Senin, 24 Juni 2024

ITS Luncurkan Drone Pendeteksi Emisi Udara Pertama di Indonesia

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Drone sniffing karya kolaborasi ITS dengan BKI dan Beehive Drones saat melakukan uji surveillance di atas laut di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Selasa (28/5/2024). Foto: ITS

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) bekerja sama dengan Beehive Drones dan Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) menciptakan Drone Sniffing, sebuah alat inovatif pertama di Indonesia yang mampu mendeteksi emisi gas rumah kaca di udara.

Tri Achmadi Ketua Tim Riset Kedaireka ITS mengatakan, drone itu dilengkapi dengan berbagai fitur canggih yang dapat diakses secara real time untuk meningkatkan keakuratan dan fungsionalitasnya.

“Drone sniffing dengan seri BVD-M16A ini merupakan Pesawat Udara Tanpa Awak (PUTA) multiguna yang memiliki fungsi utama untuk mendeteksi emisi gas rumah kaca yang ada di udara,” katanya setelah peluncuran drone di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Selasa (28/5/2024).

Alat inovatif itu, kata dia, telah ditanami sensor BVD-Sniffing untuk mendeteksi tujuh jenis polutan udara seperti CO2, CO, NO2, NO, SO2, PM2.5, dan PM10. Polutan itu, dapat dideteksi dan diukur kadar dan jenisnya secara real-time, melalui sensor- sensor pendekatan.

Tri mengatakan, drone sniffing juga berfungsi sebagai alat surveillance (pengawas), karena dilengkapi kamera thermal dan kamera RGB yang memudahkan kegiatan surveillance di wilayah perairan. Selain itu, radar Light Detection And Ranging (LiDAR) memungkinkan alat tersebut dalam mengukur kedalaman suatu objek dan menghindarkan alat dari objek-objek lain yang tidak diinginkan.

“Fitur-fitur ini menjadikan drone BVD-M16A efektif untuk menjangkau area yang sulit dan melakukan pemantauan,” ungkap Manajer Pusat Inovasi Kemaritiman ITS ini.

Ia mengatakan, dengan menggunakan dashboard berbasis Internet of Things (IoT), semua informasi dari drone sniffing dapat diakses melalui internet. Dashboard tersebut juga mengandung berbagai sumber informasi mengenai jenis dan kadar emisi, tipe kapal, hingga nama dari pelabuhan.

“Dengan adanya informasi ini, pengguna dapat mengetahui kelayakan suatu kapal dan juga dapat dijadikan acuan untuk menurunkan emisi gas rumah kaca,” terang dosen Departemen Teknik Transportasi Laut tersebut.

Nanang Afandi Kepala Bidang Lalu Lintas Angkutan Laut dan Kepelabuhan berharap, alat itu dapat membantu KSOP dalam mendeteksi emisi polutan dari kapal-kapal di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Ia juga berharap alat itu, dapat digunakan lebih luas lagi untuk mendukung target Indonesia mencapai nol emisi pada tahun 2060 mendatang.

“Penggunaan teknologi ini merupakan langkah penting dalam upaya nasional untuk mengurangi polusi dan menjaga kelestarian lingkungan,” pungkasnya.(ris/ipg)

Berita Terkait

Kurs
Exit mobile version