Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB mengimbau masyarakat agar selalu waspada akan gempa yang datang tiba-tiba. Menurutnya, korban terjadi bukan disebabkan oleh gempanya tapi oleh bangunan yang roboh. Imbauan tersebut terkait gempa 6,2 SR di Halmahera Barat pada pukul 05.12 WIB, Rabu (18/3/2015).
“Gempa memang bersifat mendadak, bisa kapan saja terjadi. Yang penting, saat terjadi gempa, segera keluar dari bangunan dan cari tempat yang aman. Jika kita berada di dalam bangunan tinggi segera berlindung pada konstruksi yang kuat. Hindari kaca-kaca dan benda lain yang mudah roboh. Latihan harus rutin dilakukan agar kita terbiasa merespon dengan benar saat terkena gempa,” ujar Sutopo dalam pesan singkatnya kepada suarasurabaya.net, Rabu (18/3/2015).
Sutopo mengatakan, masyarakat di Kota Ternate juga merasakan guncangan cukup kuat selama 3 sampai 5 detik. Bahkan di Kota Manado, masyarakat juga merasakan gempa. Tapi tidak ada kepanikan karena masyarakat sudah sering mengalami gempa. Sebagian masyarakat merespon dengan keluar dari rumah.
Menurut Sutopo, di wilayah ini adalah zona rawan tinggi gempa. Gempa yang terjadi akibat subduksi ganda dari lempeng laut Filipina di timur dan Erusasia di barat pada lempeng Laut Maluku. Adanya subduksi ganda tersebut melahirkan kompresi barat timur dengan laju 4 cm per tahun. Gempa 7,3 SR pernah terjadi di wilayah ini pada 15-11-2014 yang memicu dikeluarkannya peringatan dini tsunami.
Pusat gempa berada 115 km Barat Laut Halmahera Barat, Maluku Utara. Kekuatan gempa 6,2 SR dengan kedalaman 10 km di dasar laut. Walau tidak memicu potensi tsunami, guncangan dirasakan kuat di Halmahera Barat selama 5 detik. Hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa dan kerusakan bangunan akibat gempa tersebut. Aktivitas masyarakat berjalan dengan normal.(faz/iss/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
