Rabu, 22 Mei 2024

Perumahan Pejaya Anugrah Banjir 2 Minggu, Pemkab Sidoarjo Jelaskan Kendalanya

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Banjir di Perumahan Pejaya Anugrah, Kramat Jegu, Taman, Kabupaten Sidoarjo pada Minggu (18/2/2024). Warga melaporkan banjir sudah dua minggu merendam wilayah ini. Foto: Indra Purnama via WA SS

Warga Perumahan Pejaya Anugrah, Kramat Jegu, Taman, Kabupaten Sidoarjo pada Minggu (18/2/2024) melaporkan wilayahnya sudah terendam banjir selama 14 hari atau dua minggu.

“Izin melapor terjadi banjir sudah dua minggu di Perumahan Pejaya Anugrah, Kramat Jegu, Taman, Kabupaten Sidoarjo. Belum ada penanganan yang berarti dan ini banjir terparah. Padahal daerah di sekitar kami tidak ada banjir,” tulis Sri Isa Anshori melalui WhatsApp Suara Surabaya.

Indra Purnama, warga perumahan itu juga melaporkan sudah 14 hari terendam air, banjir. “Mohon Bantuannya Bapak Bupati, Wakil Bupati, instansi terkait yang menangani agar air cepat surut. Dinas Sosial kami tidak ada bantuan sama sekali,” tulisnya sambil mengirimkan foto kondisi banjir di sepanjang gang.

Dwi Eko Saptono Kepala Dinas PU Bina Marga dan Sumber Daya Air Kabupaten Sidoarjo mengatakan, drainase di area tersebut memang kurang sempurna sehingga aliran air hujan sulit. Ditambah lagi topografi kawasan itu cekung. Kemudian debit air di Avour Kemendung masih tinggi dan intensitas hujan juga tinggi.

“Sudah ada dua rumah pompa dengan kekuatan masing-masing 1.200 liter per detik, tapi ternyata intensitas hujan tinggi. Jadi belum bisa mengatasi dengan sempurna,” ujarnya kepada Radio Suara Surabaya, Minggu (18/2/2024).

Dia menjelaskan, saat ini Sungai Kemendung sudah dinormalisasi, tapi untuk pembangunan plengsengan yang di dekat Perumahan Pejaya Anugrah masih pengadaan. “Kami siapkan untuk wilayah sana. Mungkin awal Maret bisa dilaksanakan,” kata dia.

Pemkab Sidoarjo, kata Dwi Eko, juga berencana melengkapi drainase di wilayah tersebut pada tahun ini. “Drainase di perumahan itu banyak yang tersumbat. Perlu dukungan warga untk menjaga kebersihan saluran,” tuturnya.

Sementara terkait penanganan banjir di titik lain, Dwi Eko mengutarakan kesulitannya melakukan normalisasi di Avour Buntung karena sepanjang sungai tersebut dipenuhi bangunan. Rumah dan toko yang menutup akses alat berat untuk mengurangi sedimentasi Sungai Buntung itu, menurut dia, sudah ada sejak zaman dulu.

“Beruntung masih ada satu lahan yang bisa dipakai untuk menempatkan alat berat untuk pembersihan. Tahun 2022 kami pernah menertibkan dan di data kami lebar sungai itu 6-7 meter, bisa jadi sekarang tinggal 2 meteran, Kami upayakan kembali dilebarkan,” kata Dwi Eko.(iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya
Kurs
Exit mobile version