KAMPOENG MEDIA
36 Tahun Suara Surabaya

Meyakini Kekuatan Suara untuk Berdayakan Masyarakat Menghadapi Era 5.0

Laporan Denza Perdana | Selasa, 11 Juni 2019 | 02:00 WIB
36 tahun Suara Surabaya. Grafis: Gana suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Minggu (9/6/2019) pagi itu, seluruh tim di studio siaran fokus mengawal upaya pendengar Radio Suara Surabaya mengejar mobil KIA Picanto L 1903 CL, yang dilaporkan dicuri pada Sabtu (8/6/2019) malam.

Drama kejar-kejaran yang dilaporkan pendengar mewarnai siaran pagi itu, sampai si pencuri berhasil diringkus polisi dan warga setempat, di kawasan Sepanjang, Taman, Sidoarjo.

Muslim, pendengar Radio Suara Surabaya warga Desa Sambung Rejo, Sukodono, Sidoarjo yang melapor pertama kali melihat mobil itu di kawasan Krian pada Minggu pagi.

Dari informasi itu, Nabil, pendengar yang tinggal di Kepuh Permai, Waru, Sidoarjo berupaya mengejar pencuri dengan mobilnya. Lalu ada Mulyono, driver Grab, warga Tambak Wedi Baru, Surabaya, juga membuntuti pelaku dan mobil yang dibawa kabur dengan sepeda motornya.


Tidak hanya mereka bertiga, ada sejumlah pendengar Radio Suara Surabaya lainnya yang berkontribusi aktif secara langsung maupun tidak dalam proses penggagalan pencurian KIA Picanto, Minggu pagi itu.



Ilustrasi. Tim Suara Surabaya di ruang gate keeper saat earth hour. Foto: Dok. suarasurabaya.net

Yunus Suryadi warga Desa Wringin Lawang, Trowulan, Mojokerto misalnya. Dia turut melaporkan posisi terakhir Picanto yang melaju zig zag saat melintas di depan Pabrik Pokphand, Krian, Sidoarjo.

Ada Dista Robi warga Driyorejo Gresik yang turut mengejar Picanto putih itu, yang mobilnya hampir diserempet Si Pencuri ketika berupaya kabur melajukan Picanto ke arah Kletek, Sidoarjo, padahal lalu lintas sedang padat merayap.

Gita, pengakses baru Radio Suara Surabaya, sampai tidak sempat menyebut alamat tempat tinggalnya kepada gate keeper, karena saking antusiasnya untuk melaporkan keberadaan mobil itu ketika melintas di depan Pabrik Kapal Api, Sepanjang, Taman, Sidoarjo.

Kontribusi juga diberikan oleh Driko, pendengar yang tinggal di Wisma Permai Regency Sidoarjo, yang melapor ketika sejumlah polisi bersiaga mengadang Picanto putih di perempatan Kletek, sementara sejumlah anggota lainnya turut mengejar dengan sepeda motor.



Errol Jonathans Direktur Utama Suara Surabaya Media ketika menegaskan tentang keyakinannya atas kekuatan suara, Senin (10/6/2019). Foto: Gana suarasurabaya.net

Ada sejumlah pendengar Radio Suara Surabaya lainnya, yang sedang berada di jalan, saat itu, yang mungkin turut mengejar tapi tidak sempat melaporkan secara langsung ke studio. Keberhasilan meringkus Pencuri Picanto pagi itu adalah jerih payah mereka juga.

"Saya bayangin kejar-kejaran kemarin, pencurian Picanto itu, kalau kita sebarkan lewat medsos, apa iya masyarakat keluar rumah lalu mengejar mobil itu? Tapi ini, kan, karena ada orang di jalan yang dengerin siaran Suara Surabaya, yang karena cuma dengar, mereka bisa melakukan aktivitas lain, yaitu mengejar (mobil itu)," kata Errol Jonathans Direktur Utama Suara Surabaya Media, Senin (10/6/2019).

Peristiwa KIA Picanto pagi itu mengingatkan kita pada peristiwa heroik pengejaran mobil Yaris L 1766 KC, awal September 2015 silam.

Joe, seorang pendengar Radio Suara Surabaya, rela mengorbankan waktunya saat itu--padahal dia sedang perjalanan pulang ke Surabaya bersama keluarganya--untuk mengejar pencuri Yaris di sekitaran Mojosari, Mojokerto.

Rofik pendengar lainnya yang mula-mula melapor ke SS karena melihat Yaris itu melintas di kawasan Mojosari. Sejumlah pendengar lain pun turut berkontribusi pada keberhasilan penggagalan kejahatan pencurian mobil itu.

Menurut Errol, itulah kekuatan "suara".

Di era 4.0, yang mana masyarakat terhubung dalam jaringan besar teknologi dan informasi, yang diprediksi segera digantikan era 5.0 di mana big data dan internet of things akan melebur di setiap aspek kehidupan masyarakat, Errol meyakini, dan akan tetap yakin sampai nanti, bahwa "suara" tak tergantikan.

"Saya tidak bisa bayangkan benar-benar, 5.0 ini akan bikin kita ngapain? Tapi tanda-tandanya, fintech (financial technology) sekarang berkembang sedemikian rupa. Bayar paket internet, belanja, semua lewat ini (telepon seluler). Radio perlu memikirkan betul, konteks relasi, terutama komunikasi personal dan komunikasi massanya musti seperti apa, sehingga tetap punya keunggulan yang tidak dimiliki teknologi di era 5.0. Tapi saya tetap yakin, karena ada expert yang bilang, 'suara' tak tergantikan meski teknologi sudah berkembang begitu rupa," ujarnya.

Mengapa "suara" begitu kuat? Karena menurutnya, suara bisa menggerakkan perasaan dan emosi orang. Itulah yang menjadi kekuatan Radio Suara Surabaya sejak berdiri pada 11 Juni 1983 silam sampai hari ini, di tengah perkembangan teknologi yang begitu pesat.

Radio yang memulai siaran pertamanya pada momentum Gerhana Matahari Total yang terlihat dengan jelas di Indonesia, termasuk di Surabaya, saat itu, juga telah melakukan konvergensi media demi melayani kebutuhan masyarakat atas informasi dalam beragam bentuk.

Suara Surabaya telah menjadi media multiplatform dengan beragam perspektif baik berwujud teks, audio, foto, dan video melalui suarasurabaya.net sebagai portal berita daring, serta melalui media sosial seperti Facebook e100, Twitter @e100ss, Instagram suarasurabayamedia dan YouTube Channel Suara Surabaya, untuk memanjakan seluruh indera pengaksesnya.

"Tapi 'suara' ini yang nampaknya harus terus dikembangkan, sehingga orang tidak menjadi 'petapa sosial'. Melalui suara inilah, Suara Surabaya tetap bisa mendinamisasi masyarakat dalam membangun relasi sosialnya, kekerabatan sosialnya, sehingga bisa bersama-sama melakukan banyak hal baik. Yang saya dengar, 5.0 itu akan mengembangkan aspek humanisme, bukan semata-mata teknologi. Karena selama ini salah satu dampak negatif teknologi ini membuat kita menjadi dehumanis," katanya.

Jepang, Negeri Sakura yang setengah juta penduduknya menjadi "petapa modern" yang dikenal dengan sebutan Hikikomori berdasarkan sebuah penelitian, telah mengenalkan masyarakat 5.0 di mana teknologi digital diaplikasikan dan berpusat pada kehidupan manusia.

Shinzo Abe Perdana Menteri Jepang dalam ajang World Economic Forum (WEF), dikutip kompas.com pada 25 Januari lalu, telah menjelaskan visinya mengenai masyarakat 5.0 ini.

Katanya, masyarakat 5.0 bukan lagi soal modal, tapi data yang menghubungkan dan menggerakkan segalanya, membantu mengisi kesenjangan antara yang kaya dan kurang beruntung, mulai dari layanan kesehatan dan pendidikan, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, menyentuh masyarakat di desa-desa, di kawasan-kawasan terpencil.

Di era itu, kebiasaan dan kehidupan dalam berbagai aspek, seperti kesehatan, finansial, monilitas, infrastruktur, dan lain-lain akan berubah, sebagaimana dikatakan Mayumi Fukuyama, seorang peneliti Jepang, di dalam artikelnya di laman Japan Economic Foundation.

Perkembangan ekonomi dan teknologi di masyarakat 5.0 ini, kata Fukuyama, bertujuan mewujudkan tempat di mana masyarakat dapat menikmati hidupnya. Sehingga perkembangan ekonomi dan teknologi itu bukan hanya untuk sebagian kalangan saja.

Sementara itu dari Negeri Tirai Bambu, China, perkembangan teknologi era 5.0 dalam dunia media massa sudah sangat terasa. Xinhua, Kantor Berita di negara itu telah mengenalkan pembaca berita untuk televisinya yang bukan manusia, melainkan sebuah kecerdasan buatan (artificial inteligence/AI), beberapa waktu lalu.



Seluruh Tim Suara Surabaya Media yang akan selalu konsisten menjalankan visi di era perkembangan teknologi. Foto: Dok. suarasurabaya.net

Indonesia, mungkin dalam waktu dekat, akan menyongsong era yang sama. Di usia ke-36 tahun ini, seluruh Tim Suara Surabaya Media siap berbenah untuk menghadapi Revolusi 5.0 dengan tetap konsisten pada visinya: menjadi sumber pemberdayaan dan kegiatan demokratisasi masyarakat melalui usaha kegiatan media massa, dan terus beradaptasi pada perkembangan teknologi.

"Teknologi bisa memberikan ruang bagi kita untuk membuat masyarakat semakin berdaya. Kami akan berupaya mengapresiasi berbagai hal baik yang dilakukan masyarakat dan memanfaatkan teknologi untuk mempercepat proses penyebarannya."

"Kami akan senantiasa berupaya menghadirkan solusi dan manfaat, sehingga ketika masyarakat tidak mempunyai sarana untuk menjadi besar, Suara Surabaya bisa menjadi alatnya," ujar Errol Jonathans.(den)


Komentar Anda
Komentar 1
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
X
BACA LAINNYA