ROAD TO SENAYAN

Sandiaga Tegaskan Terus Dampingi Prabowo Sampai Titik Darah Penghabisan

Laporan Denza Perdana | Rabu, 15 Mei 2019 | 20:26 WIB
Sandiaga Uno menghadiri acara buka puasa bersama di Markas Badan Pemenangan Provinsi (BPP) Jatim untuk Prabowo Sandi. Foto: Denza suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Sandiaga Salahudin Uno Calon Wakil Presiden Nomor Urut 02 pendamping Prabowo Subianto melakukan sejumlah kegiatan di Surabaya, Rabu (15/5/2019). Dia menyampaikan pesan Prabowo Subianto agar semua pendukungnya berjuang.

Setelah mengunjungi rumah salah satu petugas pemilu yang meninggal di kawasan Ngagel, Surabaya, Sandiaga Uno menghadiri acara buka puasa bersama di Markas Badan Pemenangan Provinsi (BPP) Jatim untuk Prabowo Sandi.

Tenda dan kursi disiapkan di halaman Kantor BPP di Gayungsari Surabaya, yang bersebelahan dengan Museum Nahdlatul Ulama Surabaya. Sejumlah pendukung pasangan Prabowo-Sandi sudah berkumpul sejak pukul 16.00 WIB.

Sandiaga Uno sempat menghadiri rapat tertutup dengan para pemimpin BPP Jatim. Dia mendengarkan laporan BPP tentang sejumlah catatan kecurangan yang terjadi dalam proses Pemilihan Umum 2019.

Setelah rapat, menjelang waktu berbuka puasa, Sandi menyampaikan pidato. Sebagian besar isi pidato itu adalah pesan dari Prabowo Subianto yang dibacakan Sandi dari komputer tabletnya.

Dari atas panggung, Sandi membakar semangat pendukungnya untuk terus berjuang. Dia memulai dengan pemaparan perubahan-perubahan penting dalam sejarah Bangsa Indonesia yang terjadi setiap 20 tahun sekali.

"Antara 14-21 Mei 1998 adalah hari-hari penting dalam perjalanan bangsa kita. Tekanan massa saat itu membawa perubahan baru yang kita kenal sebagai era reformasi, era di mana kita memasuki demokrasi. Kita bebas berekspresi dan berserikat," ujarnya.

Dia menekankan, apa yang bisa diambil dari peristiwa Mei 1998 bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat, bukan di tangan penguasa. Pemimpin negara, kata dia, dipilih oleh rakyat.

"Reformasi adalah titik batu pijakan penting sejarah bangsa kita. Sejarah bangsa ini, setiap 20 tahun selalu ada batu loncatan besar. Pergerakan pemuda Budi Oetomo pada 20 mei 1908, 28 Oktober 1928 sumpah pemuda, dan pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan Hatta," paparnya.

Lalu, 20 tahun kemudian, terjadi revolusi pergantian pemimpin nasional dari sebelumnya dijabat oleh Soekarno ke Suharto pada Tahun 1965 yang disebut Gerakan 30 September atau juga dikenal dengan singkatan G30S-PKI.

"Kini 20 tahun setelah orde reformasi, bagaimana keadaan demokrasi kita?" Tanyanya kepada pendukungnya. "Bagaimana keadaan Demokrasi kita?"

"Kita baru saja lewati Pemilu 2019 yang menorehkan sejumlah catatan memprihatinkan. Sejarah akan mencatat, inilah Pemilu paling memilukan, dan paling memakan korban. Lebih dari 600 orang KPPS wafat, lebih dari 3 ribu orang dirawat. semoga yang wafat berstatus mati syahid, karena gugur di saat menjalankan tugas kenegaraan," katanya.

Sandi juga menyebutkan tentang aroma tajam politik uang yang terjadi pada Pemilu 2019 ini. Bukti yang dia sampaikan, adanya orang penting Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin yang tertangkap tangan oleh KPK bersama barang bukti 400 ribu amplop berisi uang.

"Di Jawa Timur kita mendengar banyak cerita bagaimana 'gelombang tsunami amplop politik uang' memasuki rumah-rumah warga, dikawal oleh aparat pemerintah, bahkan oleh aparat keamanan," katanya.

Da mengakui, mencari bukti praktik-praktik politik uang ini bukanlah hal yang mudah. Dia pun mengajak setiap orang agar jujur mengakui, bahwa praktik politik uang itu memang terjadi, di banyak tempat, termasuk di Jawa Timur.

Sandi juga menyebut "Parade Hitung Cepat" yang dilakukan oleh lembaga survei yang merangkap konsultan pasangan calon tertentu. Juga hasil laporan BPP Jatim tentang adanya "Daftar Pemilih Tetap (DPT) siluman."

"Kami merasakan izin kampanye dipersulit. Pak Prabowo gagal terbang dan terhambat saat mendarat, dan sejumlah kisah lainnya yang menyempurnakan daftar cacat Pemilu 2019 kali ini. Keadaan di atas berlangsung dalam suasana instrumen control dan penyimpangan Check and Balance Demokrasi yang terus dilumpuhkan," ujarnya.

Sandi juga menyampaikan, dia dan Prabowo menaruh simpati kepada awak media massa, yang menurutnya, berada di bawah tekanan sehingga tidak memberitakan berbagai kecurangan yang terjadi dalam Pemilu 2019.

Semua itu dia sebut sebagai upaya sistematis dalam melemahkan suara oposisi. "Betul?" Tanyanya disambut jawaban dari pendukungnya, "betul!"

"Haruskah kita diam melihat situasi ini dan mendiamkan? Apakah kita akan membiarkan demokrasi kita diberangus poltik uang?" Pertanyaan itu dijawab seruan, "tidak!" Oleh pendukungnya. "Tidak, saya dan pak Prabowo menyatakan tidak! Dan kita tidak boleh mendiamkan keadaan ini," ujarnya.

Sandi lantas menyebutkan tentang Surat Wasiat Prabowo yang sedang disusun bersama ahli hukum. Surat wasiat itu, kata Sandi, akan menjadi penanda bahwa perjuangan Prabowo Subianto untuk NKRI tak akan pernah surut, hingga hembusan nafas terakhir.

"Saya sendiri, di Surabaya ini menyatakan, akan terus mendampingi dan mendukung Pak Prabowo sampai titik darah penghabisan," ujarnya.

"Surabaya adalah kota perjuangan. Ini Kotanya para pejuang. Kami mengajak saudara untuk terus berjuang sekuat tenaga, jaga kedaulatan rakyat!" Katanya.

Sandi mengajak pendukungnya berjuang bersama dengan cara-cara bermoral, cara-cara yang legal. Sandi juga meminta seluruh pendukungnya tidak takut, karena semua aksi yang akan mereka lakukan adalah aksi damai, dengan cara-cara yang konstitusional.(den/rst)
Editor: Restu Indah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.