Senin, 12 Januari 2026

Trump Ancam Kuba: Buat Kesepakatan atau Hadapi Konsekuensi

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Donald Trump Presiden AS berada di Resor Mar-a-Lago di Palm Beach, Florida untuk menyaksikan operasi militer di ibu kota Venezuela, Caracas pada Sabtu (3/1/2026). Foto: Gedung Putih

Donald Trump Presiden Amerika Serikat (AS) melontarkan peringatan keras kepada Kuba, menyatakan bahwa pulau Karibia itu tidak akan lagi menerima minyak atau uang dari Venezuela.

Ancaman ini muncul di tengah ketegangan yang meningkat setelah pasukan AS menggulingkan pemimpin Venezuela, Nicolás Maduro.

“TIDAK AKAN ADA LAGI MINYAK ATAU UANG YANG AKAN MASUK KE KUBA – NOL! Saya sangat menyarankan mereka membuat kesepakatan, SEBELUM TERLAMBAT,” tulis Trump di platform Truth Social, Minggu (11/01/2026) waktu setempat. Trump tidak merinci bentuk kesepakatan yang dimaksud.

Venezuela, pemasok utama minyak bagi Kuba, kini tidak mengirimkan kargo minyak apa pun ke negara Karibia tersebut setelah blokade AS semakin ketat pasca penangkapan Maduro. Puluhan personel keamanan dari kedua negara tewas dalam serangan pasukan AS.

Dilansir dari The Guardian, Trump menegaskan, “Kuba siap untuk jatuh. Tanpa minyak Venezuela yang murah, akan sulit bagi Havana untuk bertahan.”

Miguel Diaz-Canel Pemimpin Kuba menanggapi ancaman tersebut dengan tegas. “Kuba adalah negara yang bebas, merdeka, dan berdaulat. Tidak ada yang bisa mendikte kami. Kami siap membela tanah air hingga tetes darah terakhir,” tulis Diaz-Canel di X.

Trump juga menyoroti hubungan antara Kuba dan Venezuela dalam beberapa dekade terakhir. “Selama bertahun-tahun, Kuba hidup dengan jumlah besar minyak dan uang dari Venezuela. Sebagai imbalannya, mereka menyediakan ‘Layanan Keamanan’ untuk dua diktator terakhir Venezuela. TETAPI TIDAK LAGI!” tulisnya.

Beberapa anggota Partai Republik mendukung pernyataan Trump. Mario Díaz-Balart, anggota Kongres AS dari Florida, mengatakan, “Setelah puluhan tahun penderitaan dan kesengsaraan, rezim di Havana akan segera berakhir.”

Sementara itu, Caracas dan Washington tengah merundingkan kesepakatan senilai 2 miliar dolar AS untuk memasok hingga 50 juta barel minyak Venezuela ke AS. Hasil penjualan akan disetorkan ke rekening yang diawasi Departemen Keuangan AS, menjadi ujian bagi hubungan Trump dengan presiden sementara Venezuela, Delcy Rodríguez.

Ancaman dan ketegangan ini terjadi bersamaan dengan peringatan Departemen Luar Negeri AS bagi warganya untuk segera meninggalkan Venezuela. Peringatan menyebut kelompok paramiliter pro-rezim sedang berupaya melacak warga AS.

Menanggapi hal ini, Kementerian Luar Negeri Venezuela membantah, menyebut informasi AS sebagai laporan palsu. “Venezuela berada dalam keadaan tenang, damai, dan stabil sepenuhnya. Pemerintah adalah penjamin kekuatan sah dan ketenangan rakyat,” jelas kementerian tersebut. (ant/saf/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Senin, 12 Januari 2026
27o
Kurs