Perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Semeru sejauh ini masih tetap pada status Waspada (Level II) dan terpantau kian aktif.
Masyarakat yang berada di bantaran DAS (Daerah Aliran Sungai) di bawah kaki Gunung dengan ketinggian 3.676 meter diatas permukaan laut (mdpl) diimbau untuk tidak melakukan aktivitas, terutama ketika di kawasan puncak diguyur hujan lebat.
“Perkembangan sampai saat ini meskipun tetap pada status waspada, namun beberapa minggu yang lalu terjadi peningkatan. Istilahnya peningkatan aktivitas. Dilaporkan terjadi pertumbuhan kubah lava baru, guguran awan panas, lava pijar dan juga terjadi sinar api di puncak Semeru. Sehingga, saat tu kami mewaspadai agar tidak ada pendaki yang memperingati HUT Kemerdekaan Ri di Puncak Semeru,” kata Rochani, Ssos Kepala BPBD Kabupaten Lumajang ketika dikonfirmasi Sentral FM, Senin (25/8/2014).
“Hal ini mengacu adanya potensi lahar dingin yang sangat tinggi. Terutama, di DAS Kaliglidik, Kalimujur dan Kalirejali. Diharapkan, di ketiga DAS itu masyarakat untuk selalu waspada meningkatkan kewaspadaan apabila tiba-tiba terjadi banjir lahar dingin,” paparnya.
Sementara itu, untuk warga yang bermukim di sepanjang lereng Gunung Semeru, terutama di arah tenggar ayang mengarah ke kawasan Supit Urang dan Desa Oro-oro Ombo di Kecamatan Pronojiwo, untuk tidak melakukan aktifitas di radius 5 kilometer dari puncak Gunung Semeru.
Terkait dengan ancaman erupsi Gunung Semeru, Pemkab Lumajang sejauh ini juga telah mengupayakan berbagai hal, termasuk sosialisasi terhadap masyarakat. Untuk Tahun 2014 ini, BPBD Kabupaten Lumajang akan melakukan sosialisasi di berbagai wilayah di daerah rawan bencana.
“Menindaklanjuti apa yang disampaikan Kolonel Totok Imam Santoso Danrem 083 BDJ Malang saat Gladi Posko Bencana di halaman Karkas Kodim 0821 lalu, yang merekomendasikan digelar gladi lapang atau simulasi, kami akan mengagendakan Tahun 2015 mendatang. Hal ini sesuai anggaran yang ada,” tuturnya.
BPBD Kabupaten Lumajang menganggarkan untuk kegiatan gladi lapang dan simulasi erupsi Gunung Semeru, diprogramkan Tahun 2015 dengan lokasi di Desa Supit Urang. “Tahun 2014 ini, selain simulasi, kami menyelesaikan pembuatan dan pemberkasan rekontijensi bencana. Sebab, rekomentijensi bencana ini harus direview setiap 3 tahun sekali dan tahun 2014 ini harus diperbaharui kembali,” pungkas Rochani. (her/dwi)
Teks Foto :
– Potret Gunung Semeru.
Foto : Sentral FM.
NOW ON AIR SSFM 100
