Sabtu, 15 Juni 2024

Polling Suara Surabaya: Masyarakat Setuju Indonesia Negara Terbaik untuk Pensiun

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Hasil Wawasan Polling Suara Surabaya Media terkait apakah Indonesia negara terbaik untuk pensiun? Foto: Bima magang suarasurabaya.net

Berdasarkan survei Global Expat Retirement Index 2024 di Majalah CEOWORLD, Indonesia masuk sepuluh besar sebagai negara terbaik untuk pensiun ekspatriat.

Laporan ini menggunakan tingkat kesehatan, keramahan masyarakat lokal, kesejahteraan, kualitas hidup, rekreasi, kemudahan untuk menetap, budaya, kehidupan malam dan ragam pilihan kuliner sebagai standar penilaiannya.

Tidak hanya tingkat kualitas hidup, kehidupan yang dinilai murah dan aman menjadi alasan beberapa negara dipilih untuk pensiun ekspatriat.

Ekspatriat menetap di negara lain karena keperluan pekerjaan dan biasanya dilakukan oleh orang dengan pendidikan dan status sosial tinggi.

Situasi ini dinilai berbeda dengan buruh imigran yang bertujuan mendapat kehidupan yang layak, serta tidak selalu dilatarbelakangi pendidikan dan status sosial yang mumpuni.

Pada laporan yang disusun oleh U.S. News & World Report 2023 tentang negara terbaik, Indonesia menempati peringkat ke-41.

Kategori yang mendapat skor paling tinggi adalah keterbukaannya untuk bisnis, mencapai 66,7. Soal kualitas hidup, Indonesia baru mendapat skor 20 dan menjadi negara di peringkat ke-38.

Poin terjangkau mendapatkan skor 97, mendekati sempurna. Tapi sistem pendidikan dan kesehatan publik dinilai masih rendah, masing-masing hanya mendapat skor 1,4 dan 2,7.

Lantas, apakah Anda setuju Indonesia menjadi negara terbaik untuk pensiun?

Dalam diskusi di program Wawasan Polling Suara Surabaya pada Kamis (14/3/2024) pagi, masyarakat menilai Indonesia merupakan negara terbaik untuk pensiun.

Dari data Gatekeeper Radio Suara Surabaya, dari total 28 pendengar yang berpartisipasi, 22 di antaranya (79 persen) setuju Indonesia negara terbaik untuk pensiun. Kemudian enam lainnya (21 persen) tidak setuju.

Sementara dari data di Instagram @suarasurabayamedia, sebanyak 119 votes (58 persen) setuju Indonesia negara terbaik untuk pensiun. Sedangkan 85 lainnya (42 persen) tidak setuju.

Menyikapi hal tersebut, Pinky Saptandari Ketua Umum Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BK3S) Jawa Timur setuju bahwa Indonesia memang negara terbaik untuk pensiun.

“Memang Indonesia, secara iklim, sosial, budaya, dan ekonomi, cocok untuk pensiunan. Terutama yang dari luar negeri. Sebab mereka mereka tabungannya Dolar tapi pengeluarannya Rupiah,” ujar Pinky dalam program Wawasan Radio Suara Surabaya, Kamis pagi.

Pinky menyebut masalah pensiunan adalah penghasilan. Serta kesejahteraan sosialnya. Di mana para pensiunan ini ingin tetap sehat dan tetap aktif.

“Jika tenaga dan ilmunya masih punya nilai ekonomi, misalnya menjadi pembicara atau konsultan, itu bisa menambah kesejahteraannya. Meski sebenarnya tujuan utamanya bukan untuk mencari penghasilan, tapi bagaimana mencari kegiatan yang berguna untuk diri sendiri, keluarga, komunitas dan mungkin juga untuk bangsa dan negara,” jelasnya.

Pinky Saptandari menyebut masa tua tidak boleh berhenti. Jika ada pensiunan guru, dokter, perawat, atau apa saja, itu bisa dimaksimalkan ilmunya.

“Ilmunya kan nggak akan lekang dengan zaman, masih berguna. Kita gunakan saja di komunitas masing-masing,” ujar Pinky.

Keberdayaan dan pengalaman itu menjadi suatu yang berharga dan bisa disalurkan ke komunitas. Seperti di Jember, Jawa Timur yang memiliki Sekolah Eyang Segar (sehat dan bugar).

Pinky Saptandari juga sepakat bahwa uang yang dimiliki tidak dimanfaatkan untuk membeli rumah. Melainkan untuk membeli kebun.

“Dengan mengelola kebun, membuat kita tidak perlu membeli sayur. Sebab tanaman seperti cabai dan tomat bisa ditanam sendiri. Hasilnya juga bisa mengurangi pengeluaran untuk belanja sehari-hari. Serta lebih sehat,” bilangnya.

Pinky Saptandari menekankan pentingnya kehadiran pemerintah dalam merangkul para pensiunan atau lansia ini. Dengan cara memberi kemudahan untuk kesehatan hingga masalah rekreasi.

“Walaupun lanjut usia menjadi bagian dari Dinas Sosial, bukan berarti instansi lain tidak peduli? Dinas kesehatan juga harus berperan, pun dinas perindustrian dan perdagangan. Kalau mereka bikin produk-produk, ya beri bantuan atau pendampingan, atau dilibatkan di pameran. Hal-hal semacam itu yang merupakan bagian dari sukses tanggung jawab pemerintah, termasuk swasta,” jabarnya.

Pinky mencontohkan bagaimana pemberdayaan pensiunan di Singapura atau di Taiwan. Para pensiunan mendapat kesempatan untuk beraktivotas dan bisa mendapat tambahan uang untuk sekadar membeli jajan.

“Hal semacam ini harus diperhatikan, tentang bagaimana mewujudkan kota dan kabupaten atau provinsi yang ramah lansia. Tidak saja dari fasilitas kesehatan, pihak swasta juga memberikan peluang kerja di hal yang mudah. Sepanjang mereka masih mau dan mampu, kenapa tidak,” terangnya.

Sebab, jika para pensiunan atau lansia ini hanya dibiarkan pasif di rumah, lama kelamaan akan mengalami penurunan. Bahkan bisa mengalami kepikunan. (saf/ipg)

Berita Terkait

Kurs
Exit mobile version