Selasa, 13 Januari 2026

IHSG Ditutup Menguat, Investor Tunggu Arah Kebijakan The Fed

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Ilustrasi indeks saham. Foto: Shutterstok

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat pada Selasa (13/1/2026) sore, dipengaruhi oleh perhatian pelaku pasar terhadap arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed).

IHSG naik 63,58 poin atau 0,72 persen ke level 8.948,29, sementara indeks LQ45 bertambah 12,31 poin atau 1,42 persen menjadi 878,86.

“Sentimen eksternal dan internal menopang laju indeks IHSG yang bergerak variatif,” ujar Maximilianus Nico Demus pakar pasar saham dilansir dari Antara.

Dari mancanegara, Nico mengatakan pelaku pasar cenderung menantikan kondisi makroekonomi AS yaitu laporan inflasi terbaru, untuk mendapatkan petunjuk tentang arah kebijakan The Fed selanjutnya.

Pelaku pasar memperkirakan dua kali penurunan suku bunga oleh The Fed pada tahun ini mulai Juni 2026.

“Meskipun kejutan positif dalam inflasi dapat membatasi ruang gerak bank sentral untuk melonggarkan kebijakan,” ujarnya.

Sebelumnya, laporan penggajian non-pertanian pada pekan lalu menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS berada di bawah perkiraan untuk Desember 2025, yang memperkuat prospek lebih lunak untuk kebijakan The Fed.

Dari kawasan Asia, Jepang melaporkan surplus neraca transaksi berjalan meningkat menjadi 3.674,1 miliar Yen pada November 2025, dari sebelumnya 3.338,9 miliar Yen pada periode sama tahun sebelumnya, melampaui ekspektasi pasar sebesar 3.594 miliar Yen.

Dari dalam negeri, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto akan melanjutkan sejumlah kebijakan stimulus pada 2026, yang berfokus pada program magang, insentif PPh final UMKM, PPh DTP, PPN DTP perumahan, serta diskon iuran JKK/JKM.

Nico mengatakan paket stimulus sebagai upaya pemerintah untuk menjaga daya konsumsi rumah tangga, sehingga akan menopang ketahanan ekonomi dalam negeri.

Di sisi lain, menurut dia, ada potensi tekanan pasar seiring aksi profit taking, serta sentimen lainnya yaitu rilis Citigroup yang memproyeksikan defisit fiskal Indonesia tahun 2026 akan melambat dari batas aman dan di proyeksikan mencapai 3,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sedangkan aturan fiskal Indonesia defisit sebesar 3 persen dari PDB.

“Tentunya ini akan berdampak pada perlambatan ekonomi secara keseluruhan,” ujar Nico.

Dibuka menguat, IHSG bergerak ke teritori negatif hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua IHSG kembali bergerak ke zona hijau hingga penutupan perdagangan saham.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tujuh sektor menguat yaitu dipimpin sektor barang baku yang naik sebesar 2,05 persen, diikuti oleh sektor industri dan sektor properti yang naik masing-masing sebesar 1,87 persen dan 0,64 persen.

Sedangkan, empat sektor melemah yaitu sektor barang konsumen non primer turun paling dalam sebesar 2,11 persen, diikuti oleh sektor transportasi & logistik dan sektor energi yang turun masing- masing sebesar 0,94 persen dan 0,68 persen.

Adapun saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu SOLA, ASPR, MBMA, WEHA dan APLN. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni DKHH, VICI, DEWA, GTSI dan NINE.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 3.805.222 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 52,89 miliar lembar saham senilai Rp33,41 triliun. Sebanyak 348 saham naik 327 saham menurun, dan 131 tidak bergerak nilainya.

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei menguat 1.531,20 poin atau 2,93 persen ke posisi 53.461,10, indeks Hang Seng menguat 239,99 poin atau 0,90 persen ke posisi 26.848,47, indeks Shanghai melemah 26,53 poin atau 0,64 persen ke posisi 4.138,75, dan indeks Straits Times menguat 40,35 poin atau 0,85 persen ke 4.807,12. (ant/saf/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Selasa, 13 Januari 2026
24o
Kurs