ROAD TO ISTANA

BPN Ungkap Daftar Proyek Infrastruktur Jokowi yang Terancam Mangkrak

Laporan Muchlis Fadjarudin | Selasa, 12 Februari 2019 | 20:30 WIB
Suhendra Ratu Prawiranegara Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi yang juga Staf Khusus Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Foto: RMOL
suarasurabaya.net - Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi membeberkan daftar proyek infrastruktur yang dibangun tanpa proses perencanaan matang dan terancam mangkrak. Proyek jalan tol trans Jawa berada di urutan pertama.

Suhendra Ratu Prawiranegara Juru Bicara BPN mengatakan jalan tol trans Jawa yang dibangun Jokowi hanya dimanfaatkan selama libur lebaran Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru. Menurut catatan Suhendra, hanya sekitar 15 hari dalam setahun jalan tol benar-benar padat.

"Di luar hari libur panjang itu, jalan tol sepi dan cenderung kosong melompong," kata Suhendra dalam keterangannya, Selasa (12/2/2019).

Tidak hanya minim perencanaan, jalan tol yang dibangun pemerintahan Jokowi bukan untuk kepentingan rakyat, tapi untuk para pengembang di sepanjang jalur tersebut. Contohnya jalan tol layang Jakarta-Cikampek yang dinilai Suhendra lebih dibangun karena ada Meikarta.

"Jalan tol layang itu harganya juga sampai dua kali lipat. Pembangunan jalan tol layang Jakarta-Cikampek biayanya mencapai Rp350 Miliar/km. Padahal jalur biasa hanya perlu Rp150 miliar/km," kata mantan Staf Khusus Kementerian PUPR ini.

Tidak hanya jalan tol, Suhendra juga menyoroti pembangunan atau perluasan sejumlah bandara yang kini minim kegunaannya. Diantaranya penambahan parkir pesawat VIP di Bandara Ngurah Rai, Bali, jelang pertemuan IMF-Bank Dunia tahun lalu yang menghabiskan dana Rp2,2 triliun.‎

"Lalu, bandara Kertajari, Jawa barat dan bandara Silangit yang sepi penumpang. Padahal bandara tersebut baru saja dibangun dengan dana miliaran rupiah. Kenapa terus membangun kalau kegunaannya minim dan tidak mempunyai nilai ekonomis? Semoga ini bukan untuk pencitraan," sindir Suhendra.

"Lalu ada Pembangunan Jembatan Pulau Balang di Kaltim yang menelan biaya Rp1,4 Triliun juga akan berpotensi mangkrak. Karena jalan akses untuk jembatan ini belum ada. Jadi jembatan selesai dibangun, belum bisa dipakai (fungsional).Bagaimana ini perencanaan programnya ya? Dana APBN yang dipakai untuk membangun jembatan ini tidak sedikit lho?" imbuhnya.

Suhendra juga memasukkan LRT Palembang dalam daftar infrastruktur yang tak direncanakan dengan baik. Sejak diresmikan tahun 2018 lalu, LRT pertama di Indonesia itu hanya menangguk pendapatan 10 persen dari biaya operasional yang harus dikeluarkan yang mencapai Rp10 miliar per bulan.

"Tak perlu menunggu lama, pembangunan infrastruktur tanpa perhitungan yang jelas itu sudah kelihatan besar sekali kerugiannya dan akan menjadi beban berat bagi anggaran publik di masa yang akan datang. Di sisi lain, pembangunan infrastruktur yang utilisasinya minim jelas-jelas adalah bentuk pemborosan dan inefisiensi," jelas Suhendra.(faz/iss/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.