Sabtu, 3 Januari 2026

Guguran Awan Panas Semeru Berpotensi Meluncur 9 Kilometer Arah Tenggara

Laporan oleh Sentral FM Lumajang
Bagikan

Kegiatan vulkanik berupa guguran awan panas Semeru yang berpotensi meluncur hingga radius 9 kilometer ke arah tenggara bibir kawah Jonggring Saloko, terjadi dengan waktu yang tidak sebentar.

Dari pantauan Sentral FM, kepada Mayjend Purn DR Samsul Maarif Kepala BNPB, Soeparno Kepala Pos Pantau Gunung Api Gunung Semeru menjelaskan bahwa sejauh ini tidak ada peningkatan signifikan dari kegiatan dapur magma gunung dengan ketinggian 3.676 meter diatas permukaan laut (mdpl) tersebut. “Untuk kegiatan vulknaik Gunung Semeru dari data yang kami dapat dan analisa, tidak ada peningkatan yang signifikan,” kata Soeparno.

Sejauh ini tidak ada letusan yang terjadi dengan skala besar. Hanya letusan dengan ketinggian 400 meter yang terjadi setiap interval 25 menit sekali. Letusan ini mengeluarkan material vulkanik yang berpotensi mengurangi penumpukan energi di dapur magma Gunung Semeru. Sedangkan untuk hembusan, merupakan kegiatan vulkanik lebih kecil karena yang dikeluarkan adalah air.

“Pasalnya, harus diawali dengan munculnya gempa-gempa tremorharmonik dulu. Kemudian muncul kubah lava lalu terjadi longsor besar. Saat ini tidak teramati munculnya kubah lava baru. Meski saat ini terjadi longsoran, namun sifatnya kecil dan itu biasa terjadi. Untuk kegiatan vulkanik Semeru, rekomendasinya tetap sama,” pungkas Soeparno.

Dari penjelasan yang disampaikan Soeparno Kepala Pos pantau Gunung Api Gunung Semeru bahwa yang berbahaya dari aktivitas vulkanik Semeru adalah gugurn awan panas yang bisa mencapai radius 9 kilometer ke arah tenggara yang merupakan bukaan jalur letusan, hal itu menjadi perhatian Samsul Maarif Kepala BNPB.

Pasalnya, pada radius 8 kilometer arah tenggara dilaporkan terdapat pemukiman masyarakat di Dusun Rowobaung, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo. Sehingga, Soeparno menyampaikan, jika terjadi guguran awan panas, maka pemukiman tersebut akan terdampak dan sangat membahayakan keselamatan jiwa warganya.

Terkait hal ini, Samsul Maarif mengungkapkan, harus ada kewaspadaan dengan penetapan peta rekontijensi pada status merah. “Nantinya, harus ada pelatihan bagi warga setempat agar mereka bisa dan tahu prosedur mobilisasi pengungsian sampai pada daerah hijau atau aman. Mana penetapan titik pengungsian di daerah hijau, itu yang nanti ditetapkan dalam dokumen peta rekontijensi bencana erupsi Semeru,” terangnya.

Ia mencontohkan, peta rekomentijensi erupsi Gunung Kelud yang ditetapkan bagi warga daerah Ngancar yang berstatus merah, maka mobilisasi pengungsiannya ke daerah Kecamatan Kepung atau ke daerah Kediri yang jaraknya lebih jauh dan bisa diselamatkan. “Masyarakat juga harus dilatihkan, mana tempat pengungsiannya. Hal yang sama juga harus dilakukan terhadap masyarakat di Dusun Rowobaung,” urainya.

Samsul Maarif juga menyampaikan, bahwa perilaku gunung api di Indonesia ini tidak sama. Gunung bisa meletus dengan waktu tahunan. Ia mencontohkan, Gunung Galunggung dalam waktu 1 tahun. Sinabung sampai 6 bulan. Rokatenda dalam waktu hampir 1 tahun statusnya up and down. Kesulitannya adalah penanganan pengungsi.

“Untuk merelokasi masyarakat, ini yang sudah. Ini dibutuhkan perencanaan dan bagaimana kecepatan menyelamatkan orang. Bagi insane kemanusiaan yang bergerak di bidang bencana, dalam hal ini setiap stake holder, teman pemantau gunung, relawan, diminta untuk siap-siaga dan waspada sewaktu-waktu,” imbaunya.

Dalam kesempatan ini, Kepala BNPB juga menyampaikan bahwa masyarakat Jatim dalam penanganan dan penangulangan kebencanaan, sejauh ini dinilai bisa menjadi contoh nasional. “Bagaimana local wisdom (kearifan budaya lokal, red) masyarakat, semua kesulitan dalam menangani kebencanaan bisa diatasi dengan kegotong-royongan,” demikian pungkas Samsul Maarif. (her/dwi)

Teks Foto :
– Soeparno Kepala Pos Pantau Gunung Api Gunung Semeru di Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro Soeparno memberikan penjelasan kepada Samsul Maarif Kepala BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) Samsul Maarif.
Foto : Sentral FM.

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Perpaduan Macet dan Banjir di Kawasan Banyuurip-Simo

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Perpaduan Hujan dan Macet di Jalan Ahmad Yani

Surabaya
Sabtu, 3 Januari 2026
27o
Kurs