Petani pisang kirana asal Lumajang memulai memasuki pasar ekspor ke Singapura. Tapi transportasi laut yang memerlukan waktu hingga sembilan hari menjadikan produk unggulan Lumajang ini rawan busuk sehingga tak bisa dipasarkan.
“Butuh waktu 8 sampai 9 hari perjalanan laut dengan kapal yang mengangkut container. Setiba di Singapura harus dilakukan bongkar dan pemeriksaan quality control,” kata As’at Malik, Wakil Bupati Lumajang kepada Sentral FM, Sabtu (24/5/2015).
Lamanya proses pengiriman inilah yang menjadikan pisang kirana rawan busuk. Bahkan pengiriman perdana 1 kontainer pisang kirana yang dilakukan beberapa waktu lalu 10 persennya ternyata membusuk.
“Kita upayakan konsultan guna menerapkan tehnologi pengepakan yang lebih baik agar jangan sampai produk ini busuk. Apalagi saat ini permintaan pengirimannya sudah 2 hari sekali. Kita sendiri baru memenuhi 40 persen dari keseluruhan permintaan,” kata As’at Malik.
Opsi pengiriman melalui jalur udara, sebenarnya sempat difikirkan. Sayang mahalnya transportasi udara juga menjadi kendala tersendiri.
Sebagai jalan keluar, Kelompok Tani Pisang Mas Kirana rencannya akan berangkat ke Singapura untuk mempelajari bagaimana sistem packaging (pengemasan, red) hingga benar-benar steril dan memperpanjang usia busuk sampai ke tujuan. (her/fik)
Teks Foto :
– Potret pisang kirana asal Kabupaten Lumajang yang diekspor ke Singapura.
Foto : Sentral FM.
NOW ON AIR SSFM 100
