Sabtu, 10 Januari 2026

China Layangkan Protes karena AS Incar 50 Juta Barel Minyak Venezuela

Laporan oleh Akira Tandika Paramitaningtyas
Bagikan
Kilang Minyak Petroleos de Venezuela Bajo Grande di Kompleks Kilang Paraguana. Foto: Bloomberg

Pemerintah China menyatakan keberatan atas rencana Amerika Serikat untuk memperoleh 30 hingga 50 juta barel minyak dari Venezuela menyusul penangkapan Presiden Nicolas Maduro.

“Venezuela adalah negara berdaulat dan memiliki kedaulatan penuh serta permanen atas seluruh sumber daya alam dan kegiatan ekonominya. Permintaan Amerika Serikat melanggar hukum internasional, melanggar kedaulatan Venezuela, dan merusak hak-hak rakyat Venezuela,” kata Mao Ning Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, melansir Antara, Kamis (8/1/2026).

Sebelumnya, Donald Trump Presiden AS mengumumkan bahwa otoritas sementara Venezuela telah menyepakati penyerahan antara 30 hingga 50 juta barel minyak kepada AS.

Trump mengatakan minyak itu akan dijual pada harga pasar, dan hasilnya akan dikontrol untuk memastikan penggunaan yang bermanfaat bagi rakyat Venezuela dan AS.

Padahal berdasarkan data dari perusahaan minyak nasional Venezuela, Petroleos de Venezuela s.a. (PDVSA), negara tersebut mengekspor 952.000 barel per hari pada November 2025, sebelum blokade militer AS yang dimulai pada Desember 2025.

Dari jumlah tersebut, 778.000 barel dikirim ke Tiongkok, memberikan Beijing pangsa 81,7 persen dari ekspor minyak Venezuela.

Produksi minyak harian Venezuela pada 2025 diketahui sekitar 1,1 juta barel per hari atau jauh berkurang dari produksi tahun 1970-an yang mencapai 3,5 juta barel minyak per hari akibat masalah tata kelola, kurangnya investasi infrastruktur, dan dampak sanksi.

Minyak Venezuela menyumbang sekitar 4 persen dari total impor minyak China yang sebagian besar sumber minyaknya berasal dari negara-negara di kawasan Timur Tengah, serta Rusia.

“Kerja sama antara China dan Venezuela adalah kerja sama antara dua negara berdaulat dan berada di bawah perlindungan hukum internasional dan hukum yang relevan. Hak dan kepentingan sah China di Venezuela harus dilindungi,” tambah Mao Ning.

AS, ungkap Mao Ning, telah lama memberlakukan sanksi sepihak ilegal terhadap industri minyak Venezuela dan secara terang-terangan menggunakan kekuatan terhadap Venezuela baru-baru ini.

“Ini telah memberikan pukulan telak terhadap tatanan ekonomi dan sosial di Venezuela dan mengancam stabilitas rantai industri dan pasokan global. China telah mengutuk keras hal ini,” ungkap Mao Ning.

Ia pun menegaskan bahwa kerja sama antara China dan Venezuela adalah kerja sama antara negara-negara berdaulat dan dilindungi oleh hukum internasional dan hukum kedua negara.

Trump turut menyampaikan bahwa ia telah meminta Menteri Energi AS, Chris Wright, untuk segera melaksanakan rencana tersebut.

Menurut dia, minyak itu akan diangkut menggunakan kapal penyimpanan dan dikirim langsung ke dermaga-dermaga bongkar muat di Amerika Serikat.

Sebelumnya pada Senin (5/1/2026), Trump menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan minyak Amerika sangat tertarik untuk bekerja di Venezuela dan siap menanamkan investasi dalam infrastruktur negara Amerika Latin tersebut.

Venezuela sendiri memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, diperkirakan mencapai 303 miliar barel, yang mencakup sekitar 17 persen dari cadangan terbukti global.

Menurut American Enterprise Institute, China telah menginvestasikan 2,1 miliar dolar AS ke industri minyak Venezuela sejak 2016.

Data Morgan Stanley menunjukkan bahwa China National Petroleum Corporation (CNPC) memegang saham dalam konsorsium dengan konsesi yang mencakup 1,6 miliar barel minyak, sementara China Petroleum & Chemical Corporation (Sinopec) memegang saham yang mencakup 2,8 miliar barel.

Beberapa perusahaan swasta China juga mempertahankan investasi skala besar dalam ekstraksi minyak.

Selama kunjungan Maduro ke China pada 2023, hubungan bilateral ditingkatkan menjadi “kemitraan strategis dalam segala keadaan,” dan Maduro mencari dukungan Beijing untuk partisipasi Venezuela dalam blok BRICS yang sedang berkembang.

Namun pada 3 Januari 2025, AS melancarkan serangan besar terhadap Venezuela, menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, serta membawa mereka ke New York. Keduanya diadili pada Senin (5/1/2026) atas dugaan keterlibatan dalam kejahatan terorisme narkoba dan konspirasi untuk mengimpor kokain serta dianggap sebagai ancaman, termasuk bagi AS.

Pemerintahan Trump menggambarkan operasi itu sebagai bagian dari penegakan kembali Doktrin Monroe dan upaya memberantas dugaan perdagangan narkoba serta korupsi, sekaligus memperkuat pengaruh AS atas cadangan minyak besar Venezuela.(ant/kir/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Sabtu, 10 Januari 2026
24o
Kurs