Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan Senin (12/1/2026) melemah 28 poin atau 0,17 persen menjadi Rp16.847 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp16.819 per dolar AS.
Lukman Leong analis mata uang memperkirakan kurs rupiah menguat seiring pemerintahan AS membuka penyelidikan kriminal terhadap Jerome Powell Ketua The Fed.
“Trump membuka penyelidikan kriminal atas Powell. Ini membuat indeks dolar AS turun cukup tajam, sehingga rupiah berpotensi menguat,” ucapnya dilansir dari Antara.
Sebelumnya, Federal Reserve mengonfirmasi pada Minggu (11/1/2025) malam bahwa jaksa federal AS sedang menyelidik Powell terkait proyek renovasi kantor pusat bank sentral senilai miliaran dolar.
Dalam pernyataan publik yang diunggah di situs web Federal Reserve, Powell mengatakan Departemen Kehakiman pada Jumat (9/1/2026) telah mengirimkan surat panggilan pengadilan kepada Fed, “mengancam dakwaan pidana terkait kesaksian saya di hadapan Komite Perbankan Senat Juni lalu. Kesaksian itu sebagian berkaitan dengan proyek multi-tahun untuk merenovasi gedung-gedung kantor Federal Reserve yang bersejarah.”
Menurut Ketua The Fed, tindakan tersebut yang belum pernah terjadi sebelumnya harus dilihat dalam konteks lebih luas dari tekanan berkelanjutan pemerintah.
“Tindakan ini dianggap intervensi atas independensi bank sentral The Fed. Saat ini, reaksi pasar cukup besar, namun bisa juga hanya sesaat, rupiah bisa volatile kedua arah,” kata Lukman.
Di sisi lain, data-data ekonomi AS secara umum masih lebih kuat dari perkiraan.
Tercatat, pasar tenaga kerja menambah 50 ribu lapangan kerja, di bawah ekspektasi 60 ribu. Namun, tingkat pengangguran turun menjadi 4,4 persen pada Desember 2025, lebih rendah dari dugaan 4,5 persen.
Data izin pembangunan perumahan AS juga naik menjadi 1,41 juta dari ekspektasi 1,35 juta. Begitu pula dengan tingkat kepercayaan konsumen yang mencapai 54, lebih kuat dari estimasi 53,5. (ant/saf/iss)
NOW ON AIR SSFM 100
