Senin, 12 Januari 2026

Banjir Melanda Lamongan, 1.706 Rumah di Enam Kecamatan Tergenang Air

Laporan oleh Wildan Pratama
Bagikan
Banjir akibat luapan Sungai Bengawan Jero di Desa Bojoasri, Kecamatan Kalitengah, Kabupaten Lamongan. Foto: Tangkapan layar video kiriman pendengar Suara Surabaya

Banjir akibat luapan sungai Bengawan Solo di Kabupaten Lamongan berdampak terhadap 1.706 rumah di enam kecamatan hingga Senin (12/1/2026) dengan ketinggian antara 5 hingga 80 sentimeter.

Gatot Soebroto Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur mengatakan enam wilayah terdampak itu antara lain Kecamatan Kalitengah, Turi, Karangbinangun, Deket, Glagah dan satu Kecamatan Lamongan yang dilaporkan sudah mulai surut.

“Untuk lamongan hingga hari ini masih tergenang air. 1.706 rumah yang terdampak di 6 kecamatan,” ujar Gatot dikonfirmasi suarasurabaya.net, Senin (12/1/2026).

Berdasarkan analisa Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, enam wilayah yang terdampak banjir tersebut merupakan daerah cekungan sehingga rentan dengan genangan.

Sementara itu, Gatot mengatakan kondisi debit air Sungai Bengawan Solo dari laporan BBWS terpantau naik pada hari ini.

Untuk itu, lanjut Gatot, Pintu Air Kuro yang berfungsi sebagai pengendalian banjir dan irigasi terus dimaksimalkan untuk penyedotan dan pembuangan air ke Bengawan Solo tanpa membuka pintu airnya.

Apabila Pintu Kuro dibuka maka air Bengawan Solo bisa masuk ke kali Bengawan Njero dan dikhawatirkan menambah debit air yang berdampak ke pemukiman.

“Ini akan menambah debit air bengawan njero dan berakibat semakin tingginya genangan di kediaman warga,” jelasnya.

Di sisi lain pada Sabtu (10/1/2026) kemarin, Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jatim meninjau langsung dampak banjir dan Salurkan Bantuan di Desa Laladan, Kecamatan Deket, Kabupaten Lamongan.

Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jatim saat meninjau banjir di Kecamatan Deket, Kabupaten Lamongan. Foto: Humas Pemprov Jatim

Khofifah mengatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Lamongan telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi selama 14 hari sebagai langkah kesiapsiagaan menghadapi potensi cuaca ekstrem.

Gubernur Jatim itu memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun ia menegaskan bahwa semua jajaran stakeholder harus tetap waspada menghadapi potensi cuaca ekstrem.

“Keselamatan warga tetap menjadi prioritas utama,” tegasnya.

Terkait kondisi cuaca, Khofifah menjelaskan bahwa berdasarkan data BMKG Juanda, potensi peningkatan curah hujan pada awal tahun 2026 terpantau cukup signifikan.

Untuk itu Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah melakukan berbagai langkah mitigasi, salah satunya melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang telah dilaksanakan sejak 5 Desember 2025.

“Upaya ini kami lakukan sebagai bentuk ikhtiar lahir, yang tentu kami iringi dengan doa dan kerja bersama di lapangan,” tuturnya.(wld/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Senin, 12 Januari 2026
24o
Kurs