KAMPOENG MEDIA

Keseruan SS Muda Batch 2 Belajar Bersama Fotografer AFP

Laporan Anggi Widya Permani | Sabtu, 13 April 2019 | 18:03 WIB
Peserta Suara Surabaya Muda (SS Muda) Batch 2 berfoto dengan Errel Hemmer dan Remi Decoster fotografer dari Prancis di workshop ketiga, Sabtu (13/4/2019). Foto: Grafis suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Peserta Suara Surabaya Muda (SS Muda) Batch 2, pada Sabtu (13/4/2019) hari ini, mengikuti workshop ketiga. Selain dibekali materi reportase televisi dan pembuatan video berita, para peserta juga memperoleh materi tentang fotografi.

Materi itu disampaikan oleh Juni Kriswanto Fotografer Kantor Berita Prancis AFP serta Errel Hemmer dan Remi Decoster, yang keduanya fotografer dari Prancis. Tidak sedikit, para peserta antusias dan merasa takjub dengan beberapa karya yang ditampilkan oleh narasumber.

Sesi pertama, Juni Kriswanto menceritakan pengalamannya selama menjadi fotografer. Menurutnya, frame foto media di Indonesia dengan media asing itu tidak sama. Dia pun menunjukkan beberapa karyanya untuk media di Indonesia dan asing.

"Kalau media asing itu biasanya foto yang laku adalah foto-foto detail. Misalnya foto korban Lion Air dengan Wali Kota berpelukan sambil menangis. Kalau di Indonesia, wajah Bu Risma diperlihatkan. Tapi kalau di luar sana, tidak menjadi penting. Yang penting adalah ekspresi korban saat menangis ini," kata Juni menjelaskan kepada peserta.


Juni Kriswanto Fotografer Kantor Berita Prancis AFP saat memberikan materi. Foto: Grafis suarasurabaya.net

Tak hanya harus jeli mengambil momen, lanjut dia, fotografer juga harus tahu etika dan standard memotret yang aman. Dia pun mencontohkan pada saat memotret peristiwa bom Surabaya tahun lalu.

Seorang fotografer harus paham standard memotret yang aman. Misalnya berada dalam jarak 200 meter dari lokasi kejadian. Dia pun membandingkan dengan di luar negeri sana, bahwa saat kejadian besar para jurnalis maupun fotografer dibekali pengaman.

"Biasanya di tempat kejadian itu masih belum steril. Jadi kita juga harus hati-hati. Bukan seenaknya motret dengan leluasa. Perhatikan juga keamanan kita. Kalau di luar negeri itu, jurnalis atau fotografer dikasih pengaman. Misalnya waktu bentrok, dikasih helm pengaman. Pemusnahan hewan flu burung, pakai peralatan juga agar tidak tertular," jelasnya.

Selain Juni, materi yang disampaikan kedua fotografer dari Prancis juga tak kalah menarik. Errel mengatakan, masing-masing fotografer memiliki gaya foto yang berbeda. Errel lebih menyukai jenis foto kontemporer.

"Kita punya ciri khas yang berbeda dalam fotografi. Kalau saya suka kontemporer," kata dia.

Di materi fotografi ini, tidak sedikit para peserta yang mengajukan pertanyaan. Bagi mereka, di workshop ketiga ini banyak ilmu-ilmu baru yang mereka dapatkan. (ang/tin)
Editor: Zumrotul Abidin



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.