Jumat, 19 Juli 2024

No News is Bad News, Mengemuka di Kuliah Tamu Komunikasi UMM

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Foto bersama pemateri, dosen, dan peserta kuliah tamu bertajuk Radio Journalism Transformation into Social Media and Content Creation in the Era of Media Convergence, Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (25/6/2024). Foto: Humas Komunikasi UMM

Adagium bad news is good news tidak berlaku di kamus jurnalisme Radio Suara Surabaya (SS). Hal ini disampaikan Adit Jufriansyah penyiar Suara Surabaya (SS) dalam kuliah tamu Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (25/6/2024).

Adit yang juga alumni Komunikasi UMM tampil dalam kuliah tamu bertajuk Radio Journalism Transformation into Social Media and Content Creation in the Era of Media Convergence. Di hadapan ratusan mahasiswa, dia menyampaikan bagaimana mekanisme newsroom di SS sehingga menghasilkan berita yang kredibel.

“Bagi kami tidak berlaku bad news is good news. Tapi good news is also good news. Bahkan no news is bad news,” ungkap host Podcast Lantai 2 di channel Youtube itu.

Pengalaman Adit di dunia radio dimulai sejak menjadi mahasiswa. Di semester lima dia aktif sebagai penyiar UMM FM. Kepiawaiannya di dunia siaran, menjadikannya dikenal sebagai penyiar sekaligus voice over.

Radio, kata Adit memiliki kelebihan dibanding media massa lain. Mirip dengan media sosial, radio cukup bisa mengejar kecepatan informasi. Meski demikian, tidak hanya kecepatan, radio harus mengutamakan ketepatan.

Pengalaman SS menjadi radio yang melayani publik menjadikannya sebagai tempat mengadu bidang apapun. “Kemacetan, motor hilang, anak hilang, kebakaran, semua diadukan ke SS,” ujarnya.

Adit menambahkan, SS memegang teguh azas kehati-hatian dan akurasi. Ini berbeda dengan media sosial yang gampang menginformasikan berita yang belum terverifikasi.

Ditanya salah satu audiens tentang masa depan jurnalisme radio, Adit masih optimistis karena kini radio bisa terkoneksi dengan multimedia, termasuk dengan media sosial.

“Menjadi jurnalis radio kita bisa menjadi announcer, presenter, sampai voice over ataupun dubber. Selain itu koneksi kita akan sangat luas,” tuturnya mencontohkan bisa semeja dengan para menteri, pejabat tinggi, pengusaha dan pesohor lainnya.

Dipandu moderator Winda Hardyanti, kuliah tamu dibuka Wakil Dekan FISIP Salahudin. Diskusi diawali dengan pengantar oleh Kaprodi Komunikasi Nasrullah yang sekaligus dosen jurnalistik.

Salahuddin mengungkapkan kuliah tamu merupakan tradisi akademik yang terus dirawat di UMM. “Menghadirkan praktisi menjadi salah satu cara agar mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan tetapi juga pengalaman empiris narasumber,” katanya.

Dalam pengantarnya, Nasrullah menerangkan sejarah radio yang sempat digdaya pada masa Perang Dunia I dan II. Pada tahun 1938, siaran radio di New York sempat membuat masyarakat panik akibat sandiwara radio Mars Attack. Banyak bunker dibuat oleh orang New York yang ketakutan atas “serangan” dari planet lain itu.

Di era modern, radio seperti Suara Surabaya menjelma menjadi pers sekaligus media sosial. “Ciri media sosial adalah user generated content, nah SS ini telah menerapkan jurnalismenya berdasarkan konten dari pendengarnya,” terang Nasrullah.

Melalui kuliah tamu ini diharapkan mahasiswa mengenal praktik jurnalisme dari perspektif lain. Sebab kini era digital, kata Nasrullah, jurnalisme telah masuk ke media sosial, dan media sosial memanfaatkan jurnalisme sebagai kontennya.(bil/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Pipa PDAM Bocor, Lalu Lintas di Jalan Wonokromo Macet

Perahu Nelayan Terbakar di Lamongan

Kurs
Exit mobile version