Ada insiden yang mengejutkan dalam kunjungan Mayjend Purn DR Samsul Maarif Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Pos Pantau Gunung Api Gunung Semeru Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jumat (23/5/2014).
Dari pantauan Sentral FM, setelah melihat langsung aktivitas seismik dan mengelar rapat koordinasi dengan jajaran Forum Pimpinan Daerah yang diikuti Soeparno Kepala Pos Pantau, jajaran BPBD Kabupaten Lumajang dan berniat meninggalkan lokasi, tiba-tiba muncul sejumlah orang yang mengaku sebagai calon jamaah umroh PT Bestari yang berkedudukan di Kabupaten Jember dan keluarganya.
Mereka kemudian menghadang langkah Samsul Maarif yang berkeinginan meningalkan Pos Pantau tersebut dengan langsung menyodorkan serentetan tuntutan terkait kapan kepastian keberangkatan calon jamaah umroh PT Bestari yang beralamatkan di Jl. Mastrip, Jember ini.
“Pak kami jamaah umroh PT Bestari Jember. Kami minta kepastian kapan diberangkatkan,. Kami sudah membayar lunas dan ada kwitansinya. Tapi selama ini kami hanya dijanji-janjikan saja tanpa ada kepastian. Kantor PT Bestari di Jember juga tutup,” kata Fauzin, calon jamaah umroh PT Bestari asal Kecamatan Kencong, Jember yang jauh-jauh datang ke Pos Pantau Gunung Api Gunung Semeru untuk menagih kepastian dari Samsul Maarif.
Seketika saja insiden ini membuat kaget berbagai pihak, termasuk Forum Pimpinan Daerah (Forpimda) yang diantaranya adalah AKBP Singgamata Kapolres dan Letkol Inf Akhyari Dandim 0821.
Rupanya, calon jamaah umroh ini tidak salah alamat, karena mereka tahu persis bahwa Kepala BNPB Samsul Maarif merupakan Komisaris dari PT Bestari yang bergerak dalam bidang investasi dan penyelenggaraan umroh di Jember tersebut.
Mendapatkan tuntutan seperti itu, semula Samsul Maarif enggan menanggapi dengan terus saja menuju mobil Ranger BNPB yang telah diparkir di halaman Pos Pantau. Tidak mau tuntutannya diabaikan, keluarga calon jamaah umroh lainnya, Hafid yang juga wartawan Radar Jember, Jawa Pos Grup pun turut menghadang.
“Saya keluarga calon jamaah umroh PT Bestari Pak. Bapak saya sampai sekarang belum diberangkatkan umroh dan hanya dijanji-janjikan saja. Padahal sudah membayar lunas. Masih banyak calon jamaah lainnya Pak, termasuk ini,” kata Hafid seraya menunjuk kepada seseorang di sampingnya.
Dengan tuntutan itu, akhirnya dari dalam mobilnya Samsul Maarif menyatakan, siap untuk bertemu dengan mereka namun tidak di lokasi tersebut. “Nanti saya pingin ketemu. Kita bicarakan ini di tempat tertutup,” kata Samsul Maarif yang kemudian meninggalkan Pos Pantau Gunung Api Gunung Semeru.
Sepeninggal Samsul Maarif, Fauzi seraya menunjukkan bukti kwitansi pembayaran umroh yang telah dilunasinya menyatakan dirinya berkeinginan mendapatkan kepastian keberangkatan umroh kepada Samsul Maarif selaku Komisaris PT Bestari, Jember. “Saat ini ada 45 orang calon jamah umroh PT Bestari yang tidak diberangkatkan, termasuk saya sendiri,” katanya.
Perusahaan itu sebelumnya hanya bisa menjanji-janjikan saja. Terakhir, pada 3 Maret ke-45 calon jamaah umroh dijanjikan akan diberangkatkan. Akan tetapi, janji itu kembali meleset. “Kami, 45 calon jamah umroh merasa dikecewakan. Kami ada yang dari Lumajang, Jember, Situbondo dan Bondowoso,” paparnya.
Padahal, masih kata Fauzin, para jamaah rata-rata telah membayar Rp. 21 Juta kepada PT Bestari. “Ada bukti kwitansi pembayaran dari PT Bestari, seperti ini. Tertundanya pemberangkatan ini, berdampak terhadap psikolog calon jamah umroh. Bahkan saat ini ada yang sakit. Sejauh ini kami masih belum melaporkan masalah ini, termasuk ke kepolisian,” demikian pungkas Fauzin. (her/ipg)
Teks Foto :
1. Fauzin Jamaah Umroh asal Kecamatan Kencong, Jember yang menghadang rombongan Samsul Maarif Kepala BNPB di Pos Pantau Gunung Api Gunung Semeru di Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro.
2. Fauzin.
Foto : Sentral FM
NOW ON AIR SSFM 100
