Kamis, 15 Januari 2026

Wawasan Polling Suara Surabaya: Masyarakat Setuju Kalau Orang dengan Kebiasaan Merokok Termasuk Redflag Besar

Laporan oleh Akira Tandika Paramitaningtyas
Bagikan
Ilustrasi menghancurkan rokok. Foto: Medical News Today

Merespons statement Budi Gunadi Sadikin Menteri Kesehatan terkait kebiasaan merokok masyarakat, Radio Suara Surabaya melakukan polling ke pendengar dengan tajuk, “Anda SETUJU atau TIDAK dengan Pernyataan Menteri Kesehatan Kalau Kebiasaan Merokok itu Redflag Besar?”.

Polling ini diambil dari media sosial Instagram @suarasurabayamedia dan secara langsung lewat pesan serta telepon yang masuk saat program Wawasan Polling berlangsung sejak pukul 07.00 hingga 09.00 WIB.

Dalam diskusi di program Wawasan Polling Suara Surabaya, Kamis (15/1/2026), respons masyarakat kompak menyebut orang yang memiliki kebiasaan merokok termasuk redflag besar.

Berdasar data dari pendengar Radio Suara Surabaya yang bergabung melalui telepon dan pesan WhatsApp, sebanyak 68 persen atau 153 pendengar setuju kalau orang dengan kebiasaan merokok termasuk redflag besar. Sedangkan 32 persen sisanya atau 73 pendengar mengaku tidak setuju.

Kemudian data dari Instagram @suarasurabayamedia, sebanyak 83 persen atau 433 pengguna setuju kalau orang dengan kebiasaan merokok termasuk redflag besar. Sedangkan 17 persen sisanya atau 88 penguuna mengaku tidak setuju.

Mengenai pengaruh rokok pada kesehatan masyarakat, dr. Desak Gede Agung Suprabawati Sp.B (K) Onk Kepala Pusat Pengembangan dan Layanan Kanker RSUD Dr Soetomo menerangkan, sejumlah penyakit khususnya kanker membutuhkan proses yang lama untuk tumbuh di sel tubuh manusia.

“Kalau rokok menjadi satu-satunya penyebab kanker bisa bertumbuh, itu kurang tepat. Tapi, rokok menyebabkan terjadinya mutasi genetik lebih mudah terjadi,” katanya, saat onair di Radio Suara Surabaya, Kamis (15/1/2026).

Dokter Desak membenarkan bahwa rokok, baik yang menghisap ataupun yang menerima asapnya, risiko kanker payudara dan serviks yang dimiliki seseoramg tetap bisa naik hingga 40 persen.

Hal itu karena karsinogen, yang terkandung dalam rokok seperti, nikoten dan tar, tetap bisa menyebar ke seluruh tubuh.

“Meskipun kanker payudara dan serviks itu tidak ada hubungan langsung dengan saluran pernapasan, tapi perubahan mutasi tetap terjadi di dalam tubuh. Asap yang mengandung karsinogen ini tetap bisa melakukan peruahan genetik. Tergantung dari organ mana yang lebih peka,” jelasnya.

Dia juga menjelaskan terkait risiko kanker lebih besar menurun pada anak perempuan dari sang ayah. Menurutnya, ini salah satu mitos yang salah kaprah.

Untuk membuktikan keturunan dalam keluarga itu juga menderita kanker atau tidak, perlu dilakukan pemeriksaan dan pembuktian.

“Banyak sekali mitos-mitos yang saya temui di lapangan. Ini yang kadang-kadang menyulitkan kerja kami para klinisi untuk melakukan tindakan,” ungkapnya.

Sehingga dr. Desak mengimbau masyarakat untuk banyak menerima edukasi terkait kesehatan. Karena menurutnya, beban penanganan kanker tidak bisa hanya bersandar pada tenaga medis.

Dia menilai, semua pihak harus saling bergandengan dan memberdayakan semua sektor untuk mengentaskan masyarakat dari kebiasaan merokok.

Diberitakan sebelumnya, Budi Gunadi Sadikin Menteri Kesehatan (Menkes) meminta perempuan tidak menjalin hubungan dengan pria perokok. Menurutnya, kebiasaan merokok termasuk dalam red flag besar, karena dampaknya tidak hanya merusak kesehatan perokok aktif, tapi juga membahayakan pasangan yang terpapar asap rokok.

Budi menambahkan, perempuan sering jadi korban tanpa sadar akibat paparan asap rokok dari pasangan. Risiko kesehatan yang muncul bukan hal sepele, mulai dari gangguan pernapasan hingga peningkatan risiko kanker yang mematikan.

Menkes menjelaskan, ketika seorang pria merokok, dampaknya tidak berhenti pada dirinya sendiri. Asap rokok yang terhirup pasangan, dapat menjadikan perempuan sebagai perokok pasif. Bahkan thirdhand smoker, akibat residu zat berbahaya yang menempel di berbagai permukaan.

Menkes menekankan bahwa perempuan memiliki peluang untuk melakukan pencegahan sejak dini.

Pemerintah sudah menyediakan layanan skrining kanker secara gratis, melalui program Cek Kesehatan Gratis di Puskesmas. Layanan mencakup pemeriksaan payudara klinis, USG payudara, serta tes HPV DNA untuk deteksi dini kanker serviks.(kir/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Kamis, 15 Januari 2026
25o
Kurs