Sabtu, 3 Januari 2026

Musim Pendakian, Puluhan Porter Semeru Panen Rejeki

Laporan oleh Sentral FM Lumajang
Bagikan

Banyaknya jumlah pendaki di Gunung Semeru menjadi berkah tersendiri bagi tenaga porter, penunjuk jalan dan tenaga pembawa barang bagi pra pendaki.

Paringotan Sinambela, seorang tenaga porter asal Desa Ranu Pane, Kecamatan Senduro kepada Sentral FM, Selasa (27/5/2015), mengatakan bahwa di Desa Ranu Pane terdapat sekitar 40 orang yang berprofesi sebagai porter. Mereka diwadahi dalam satu paguyuban yang mendapatkan pembinaan rutin dari Resort TNBTS di Desanya.

“Termasuk juga, porter mendapatkan pelatihan dari SAR Kabupaten dan selalu berkoordinasi dengan TNBTS, kepolisian dan Kodim 0821 jika terjadi hal-hal tertentu. Semisal, ada pendaki yang tersesat atau kejadian lainnya,” kata dia.

Kata dia, ke-40 tenaga porter seluruhnya merupakan warga Desa Ranu Pane yang sehari-hari bekerja rutin sebagai petani sayur. Hanya saja, ketika musim pendakian dibuka dan ribuan pendaki berjejalan di seputaran Gunung Semeru, tenaga mereka banyak dibutuhkan para pendaki untuk mengantarnya naik ke puncak.

“Kami kemudian dihubungi oleh petugas di Resort TNBTS di Ranu Pane jika dibutuhkan mengantar pendaki. Para tenaga porter mendapatkan honor bervariasi antara Rp. 75 ribu sampai Rp. 80 ribu perharinya,” ujar dia.

“Tentu untuk naik ke puncak Semeru tidak cukup sehari. Makanya kerjanya seperti borongan, berapa hari dihitung sejak naik sampai kembali turun. Selama mengantar pendaki, kita juga bisa menjadi teman berbincang mereka dan menjaga keselamatan mereka,” terangnya.

Paringotan yang sudah puluhan tahun menjadi porter dan telah ratusan kali menjejak puncak Semeru mengatakan, di musim pendakian seperti ini seluruh tenaga porter di Desanya rata-rata telah diboocking mengantar pendaki. Hingga, saat ini cukup sulit mencari porter di sana.

“Paling-paling pendaki harus menunggu sampai ada porter yang turun. Makanya saat ini banyak porter yang naik-turun Semeru sampai beberapa kali untuk mengantar dan menjadi penunjuk jalan bagi para pendaki. Dan musim pendakian seperti saat ini, tenaga porter memang panen rejeki. Lumayan untuk kebutuhan keluarga di rumah,” katanya.

Bila musim pendakian rejeki melimpah, berbeda ketika jalur pendakian ditutup, tenaga porter terpaksa kembali ke pekerjaan lamanya bertani sayur. Hal itu dilakukan agar asap di dapur keluarganya tetap mengepul. Penghasilan bertani sayur memang tidak sepadan dengan mengantarkan pendaki.

“Ya kalau jalur pendakian di tutup, biasanya mulai November, maka kami tani sayuran lagi Mas. Penutupan jalur pendakian biasanya smapai 5 bulan. Selama itu, rejeki kami memang berkurang. Tapi kami masih bisa bertahan kok, karena memang pekerjaan lama kami bertani. Makanya ketika jalur pendakian di buka seperti ini, kami banyak-banyak menabung,”pungkas dia. (her/dwi)

Teks Foto :
– Potret pendakian Gunung Semeru.
Foto : Sentral FM.

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Perpaduan Macet dan Banjir di Kawasan Banyuurip-Simo

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Perpaduan Hujan dan Macet di Jalan Ahmad Yani

Surabaya
Sabtu, 3 Januari 2026
31o
Kurs