Senin, 20 Mei 2024

Bapanas Sebut Penyerapan Stok Beras April 2024 Mencapai 4,9 Juta Ton

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Arief Prasetyo Adi Kepala Badan Pangan Nasional. Foto: Humas Badan Pangan Nasional

Arief Prasetyo Adi Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengatakan potensi penyerapan beras pada bulan April diperkirakan mencapai 4,9 juta ton, sehingga produksi tersebut dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap ketersediaan beras dalam negeri.

“Bulan ini (potensi) panen padi 4,9 juta ton setara beras, yang kemarin bulan lalu (Februari) dari 3,5 juta ton naik 3,8 juta ton (pada Maret),” kata Arief seperti dilansir Antara, Kamis (18/4/2024).

Ia menyampaikan angka itu berdasarkan data Kerangka Sampel Area (KSA) dari Badan Pusat Statistik (BPS). Selanjutnya, panen padi bulan Mei juga diperkirakan mencapai 3 juta ton setara beras. Angka ini menurun dari prediksi pada bulan April 2024.

“Bulan ini itu panen 4,9 juta ton bulan depan (Mei) sekitar 3 juta ton. Itu waktunya kita semua untuk serap. Nah sekarang semua on kembali kita siap serap, termasuk Bulog,” katanya.

Arief juga menerangkan penyerapan beras petani secara nasional pada Maret mengalami kenaikan sebesar 300 ribu ton dari bulan sebelumnya, yakni dari 3,5 juta ton menjadi 3,8 juta ton. Meski demikian, dia menilai bahwa jumlah panen pada Maret seharusnya bisa lebih dari 3,8 juta ton, bila wilayah Kabupaten Demak tidak terdampak banjir.

Selain itu, kata Arief, banjir yang melanda wilayah Kabupaten Demak di Jawa Tengah pada awal Maret 2024 membuat panen padi berkurang sebanyak 200 ribu ton karena sebagian sawah di daerah tersebut terendam banjir, bahkan ada yang puso.

“Sekarang kan lagi panen, bulan lalu 3,8 juta ton dari 3,5 juta ton. Jadi malah naik 300 ribu ton. Kemudian dikurangi banjir Demak dan lain lain itu sekitar 17.000 hektare, itu ekuivalen dengan 200 ribu ton,” ucapnya.

Sementara saat ini, Bapanas mencatat stok beras di gudang Bulog secara nasional mencapai 1.231.434 ton per 16 April 2024. Stok tersebut masih kurang dari yang diinginkan Presiden Joko Widodo, dimana stok Bulog minimal mencapai 3 juta ton.

“Kalau Pak Presiden ingin Bulog itu punya minimal 3 juta ton stok beras, kalau penugasan dari Badan Pangan (ke Bulog) kan 2 juta ton, kenapa 2 juta ton? Karena 1,2 juta tonnya itu dipakai untuk SPHP (beras stabilisasi pasokan dan harga pangan), kemudian kita juga punya bantuan pangan (10 kg beras) untuk 22 KPM Januari sampai Juni 2024,” ucap Arief lagi.

Sedangkan terkait importasi beras, Arief menuturkan langkah itu dilakukan secara terukur dan tidak akan mempengaruhi harga gabah kering di tingkat petani.

“Importasi itu dilakukan oleh Bulog, seandainya tetap berjalan pun itu masuk ke gudang (Bulog) dan disimpan. Jadi tidak ada kaitannya dengan harga di tingkat petani. Kalau harga di tingkat petani sekarang ini jatuh karena panennya barengan, kemudian basah dan kapasitas dryer,” tutur Arief.

Lebih lanjut, Bapanas memberlakukan fleksibilitas bagi Perum Bulog untuk harga pembelian pemerintah (HPP) gabah kering panen (GKP) di tingkat petani, menjadi Rp6.000 per kilogram (kg) dari yang sebelumnya Rp5.000 per kg yang diberlakukan mulai diberlakukan sejak 3 April 2024 hingga 30 Juni 2024.

“Kami putuskan adanya fleksibilitas HPP bagi Bulog. Ini agar Bulog dapat meningkatkan stok CBP (cadangan beras pemerintah) yang berasal dari produksi dalam negeri, jadi tidak hanya bersumber dari importasi saja,” kata Arief.

Adapun, fleksibilitas HPP gabah dan beras yang diterapkan bagi Perum Bulog, yakni gabah kering panen (GKP) di tingkat petani yang sebelumnya Rp5.000 per kilogram (kg) difleksibelkan menjadi Rp6.000 per kg.

Selanjutnya gabah kering giling (GKG) di gudang Perum Bulog yang sebelumnya Rp6.300 per kg mengalami fleksibilitas menjadi Rp7.400 per kg.

Sementara itu,  HPP beras di gudang Perum Bulog dengan derajat sosoh minimal 95 persen, kadar air 14 persen, butir patah maksimal 20 persen, dan butir menir maksimal 2 persen yang sebelumnya Rp9.950 per kg difleksibelkan menjadi Rp11.000 per kg.

“Tentu dengan adanya fleksibilitas harga bagi Bulog ini akan menjadi safety net bagi para sedulur petani, agar harga dapat terjaga dengan baik. Tatkala produksi kian meningkat, tentu akan mempengaruhi harga,” ujar Arief.

Arief mengatakan bahwa hal itu sesuai arahan Joko Widodo Presiden untuk selalu mengingatkan bahwa saat panen raya padi, harga di tingkat petani tidak boleh jatuh terlalu dalam, sehingga pemerintah hadir memastikan bersama Perum Bulog yang telah tugaskan untuk menyerap produksi dalam negeri sebagai stok CBP. (ant/sya/bil/ham)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya
Kurs
Exit mobile version