10 tahun menjadi pegawai bank, Abdul Hadi harus menerima kenyataan bahwa tempat kerjanya memberlakukan potong gaji 50 persen akibat pandemi. Merasa sudah tak mencukupi, dia memutuskan untuk mengundurkan diri. Memutar otak, yang terpikirkan untuk dia lakukan adalah usaha makanan. “Karena pandemi semakin banyak yang susah makan, jualan makanan saya tidak boleh memberatkan, syukur-syukur bisa meringankan beban masyarakat yang terdampak.” ujarnya. Setelah mengonsep hitung-hitungan secara matematis, akhirnya pilihan jatuh ke nasi goreng. Dengan harga jual 4.000 rupiah perporsi, kalau sehari laku 200 porsi, keuntungannya sudah cukup untuk menyamai gaji bulanannya di bank.
Ternyata nasib baik berpihak padanya, usaha yang dinamai Depot Kang H, sejak hari pertama buka, penjualannya jauh melampaui 200 porsi perhari seperti yang ditargetkan. Banner besar Nasi Goreng 4000 rupanya menarik minat warga yang melintasi lapaknya di Jalan Kedung Mangu Masjid untuk mencicipinya. Kini, lima bulan berikutnya, tiga cabang sudah dia buka. Dan sebagai wujud syukur serta komitmen awal membuka usaha makanan untuk meringankan beban warga akibat pagebluk, tiap hari Jumat Depot Kang H membagikan 600 porsi nasi goreng gratis.
Pekerjaan rumah yang sekarang menjadi tanggungan besarnya adalah menjaring pelanggan baru dan meyakinkan ke mereka bahwa 4.000 rupiah bisa untuk seporsi makanan yang layak dengan rasa enak. “Karena kami menggunakan bahan premium layaknya nasi goreng umumnya. Bukan murah lantas kualitas asal-asalan. Hanya kuantitasnya saja yang sedikit berbeda.” Dia juga berinovasi dengan tambahan menu-menu lain seperti capcay dan nasi gila. (Foto: Anton suarasurabaya.net)




