Kamis, 1 Januari 2026
Antrian di SPBU Kian Panjang, Eceran Tembus Rp. 20 Ribu Perliter

Krisis BBM di Lumajang Semakin Parah

Laporan oleh Sentral FM Lumajang
Bagikan

Krisis BBM di Kabupaten Lumajang masih tetap berlangsung hingga hari ini, Jumat (29/8/2014). Bahkan, kelangkaan BBM yang terjadi semakin parah saja. Hal ini terbukti dengan semakin panjangnya antrian pembelian BBM di sejumlah SPBU yang ada di Kota Pisang ini.

Bahkan, distribusi BBM kepada masyarakat kian tidak seimbang dengan permintaan karena pembatasan pendistribusian BBM bersubsidi yang sampai hari ini masih terjadi.

Budiono Pengelola SPBU Bagusari di Jl. Mahakam, Kelurahan Jogotrunan, Kecamatan Kota Lumajang kepada Sentral FM mengatakan, sampai hari ini pngiriman DO BBM masih sama seperti hari sebelumnya. Belum ada penambahan DO untuk melayani permintaan masyarakat yang saat ini tetap tinggi dengan bukti antrian yang masih panjang.

“Pengiriman DO BBM jenis Premium masih tetap 24 ton, sedangkan untuk solar tetap dibatasi 8 ton saja setiap harinya. Belum ada penambahan dari Pertamina seperti yang diinformasikan akan dilakukan normalisasi. Padahal sebelum ada pembatasan, DO yang kami minta secara rutin, untuk Premium 32 ton dan Solar biasanya 10 sampai 12 ton,” kata Budiono.

Karena masyarakat saat ini, kata dia masih dilanda panic buying dan faktor minimnya ketersediaan BBM dihari-hari sebelumnya, maka antrian masih terjadi. “Bahkan, ada yang masih tetap menginap di SPBU kami. Mereka datang sejak malam dan tetap menunggu antrian untuk dilayani sampai pagi dan siang,” paparnya.

Kondisi ini diakui Ahmad Yunus (47), warga Desa Tempeh Lor, Kecamnatan Tempeh. Ia mengaku telah antri di SPBU Bagusari sejak malam sebelumnya dan sampai siang belum juga dilayani operator karena stok BBM habis.

“Malam tadi antrian panjang. Ketika hanya tinggal belasan antrian di depan saya sebelum dilayani, stok sudah habis. Terpaksa harus menunggu pengiriman lagi dari Pertamina. Terpaksa menginap dan sampai saat ini saya masih tetap menunggu antri,” kata Ahmad Yunus.

Krisis BBM ini, juga semakin memicu munculnya praktek penjualan BBM eceran dengan modus sedot tangki. Para pedagang BBM eceran, khususnya premium di Lumajang memanfaatkan kendaraan roda empat atau motor dengan tangki besar untuk membeli BBM lalu dijual kembali denan harga tinggi.

Dari pantauan Sentral FM, di Jl. Panjaitan, Kelurahan Citrodiwangsan, Kecamatan Kota Lumajang, ada pedagang premium eceran yang mematok harga perliter Rp. 20 ribu. Bahkan, pedagang ini juga menjual dengan ukuran setengah liter dengan harga Rp. 10 ribu.

Lain lagi dengan di Desa Kedungmoro, Kecamatan Kunir, dimana pedagang tak sungkan-sungkan langsung menyedot tangki pikup dan sebuah mobil Suzuki Carry yang baru membeli BBM untuk dijual lagi. Harganya dipatok Rp. 13 ribu perliternya. “Harganya ya segitu Mas, saya tidak memaksa,” kata Ny. Sugiharti, pedagang eceran tersebut seraya membantu suaminya sedot BBM dari tangki mobilnya. (her/rst)

Teks Foto :
– Krisis BBM di Lumajang yang semakin parah dengan antrian di SPBU yang kian panjang.

Foto : Sentral FM.

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Perpaduan Macet dan Banjir di Kawasan Banyuurip-Simo

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Perpaduan Hujan dan Macet di Jalan Ahmad Yani

Surabaya
Kamis, 1 Januari 2026
29o
Kurs