Ashley Kitchens, ahli gizi dari North Carolina menjelaskan pasta yang telah mengalami proses pendinginan dan pemanasan ulang setelah disimpan semalaman dapat mengubah kandungan pati menjadi resisten dan lebih sulit dicerna tubuh.
Melansir Antara, dia juga menjelaskan bahwa pati resisten bekerja seperti serat yang menjadi sumber nutrisi bakteri baik di usus karena tidak bisa dicerna cepat.
Proses pemanasan ulang setelah disimpan dalam pendingin mampu menimbulkan dampak yang lebih sehat dari sisi kadar gula dalam darah. Katanya, kandungan gula pasta yang sudah disimpan dan dipanaskan ulang lebih sedikit dibandingkan pasta yang baru matang.
Pemasakan pasta membuat kandungan pati mengalami gelatinisasi, yang membuatnya mudah dicerna. Setelah disimpan sekitar 24 jam, sebagian pati berubah struktur dan tidak bisa dipecahkan sepenuhnya oleh tubuh.
Ahli gizi dari The Ohio State University Wexner Medical Center mengatakan, pasta yang simpan semalaman dan dipanaskan menghasilkan kalori dan gula darah yang lebih rendah saat dimakan.
Penelitian di Inggris dari Universitas Surrey menunjukkan, penurunan kadar gula darah dan respon insulin setelah mengonsumsi pasta yang telah didinginkan dan dipanaskan kembali, khususnya pasta yang dimasak al dente.
Al dente adalah istilah kuliner Italia untuk tingkat kematangan pasta atau nasi yang ideal. Tingkat kematangannya memberikan tekstur yang kenyal saat digigit. (lea/ham)
NOW ON AIR SSFM 100
