Sabtu, 15 Juni 2024

Polling Suara Surabaya: Respons Beragam Masyarakat Terkait Kelas Menengah Sulit Jadi Orang Kaya

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Hasil Wawasan Polling Suara Surabaya Media terkait apakah kelas menengah di Indonesia sulit jadi orang kaya? Foto: Bima magang suarasurabaya.net Hasil Wawasan Polling Suara Surabaya Media terkait apakah kelas menengah di Indonesia sulit jadi orang kaya? Foto: Bima magang suarasurabaya.net

Mengutip dari hasil tim jurnalisme data Harian Kompas, kelas menengah di Indonesia sulit jadi orang kaya.

Kelas menengah, sesuai kategori Badan Pusat Statistik (BPS), yang pengeluarannya dari Rp 1,7 juta hingga Rp 8,2 juta per orang per bulan.

Ada kesenjangan sisa gaji per bulan antara kelas menengah dan kelas kaya usia produktif (15-64 tahun) di tahun 2021.

Sisa gaji masyarakat kelas atas, Rp 1,59 juta per orang per bulan yang nilainya setara dengan 3,64 kali lebih besar dari warga kelas menengah.

Sementara rata-rata sisa gaji kelas menengah dalam satu tahun pada 2021 Rp 435.888 per bulan. Dengan sisa gaji ini, tidak banyak uang yang bisa ditabung dan diinvestasikan.

Kondisi ini menyulitkan kelas menengah yang jumlahnya 38,5 juta jiwa atau 20,7 persen dari penduduk Indonesia naik kelas jadi orang kaya.

Lantas, apakah kelas menengah di Indonesia sulit jadi orang kaya?

Dalam diskusi di program Wawasan Polling Suara Surabaya pada Kamis (7/3/2024) pagi, masyarakat memberikan respons beragam tentang kelas menengah di Indonesia sulit jadi orang kaya.

Dari data Gatekeeper Radio Suara Surabaya, dari total 26 pendengar yang berpartisipasi, delapan di antaranya (31 persen) setuju kelas menengah sulit jadi orang kaya. Kemudian 18 lainnya (69 persen) tidak setuju.

Sementara dari data di Instagram @suarasurabayamedia, sebanyak 205 votes (78 persen) setuju masyarakat setuju kelas menengah di Indonesia sulit jadi orang kaya. Sedangkan 57 lainnya (22 persen) tidak setuju.

Menyikapi hal tersebut, Rumayya Batubara dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (Unair) menjelaksan, berdasarkan data World Inequality Database, sebanyak 20 persen orang terkaya di Indonesia menguasai 50 persen ekonomi di Indonesia.

“Jadi memang tinggi sekali ketimpangan di Indonesia,” kata Rumayya Batubara ketika on air di Radio Suara Surabaya.

Jika berbicara pendapatan, maka tak lepas dari pekerjaan. Pekerjaan terdiri dari high-paying job dan low-paying job.

“Kenapa kelompok menengah di Indonesia sudah naik ke atas? Karena memang ada gap dalam hal kompetensi yang sangat besar,” ujarnya.

Ia mencontohkan , persentase manusia Indonesia untuk level perguruan tinggi yang benar-benar kuliah cuma sebelas persen. Sedangkan Malaysia itu 45 persen.

Untuk itu, ia mendorong pemerataan perguruan tinggi di Indonesia. Serta menemukan formula untuk mendukung agar lebih banyak warga Indonesia yang sekolah hingga jenjang tertinggi.

Selain itu, ia menyebut ada gap antara kampus negeri dengan swasta dan gap di antara sesama kampus negeri. Oleh karena itu, ia menyarankan kampus-kampus besar yang sudah diakui kualitasnya untuk membuka di Papua, Kalimantan, atau wilayah lainnya.

Ia juga menyorot bagaimana minimnya bantuan untuk kalangan ekonomi menengah. Menurutnya, ada banyak bantuan untuk kalangan miskin.

“Nah yang menengah ini kan (disebut) miskin juga tidak, (disebut) kaya pun tidak,” ujarnya.

Rumayya Batubara mengamini bahwa kelompok ekonomi menengah paling rentan terhadap terdampak guncangan ekonomi.

“Sebab sebagian besar mereka di bidang informal. Tabungan juga terbatas, aset juga terbatas. Jadi memang sangat rentan dengan guncangan ekonomi,” tuturnya. (saf/ipg)

Berita Terkait

Kurs
Exit mobile version