran para pemburu konser sendiri, sebenarnya sudah mewanti-wanti, hati-hati terhadap ambang batas kejenuhan, terutama dari mereka yang datang hanya untuk hura-hura. Mereka ini datang ke konser hanya untuk gaya hidup atau lifestyle. Artinya, ketika tren gaya hidup berubah, cepat atau lambat datang ke arena konser atau festival bukan lagi menjadi pilihan utama.


Pemburu sejati konser jazz jumlahnya tidaklah sebanyak mereka yang hanya ingin eksistensi diakui. Ini menjadi tantangan bagi penyelenggara event jazz apalagi setingkat festival. Mereka harus jeli membaca tren masyarakat, melihat detil artis atau musisi yang sedang booming atau yang akan booming dan meramunya menjadi sebuah pertunjukan bergengsi dan penuh inspirasi. Selamat dan sukses untuk Java Jazz Festival 2019. (isa/dwi/rst)
Editor: Restu Indah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
X
BACA LAINNYA