Aksi protes kerusakan jalan di jalur Kecamatan Tempeh menuju Lumajang yang merupakan ruas jalur penghubung antara Kabupaten Lumajang menuju Malang terus berlanjut hingga, Senin (6/12/2013) sore. Dimana, masyarakat dan aktivis PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Komisariat STKIP PGRI Lumajang terus menyuarakan tuntutan dan aksi blokir jalan.
Namun demo protes kerusakan jalan ini, sempat diwarnai gesekan dan ricuh antara aktivis PMII dan wartawan yang meliput aksi itu. Ricuh itu terjadi ketika aktivis PMII bergerak menuju Kantor Pemkab Lumajang untuk menyampaikan tuntutannya akan percepatan perbaikan jalan.
Di depan Kantor Pemkab Jl. Alun-Alun Utara, puluhan aktivis PMII yang membawa serta satu truk bermuatan pasir, langsung memblokir gerbang sisi timur kantor pemerintahan itu dengan urukan pasir. Tidak hanya itu saja, mereka juga menimbun pasir selayaknya sebuah kuburan dengan menancapkan nisan dan membakar ban.
Selanjutnya, para mahasiswa menyampaikan orasinya melalui pengeras suara agar Pemkab bertanggungjawab dengan melakukan perbaikan jalan secepatnya. “Sudah banyak jatuh korban, pengendara yang terjatuh di jalan sepanjang Kecamatan Tempeh menuju Kota Lumajang. Sudah cukup korban yang meninggal akibat kecelakaan di sana,” kata Azizah, juru bicara PMII.
Dalam aksi demo yang dijaga ketat puluhan personil Polres Lumajang ini, mahasiswa berusaha masuk ke Kantor Pemkab Lumajang. Tujuannya agar tuntutan mereka bisa disampaikan langsung kepada DR H Sjahrazad Masdar, MA Bupati. Namun, upaya mereka tidak berhasil dengan blokade yang dilakukan aparat kepolisian bersama Satpol PP.
Hal inilah yang kemudian memicu gesekan. Dimana, mahasiwa bersitegang dengan personil Polres Lumajang yang kemudian diwarnai aksi saling dorong dan baku hantam. Buntutnya, sedikitnya 4 aktivis PMII sempat ditendang dan diseret oleh petugas.
Yuli Purwanto, Ketua Komisariat STKIP PGRI Lumajang yang lengannya terluka akibat diseret aparat Polres Lumajang kepada Sentral FM mengatakan, sebelum menjadi korban tendangan dan diseret aparat, ia berusaha menyelamatkan salah-seorang anggotanya yang terlebih dulu diperlakukan sama oleh polisi.
“Saya berusaha menyelamatkan anggota saya. Namun akhirnya, saya ikut menjadi korban,” ucap Yuli Purwanto. Insiden itu kemudian mereda setelah petugas kemudian menyudahi aksinya. Bahkan, dua aktivis PMII yang sebelumnya sempat diamankan petugas ke dalam Mapolres Lumajang, kemudian dikeluarkan lagi.
Di antara sekerimit aksi tendang dan seret polisi itu, juga terjadi ricuh antara wartawan dengan polisi. Dimana, reporter Trans7 Nurhadi Wicaksono yang sibuk mengambil gambar insiden tersebut, kemudian terkena pukulan dengan tiang bendera PMII yang direbut polisi.
Aksi inilah yang memicu protes wartawan kepada aparat Polres Lumajang. Protes itu akhirnya ditanggapi dengan mediasi oleh personil Unit Propam. Dan, pelaku pemukulannya, Aiptu Imam dari bagian Telematika meminta maaf kepada Nurhadi Wicaksono.
Selanjutnya, aparat Polres Lumajang melakukan blokade di gerbang Mapolres Lumajang karena mahasiswa bergerak ke sana. Wakapolres Lumajang Kompol Andi Firasadi yang memimpin pengamanan, memerintahkan anak-buahnya untuk menjaga agar mahasiswa tidak sampai masuk, apalagi membobol pintu gerbang Mapolres.
Namun di depan Mapolres Lumajang, mahasiswa hanya meneriakkan orasi dan melakukan aksi duduk. Aksi itu hanya sebentar saja, sebelum kemudian mereka bergerak kembali ke kawasan Gladak Abang untuk melanjutkan aksi blokir jalan. (her/ipg)
Teks Foto :
– Aktivis PMII menggelar aksi demo depan Kantor Pemkab dan Polres
Foto : Sentral FM
NOW ON AIR SSFM 100
