KAMPOENG MEDIA

DW Akademie German Pelajari Konvergensi Media di Suara Surabaya

Laporan Agustina Suminar | Selasa, 12 Februari 2019 | 20:07 WIB
Rombongan Deutsche Welle Akademie German bersama Eddy Prastyo Manajer New Media Suara Surabaya dan Isa Anshori penyiar Suara Surabaya di Kantor Radio Suara Surabaya, Selasa (12/2/2019). Foto: Tina suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Deutsche Welle (DW) Akademie German mengaku tertarik dengan Suara Surabaya yang sukses melakukan konvergensi dengan media digital, sehingga dapat berkembang sebagai media lokal.

Hal itu disampaikan Denika Blacklock Karim, Media Development Asia and Europe DW Akademie kepada suarasurabaya.net saat melakukan kunjungan ke Suara Surabaya Media, Selasa (12/2/2019). Bersama dua rekannya, Patrick Benning dan Anneliese McCauliffe, mereka mengunjungi Suara Surabaya untuk melakukan riset tentang literasi media, hate speech dan polarisasi media di Indonesia.

"Saya rasa diskusi ini sangat menarik, tentang apa yang dapat kita ekspektasikan kepada radio dan bagaimana perjuangannya di era digital media. Juga tentang bagaimana mereka mengapdosinya, dan bagaimana membuat konten radio untuk banyak platform. Saya melihat banyak isu mulai dari hate speech, online bullying, yang mengalami polarisasi, ya, kita sedang belajar," ujarnya.


(dari kanan) Anneliese McCauliffe, Patrick Benning, Isa Anshori penyiar SS, Pramudito admin sosial media SS (duduk) di Kantor Radio Suara Surabaya, Selasa (12/2/2019). Foto: Totok suarasurabaya.net

Dalam diskusi yang berlangsung hampir dua jam ini, Suara Surabaya dan DW Akademie memperbincangkan banyak hal tentang perkembangan radio dan bagaimana Suara Surabaya dapat bertahan hingga saat ini.

Eddy Prastyo, Manajer New Media Suara Surabaya mengatakan, konvergensi digital yang dilakukan Suara Surabaya melalui media sosial khususnya facebook sebagai feeder berita, menjadi tantangan sendiri. Sehingga beberapa strategi dilakukan untuk mengontrol pengguna agar tidak melakukan ujaran kebencian dan isu SARA.

Beberapa startegi tersebut diantaranya melakukan monitoring media sosial selama 24 jam. Jika ada pengguna yang menyebarkan hate speech dan perilaku tidak pantas, maka admin akan memblock user dan menghapus komentar. Selain itu, Suara Surabaya juga melakukan self sensoring education, di mana masyarakat juga diajak untuk memahami cara bermedia sosial yang baik.

Melihat hal itu, Patrick Benning mengaku tertarik dengan cara media radio yang tidak hanya berkonvergensi dengan digital media, tapi juga tentang mengontrol dan menekan dampak negatif dan media sosial.

"Saya benar-benar tertarik tentang bagaimana aktifitas media sosial (Suara Surabaya, red), tidak hanya isunya, namun juga bagaimana orang-orang bekerja," kata Patrick.

Denika juga menambahkan, bahwa saat berita masuk ke platform media sosial memang akan mengalami tantangan tersendiri. Hal ini dikarenakan media sosial memiliki ruang diskusi dimana orang bebas menyebar informasi dan memberikan feedback.

Untuk itu, ia terkesan dengan cara monitoring digital media di Suara Surabaya yang membuat masyarakat ikut aktif dan mengambil peran untuk menangkal hoaks dan ujaran kebencian.

"Saya terkesan dengan bagaimana orang-orang berperan aktif sebagai social media influencer untuk banyak orang dan berfokus pada hal-hal positif. Saya rasa itu sangat penting dan dapat menjadi pembelajaran, bagaimana mengambil tanggung jawab dan menjadi media yang dapat bersaing," imbuh Denika.(tin/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.