KAMPOENG MEDIA

Catatan Tim Eksplorasi Tol Trans Jawa, Tiga Hari Bersahabat dengan Ketidakpastian

Laporan Denza Perdana | Sabtu, 02 Maret 2019 | 14:15 WIB
Tim Suara Surabaya Media dalam kegiatan Eksplorasi Tol Trans Jawa, foto bersama usai berdiskusi dengan Prof. Rhenald Kasali di Rumah Perubahan, Selasa (26/2/2019) malam. Foto: Tim SS Media
suarasurabaya.net - Rutinitas itu memabukkan, meski setiap hari menghadapi beragam masalah dari bermacam narasumber dan harus mencarikan solusi terbaik bukanlah pekerjaan tanpa tantangan.

Seseorang bisa melajukan kendaraan ke kantor, padahal dia mau jalan-jalan ke mal bersama keluarganya karena selalu memilih jalur yang sama menuju kantor setiap harinya. Itu rutinitas.

Bayangkan orang yang setiap hari bekerja mengangkat ratusan telepon dengan dering yang sama. Apa yang terjadi saat nada dering itu berbunyi, tapi yang ada di dekat tangannya setrika yang siap melicinkan pakaian?

Rutinitas itu memabukkan. Maka Selasa (26/2/2019) pagi pukul 03.22 WIB, tepat ketika sopir menginjak pedal gas bus, Tim Eksplorasi Tol Trans Jawa Suara Surabaya (SS) Media melepaskan diri dari rutinitas, memasuki hari yang penuh ketidakpastian.



Pada Selasa (26/2/2019) pukul 03.22 WIB, Tim Suara Surabaya Media bertolak dari Surabaya memulai Eksplorasi Tol Trans Jawa ke Jakarta. Foto: Tim SS Media

Tujuan kami cuma satu, mengalami apa yang setiap hari kami hadapi. Tak terhitung jumlah pendengar Radio Suara Surabaya yang melaporkan peristiwa, mengeluhkan pelayanan, atau menceritakan pengalaman di Tol Trans Jawa yang menghubungkan Surabaya-Jakarta.

Pagi itu, 20 orang Tim Eksplorasi Tol Trans Jawa menempuh perjalanan darat dari Surabaya menuju Bekasi dengan jarak lebih dari 700.000 meter.

Kami mengalami, melewati seksi tol yang belum sepenuhnya mulus sehingga membuat kami terbangun dari tidur yang tidak nyenyak. Juga berhenti di rest area yang belum tuntas dibangun.


Melepas lelah sejenak di Rest Area KM 391A Semarang-Batang, sekaligus menikmati pemandangan menjelang matahari terbit, Selasa (26/2/2019) pagi. Foto: Tim SS Media

Lebih dari 11 jam perjalanan mulai dari gerbang masuk Tol Kota Satelit Surabaya sampai Exit Tol Cikarang Utama. Mungkin beberapa pengguna tol memiliki pengalaman yang lebih cepat, tapi bus kami memang cukup banyak berhenti. Karena selain memuat 20 orang, bus itu juga memuat kebutuhan setiap orang yang berbeda-beda.

Di Jombang kami berhenti di masjid untuk melaksanakan salat Subuh. Lalu di Boyolali kami berhenti di sebuah warung milik Mbak Dewi. Dialah penyelamat kami. Sudah tidak ada rayuan yang bisa membujuk pasukan militan di perut kami yang mulai memberontak. Saat itu kebutuhan kami sama.

Melewati ruas tol di Jawa Tengah, kami menikmati pemandangan yang disebut Joko Widodo Presiden di akun instagramnya setelah meresmikan sejumlah ruas Tol Trans Jawa akhir Desember 2018 lalu.

Meski saat itu senja belum menyapa, pemandangan Gunung Merbabu dan Jembatan Tuntang di ruas Tol Bawen-Salatiga menyapa kami dengan ramah.

Setelah "mengalami" sejumlah ruas Tol Trans Jawa, kurang lebih pukul 14.20 WIB bus yang kami tumpangi akhirnya melewati gerbang keluar tol Cikarang Utama.

Sopir bus, meski tidak sesuai janji di kaca bus: "Sopir Ganteng", tapi cukup lihai menghindari kemacetan, berupaya menuju Rumah Perubahan Rhenald Kasali, di Kota Bekasi, tepat waktu.

Bila sesuai rencana dan jadwal yang telah tersusun, Rhenald Kasali, pakar ekonomi bisnis sekaligus guru besar Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia akan menyambut kami, bila kami tiba di lokasi tepat pukul 15.00 WIB.

Keluar tol sebelum pukul 15.00 WIB membuat kami sedikit lega. Tapi tidak berlangsung lama. Kepadatan lalu lintas di Kota Bekasi ternyata membuat perjalanan kami molor.

Bus yang kami tumpangi sempat terkunci di antara padatnya lalu lintas Jalan Cipendawa Lama, Bojong Menteng, Rawalumbu, Bekasi. Kami tiba di Rumah Perubahan hampir pukul 16.00 WIB.


Didampingi RKmentee, Tim SS Media menjelajahi Rumah Perubahan di Kota Bekasi, Selasa (26/2/2019) sore. Foto: Tim SS Media

Sesuai jadwalnya, Rhenald Kasali sudah tidak berada di Rumah Perubahan. Kami sedikit kecewa. Tapi kekecewaan itu terobati dengan suasana yang ditawarkan Rumah Perubahan.

Meski masih berada di Kota Bekasi yang lengkap dengan asap kendaraan dan kemacetannya, Rumah Perubahan yang berdiri di lahan seluas 7 hektare serupa hutan kota yang menenangkan.

Beragam tanaman, dari sayuran sampai tanaman langka seperti bunga bangkai, tertanam hampir di seluruh area Rumah Perubahan.

Sejumlah satwa dari bemacam burung, sampai kerbau dan rusa, juga ada di sana. Maka kami begitu menikmati semuanya, yang tidak setiap hari bisa didapatkan di tengah rutinitas yang memabukkan.

Kami disambut para RKmentee (Rhenald Kasali Mentee), para pemuda yang dibimbing untuk menjalankan sejumlah unit usaha di Rumah Perubahan. Mereka mengantar kami berkeliling hingga menjelang Maghrib.

Berdiskusi dengan Penulis The Great Shifting

Selepas makan malam, harapan kami bertemu dan berdiskusi dengan mentor para RKmentee pupus. Jarum jam tangan menunjuk angka sembilan. Penulis buku The Great Shifting hampir bisa dipastikan tidak akan menemui kami.

Rombongan sudah meringkuk di balik selimut masing-masing di bangunan penginapan The Winner. Kami terpisah di dua ruangan. Satu khusus perempuan, lainnya khusus laki-laki. Lampu sudah mati tapi mata kami enggan terpejam.

Tiba-tiba saja, Wismanti Ketua Tim Eksplorasi Tol Trans Jawa Suara Surabaya Media masuk ke ruangan para laki-laki. "Pak Rhenald Kasali menunggu di bawah!"

Serupa tentara di barak-barak militer yang baru menerima komando, kami bergegas bangun. Tergesa-gesa melepas baju tidur kami yang terlanjur melekat di tubuh menggantinya dengan baju santai, untuk bertemu Sang Profesor.


Prof. Rhenald Kasali meluangkan waktu khusus buat Tim SS Media tentang Creative Thinker. Kuncinya adalah eksplorasi. Foto: Tim SS Media

Di Gedung Powerhouse, salah satu gedung pelatihan di Rumah Perubahan, Prof. Rhenald bersedia mendongengi kami tentang isi buku yang akan dia tulis: Creative Thinker, buku lanjutan The Great Shifting yang masih berupa konsep. Dia dan timnya, saat ini sedang mengerjakan buku yang membahas tentang Platform.

Menjadi orang yang kreatif, kata Rhenald, sebenarnya sederhana. Kuncinya adalah eksplorasi. Dia mengakui, tidak seperti orang barat yang sejak kecil dididik menjadi explorer, "sebagian besar orang kita terdidik menjadi exploiter (pengeksploitasi)."

Para explorer selalu mencari hal baru dan cenderung mencari makna atas segala sesuatu di dunia. Sementara kaum exploiter terbiasa menghafal, menyukai hal yang pasti sehingga yang dihadapi dan dicapai sebatas itu-itu belaka.

"Seorang explorer terbiasa dengan ketidakpastian. Karena itulah, anak saya, saya suruh kesasar di luar negeri. Saya buatkan paspor lalu saya biarkan dia bertahan di luar negeri. Supaya pengalaman setiap anak tidak sama," ujarnya.

Prof Rhenald-lah yang mencontohkan salah satu tanda eksploiter yang sangat nyata: orang yang selalu memilih jalan yang sama ke kantor, sehingga suatu ketika saat dia mau ke mal, kendaraannya justru otomatis ke jalur kantor.

"Ada yang bilang, autopilot (bagian dari rutinitas) akan membuat kesadaran berkurang," katanya sembari menyarankan agar kami mulai mengeksplor hal baru dan terbiasa dengan ketidakpastian supaya menjadi sosok yang kreatif.

Bukan tidak mungkin kreativitas akan membawa kita pada kesuksesan seperti yang diraih Bill Gates atau Steve Jobs. Rhenald mengingatkan, keduanya adalah pendiri perusahaan IT raksasa yang tidak pernah belajar IT secara akademis.

Diskusi berakhir pukul 23.15. Lelah sepanjang perjalanan Surabaya-Bekasi terobati oleh ilmu yang mengalir dari Prof. Rhenald Kasali yang semakin membuka wawasan kami. Usai diskusi kami pun akhirnya terlelap di penginapan tanpa sempat bermimpi.

Menyambut Kemenangan Timnas U-22

Kabar gembira dari Phnom Penh, Kamboja, membuat semangat kami meradang. Timnas U-22 mencatatkan sejarah menjuarai AFF U-22 2019 setelah mengalahkan Thailand dengan gagah, 2-1, Selasa (26/2/2019) malam WIB.

Ini sebuah kebetulan yang menggembirakan, karena Tim Suara Surabaya Media akan berkunjung ke Kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) di Jakarta Pusat Rabu (27/2/2019) pagi, dan sebelumnya sudah janjian dengan Imam Nahrawi Menpora.

Namun, sudah sejak Selasa sore sebenarnya sudah ada kepastian dari Menpora, dia tidak bisa secara langsung menemui Tim SS Media di Kantor Kemenpora karena harus berada di Kamboja untuk mendampingi Tim Garuda Muda yang sedang berjuang.

Tim akhirnya ditemui Gatot Sulistiantoro Dewa Broto Sekretaris Kemenpora (Sesmenpora) di ruang rapat lantai tiga. Diskusi gayeng sekaligus wawancara panjang dengan Sesmenpora sejak pukul 11.00 WIB hingga pukul 14.00 WIB itu sangat guyub, diakhiri saling bertukar kenang-kenangan.

Pada kesempatan itulah, Sesmenpora menawarkan sesuatu yang tidak mungkin kami tolak. Dia mengundang Tim Eksplorasi Tol Trans Jawa Suara Surabaya Media untuk hadir dalam penyambutan Timnas U-22 di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.

"Acaranya nanti malam sekitar jam delapan. Tapi pesawat Pak Menpora datang sebelumya. Sekitar jam empat sore. Kalau berkenan hadir, kami akan aturkan wawancara eksklusif dengan beliau sebelum penyambutan. Tim dari Suara Surabaya Media juga bisa sekalian ikut acara penyambutan Timnas Garuda Muda," ujar Gatot.

Maka setelah dari Kantor Kemenpora, bus melaju ke Bandara Soekarno-Hatta. Kami sempat beristirahat makan di pusat kuliner dekat Bandara. Pada saat itu, Wismanti Ketua Tim mendapat kabar, Menpora tidak akan menghadiri penyambutan.

Tidak ada penjelasan gamblang, kenapa Menpora tidak hadir di penyambutan itu. Tapi sebelumnya, di Kantor Kemenpora, Gatot Sesmenpora sempat menyatakan kepada Menpora per telepon, bahwa mereka lost contact dengan PSSI.

Rabu siang menjelang penyambutan Timnas U-22 di Bandara yang telah direncanakan matang bersama PT Angkasa Pura II dan pihak terkait lainnya, para pengurus PSSI sebagai organisasi/federasi sepak bola nasional justru tidak bisa dihubungi.

Sekali lagi Tim SS Media berhadapan dengan ketidakpastian. Rencana kami mampir ke Yogyakarta, sekadar menghabiskan waktu berjalan-jalan di Malioboro, lalu tancap gas kembali ke Surabaya, pupus seketika. Sebagian dari kami galau.

Setelah diskusi yang sebenarnya tidak perlu, kami pun sadar dan membulatkan keputusan: ada atau tak ada Menpora kami akan ikut menyambut kemenangan Timnas U-22 dan mencatat momen bersejarah itu secara langsung.


Akhirnya Tim SS Media mendapat waktu khusus bertemu Imam Nahrawi Menpora di Bandara Soekarno-Hatta pada Rabu (27/2/2019) sore, menjelang penyambutan Timnas U-22. Foto: Tim SS Media

Di Bandara, apa yang dijanjikan Sesmenpora terwujud. Kami bisa bertemu dan wawancara lebih dulu dengan Imam Nahrawi Menpora, sebelum dia memberikan keterangan dalam konferensi pers di panggung penyambutan.

Tim menjalankan fungsi masing-masing. Bersiaga di lokasi masing-masing supaya tidak ketinggalan momen kedatangan Timnas U-22. Di tengah ketidakpastian itu, kami kembali mendapat undangan eksklusif.

Budi Leksono dan Adit Jufriansyah Tim Suara Surabaya Media berkesempatan mewawancarai AKBP Sumardji Manajer Timnas U-22 yang juga manajer klub Bhayangkara FC di ruang bagasi bandara.

Sekitar pukul 20.00 WIB, baik Sani Rizky Fauzi gelandang Tim Garuda Muda yang mencetak gol penyama kedudukan, dan Osvaldo Haay pencetak gol penentu berjalan ke panggung penyambutan bersama rekannya yang lain. Indra Sjafrie Pelatih Timnas U-22 berjalan belakangan bersama tim ofisial dan manajer.

Sebelum mereka, Imam Nahrawi Menpora ternyata hadir. Dia berjalan ke panggung bersama Ratu Tisha Destria Sekjen PSSI bersama beberapa tokoh lainnya. Mereka menyambut pemain, pelatih, dan ofisial Timnas U-22 dengan jabat tangan dan kalungan bunga.

Perhatian Imam Nahrawi Menpora juga luar biasa kepada Tim Suara Surabaya Media. Malam itu usai acara penyambutan, saat kami kembali ke bus, pukul 23.32 Menpora mengirim pesan WhatsApp ke Iping reporter/editor SS Media, "Maaf tadi nggak sempat ngobrol banyak yo Mbak, padahal sakjane pingin nongkrong bareng karo keluarga besar SS yg selalu di hati."

Ya... kami pun memaklumi kesibukan Menpora yang baru datang dari Kamboja, kemudian langsung mengikuti acara penyambutan Timnas U-22 dan esoknya akan mendampingi Timnas bertemu dengan Presiden RI di Istana Merdeka.

Berfoto di Antara Ribuan Pintu

Tim Garuda Muda, setelah penyambutan di Bandara, Rabu malam langsung menuju ke Hotel Sultan di kawasan Senayan. Mereka mungkin memutuskan mandi, menikmati kucuran air hangat dari shower, sebelum akhirnya tertidur di kamar masing-masing.

Tim Suara Surabaya Media pulang. Mengakhiri perjalanan dengan bus paling bau sedunia. Meski mandi pagi di Rumah Perubahan Rhenald Kasali (beberapa malah sudah berenang), aktivitas berdesakan dengan puluhan jurnalis dari media lain saat penyambutan di Bandara cukup membuat kami berkeringat.

Sebagian besar tim memutuskan tidak mandi karena sudah terlalu lelah dan menanti saat tiba di Surabaya. Hanya dua orang saja yang memutuskan mandi, itupun harus buru-buru supaya sampai di Surabaya lebih cepat.


Bercanda ria sambil eskplorasi tempat Wisata Lawang Sewu di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (28/2/2019) pagi. Foto: Tim SS Media

Tapi keinginan melepas lelah di tempat wisata terlalu kuat. Kamis pagi menjelang fajar pertama, langit menyapa kami dengan begitu indah di Ruas Tol Batang-Semarang. Pagi itu juga, dengan sangat bersemangat, Tim bersepakat bahwa Lawang Sewu jadi tujuan berikutnya.

Setelah puas mencicipi Soto Selan di Jalan Depok, Kembangsari, Semarang Tengah, kami tiba di Lawang Sewu. Kami masuk tanpa guide (pemandu wisata) karena hanya ingin duduk melepas lelah di bawah pohon beringin, lalu foto-foto di antara ribuan pintu di Lawang Sewu.


Ngobrol santai sambil menikmati spot bangunan Lawang Sewu. Foto: Tim SS Media

Tak ada Malioboro, Lawang Sewu pun jadi. Ini hanya bagian dari upaya bersahabat dengan ketidakpastian. Bahkan masih ada yang mendadak meminta Tim untuk mampir ke rest area Tol Surabaya-Mojokerto.


Tim SS Media mendapat penjelasan dari Budi Pramono Dirut PT JSM dan AKP Lamuji Kanit PJR III Tol Sumo Polda Jatim, Kamis (28/2/2019) sore. Foto Tim SS Media

Kami bersilaturahmi dengan AKP Lamuji Kanit PJR III Tol Sumo Polda Jatim. Pada kesempatan yang sama, Budi Pramono Dirut PT Jasamarga Surabaya Mojokerto (JSM) pengelola Tol Sumo juga ada di lokasi untuk memaparkan update perkembangan Tol Sumo pada 2019 ini.

Pendek kata, perjalanan eksplorasi Tol Trans Jawa pergi pulang Surabaya-Jakarta benar-benar membawa kami keluar dari rutinitas memabukkan. Meskipun kami juga tetap melakukan kegiatan jurnalistik selama kegiatan berlangsung lewat live report ke Radio Suara Surabaya, live Facebook di akun e100 Suara Surabaya, juga menulis dan memotret untuk tayang di website suarasurabaya.net dan Majalah SCG.

Namun kami kembali dengan harapan baru, menjadi pribadi yang lebih kreatif di ruang siar, di meja redaksi, dan di semua lini, cuma untuk Anda, para pendengar dan pengakses Suara Surabaya Media. (den/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.